Rudal Rusia Hantam Kyiv, Sembilan Tewas dan Puluhan Terluka: Ukraina Kian Terdesak di Pertahanan Udara
Baca dalam 60 detik
- Serangan rudal balistik Rusia ke Kyiv pada Sabtu pagi menewaskan sembilan warga sipil dan melukai 28 lainnya, termasuk empat anak-anak.
- Serangan ini menegaskan eskalasi taktik Rusia yang beralih ke teror udara di tengah kebuntuan di garis depan, sementara Ukraina kekurangan sistem pertahanan rudal.
- Krisis ini menyoroti urgensi tambahan sistem pertahanan udara untuk Ukraina, yang menurut para analis akan menentukan arah perang ke depan.

Rusia kembali melancarkan serangan rudal balistik ke ibu kota Ukraina, Kyiv, pada Sabtu (1/8) dini hari, menewaskan sedikitnya sembilan warga sipil dan melukai 28 lainnya, termasuk empat anak-anak. Ledakan beruntun mengguncang kota selama beberapa gelombang serangan, menurut saksi mata Reuters, memicu kebakaran dan pemadaman listrik di sejumlah wilayah.
Menteri Luar Negeri Ukraina, Andrii Sybiha, dalam pernyataan di platform X, menyebut malam itu sebagai "neraka di Kyiv". Ia menegaskan bahwa Rusia, yang gagal mencapai tujuannya di medan perang, kini mengintensifkan serangan udara dan teror terhadap warga sipil. "Ukraina sangat membutuhkan sistem pertahanan udara dan rudal tambahan," ujarnya, seperti dikutip Reuters.
Serangan ini merupakan yang kedua kalinya dalam sepekan setelah pada Kamis lalu rudal Rusia menewaskan sembilan orang, termasuk enam anggota satu keluarga di desa dekat Kryvyi Rih, dan sebuah rudal jelajah yang diduga milik Rusia jatuh di wilayah Polandia. Kejadian tersebut memicu kekhawatiran akan meluasnya konflik ke negara-negara tetangga NATO.
Jaksa Agung Ukraina melaporkan kerusakan tercatat di tujuh distrik di Kyiv, kota berpenduduk sekitar tiga juta jiwa. Tujuh korban tewas berada di distrik Darnytskyi di tepi kiri Sungai Dnipro, sementara dua lainnya di distrik Solomyanskyi di tepi kanan. Selain itu, 28 orang terluka, termasuk empat anak yang menderita luka serpihan dan laserasi.
Serangan rudal balistik yang meluncur dengan kecepatan beberapa kali lipat kecepatan suara ini menjadi tantangan besar bagi pertahanan udara Ukraina yang kronis kekurangan sistem pencegat. Militer Rusia, di sisi lain, terus meningkatkan serangan ke kota-kota besar Ukraina, sementara di garis depan sepanjang lebih dari 1.200 kilometer, laju kemajuan pasukan Rusia melambat lebih dari setengahnya tahun ini, menurut analis militer.
Seorang warga Kyiv, Nadiia Komarova (68), yang bekerja sebagai petugas kebersihan di sebuah apartemen, menuturkan kepada Reuters bahwa ia terbangun oleh sirene pada pukul 1.30 dini hari. "Saya langsung bangun, dan saat itu juga ledakan mulai terjadiโboom, boom," katanya. "Langit-langit mulai runtuh, jendela pecah, dan semua barang berjatuhan ke dalam."
Rekaman televisi Reuters memperlihatkan petugas polisi dan tim penyelamat bekerja di lokasi. Dua petugas memasukkan jenazah ke dalam kantong hitam, sementara petugas pemadam kebakaran berusaha memadamkan api di dekat sebuah gedung apartemen dengan mobil-mobil hangus di sekitarnya.
Bagi Indonesia, konflik yang berk berkepanjangan ini memiliki implikasi langsung terhadap ketahanan energi dan pangan nasional. Gangguan rantai pasok gandum dan energi dari kawasan Laut Hitam telah mendorong inflasi harga pangan domestik. Pemerintah Indonesia perlu mencermati eskalasi ini karena dapat mempengaruhi kebijakan impor dan stabilitas harga di dalam negeri.
Sybiha menegaskan bahwa "pertempuran untuk menguasai langit akan menentukan arah perang ini. Semakin kuat perisai udara di atas Ukraina, semakin dekat perdamaian." Namun, tanpa dukungan sistem pertahanan udara yang memadai dari sekutu Barat, Ukraina akan terus menghadapi teror rudal yang melumpuhkan. Pertanyaannya, akankah komunitas internasional bergerak cepat untuk menutup celah pertahanan udara Ukraina, atau membiarkan konflik ini berlarut dengan korban sipil yang terus berjatuhan?



