Kakatua Jambul Kuning di Hong Kong: Populasi Kecil yang Menjadi Harapan Konservasi Global
Baca dalam 60 detik
- Sekitar 200 ekor kakatua jambul kuning hidup di taman kota Hong Kong, mewakili 10% populasi global spesies yang kritis.
- Penelitian Universitas Hong Kong mengungkap keragaman genetik tinggi pada populasi ini, berpotensi menjadi penyangga genetik untuk konservasi.
- Proyek kotak sarang buatan dengan kamera langsung berhasil menetaskan satu anak, membuka peluang kolaborasi dengan sekolah dan korporasi.

Di tengah hiruk-pikuk metropolis Hong Kong, sekawanan kakatua jambul kuning—spesies yang terancam kritis dengan populasi liar kurang dari 2.000 ekor—menemukan tempat berlindung yang tak lazim: taman-taman kota yang padat. Keberadaan mereka di kawasan seperti Victoria Park dan Hong Kong Park bukan sekadar pemandangan eksotis, melainkan menyimpan harapan baru bagi kelangsungan spesies ini di tengah krisis kepunahan global.
Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal akademik Evolutionary Applications mengungkap fakta mengejutkan: populasi kakatua di Hong Kong, yang merupakan spesies introduksi, memiliki keragaman genetik yang jauh lebih tinggi dari perkiraan. Astrid Andersson, penulis utama studi dari Universitas Hong Kong, menyebut populasi ini berpotensi menjadi "cadangan genetik" yang krusial. "Ini bisa berfungsi sebagai populasi cadangan bagi spesies yang sangat terancam punah ini," ujarnya, menekankan peran strategis kota tersebut dalam upaya konservasi global.
Kakatua jambul kuning, yang habitat aslinya berada di Indonesia dan Timor Leste, mengalami penurunan drastis akibat perburuan liar untuk perdagangan hewan peliharaan dan hilangnya habitat. Saat ini, sebagian besar populasi liar tersebar di berbagai pulau di Indonesia. Di tengah kondisi memprihatinkan itu, sekitar 200 ekor kakatua di Hong Kong—sekitar 10 persen dari populasi global—menjadi angka yang signifikan. Andersson menilai jumlah ini "ideal" dibandingkan dengan situasi di beberapa pulau di Indonesia, meski tetap rentan.
Fenomena uniknya, burung dengan bulu putih mencolok ini justru memilih kawasan ramai di Pulau Hong Kong daripada pedesaan. Taman-taman kota dengan pohon-pohon tua yang besar menyediakan sumber makanan melimpah—buah, kacang, biji, daun, dan bunga—serta lubang-lubang alami yang ideal untuk bersarang. "Mereka menemukan banyak makanan di taman-taman kota ini," jelas Andersson, seraya menambahkan bahwa pohon-pohon besar di lokasi tersebut menawarkan tempat bersarang yang sempurna.
Untuk memantau dan mendukung populasi ini, tim peneliti berkolaborasi dengan seorang arborist lokal merancang kotak sarang buatan. Kotak-kotak ini dipasang di area yang sering dikunjungi kakatua, dengan prioritas pada lokasi yang kehilangan sarang alami akibat topan atau pemangkasan pohon demi keamanan. Lebih dari selusin kotak telah dipasang di berbagai lokasi, termasuk taman kota dan sekolah. Desainnya disesuaikan dengan iklim Hong Kong yang panas dan curah hujan ekstrem, serta dilengkapi kamera untuk memantau aktivitas burung—meski kakatua yang memiliki paruh kuat sering merusak perangkat tersebut.
Keterlibatan masyarakat, terutama generasi muda, menjadi kunci keberhasilan proyek ini. Winster Wong, seorang guru di St. Louis School, menginisiasi pemasangan dua kotak sarang di sekolahnya setelah melihat perilaku bersarang sepasang kakatua di pohon kampus. "Kami ingin siswa terlibat, bukan sekadar penonton," katanya. Sekolah berencana menjalin kemitraan dengan Universitas Hong Kong untuk mengembangkan kegiatan lintas disiplin yang profesional namun mudah diakses siswa. Dampaknya terasa nyata: siswa seperti Rooney Cheung yang memotret kakatua di sarang buatan dan Owen Yu yang membangun model habitat, menunjukkan perubahan persepsi dari sekadar gangguan menjadi kepedulian terhadap alam.
Keberhasilan proyek ini—dengan setidaknya satu anak kakatua yang menetas—menjadi bukti nyata bahwa konservasi dapat berjalan di tengah urbanisasi. Andersson optimistis dan berencana memperluas jumlah kotak sarang hingga sekitar 50 unit, serta menjalin kerja sama dengan lebih banyak sekolah, korporasi, dan individu. Namun, pertanyaan mendasar tetap menggantung: dapatkah model konservasi perkotaan seperti ini direplikasi di Indonesia, negara asal spesies ini, yang justru menghadapi tantangan perburuan dan kerusakan habitat yang jauh lebih besar?



