Polisi India Tangkap Terduga Jaringan JeM di Benggala Barat, 12 Tahun Setelah Ledakan Khagragarh
Baca dalam 60 detik
- Hamim Mondal, 24 tahun, ditangkap di Bardhaman atas dugaan keterlibatan dengan Jaish-e-Mohammed dan komunikasi dengan ISI Pakistan.
- Penangkapan ini mengungkap dugaan rencana penyamaran sebagai pasukan pengawal Kepala Menteri Benggala Barat, Suvendu Adhikari.
- Kasus ini mencuatkan kembali kekhawatiran akan aktivitas sel tidur militan di Benggala Barat dan implikasinya bagi keamanan regional.

Dua belas tahun setelah ledakan di Khagragarh yang mengungkap sel tidur Jamaat-ul-Mujahidin (JMB) di Benggala Barat, kota Bardhaman kembali diguncang penangkapan seorang pria yang diduga terkait dengan jaringan teroris lintas batas. Hamim Mondal, 24 tahun, ditangkap aparat kepolisian setempat pada Jumat lalu, memicu kewaspadaan tinggi di kawasan yang pernah menjadi sorotan aksi terorisme.
Menurut keterangan polisi, Hamim yang berasal dari desa kecil di East Bardhaman diduga telah menjalin kontak dengan kelompok militan yang beroperasi di seberang perbatasan, termasuk Jaish-e-Mohammed (JeM). Ia disebut-sebut sebagai bagian dari modul Sajjad Bhat, dan baru-baru ini memesan secara daring seragam yang mirip dengan milik Central Reserve Police Force (CRPF). Investigasi awal memperkirakan, ia mungkin berniat menyusup ke pengawalan Kepala Menteri Suvendu Adhikari saat melakukan perjalanan.
Special Task Force (STF) yang menangani kasus ini menyita ponsel dan laptop Hamim. Dari perangkat tersebut, penyidik menemukan komunikasi terenkripsi yang diduga ditujukan kepada individu terkait Inter-Services Intelligence (ISI) Pakistan. Temuan ini memperkuat dugaan adanya keterlibatan intelijen asing dalam operasi yang direncanakan.
Hamim ditangkap saat tengah berolahraga di sebuah pusat kebugaran di Renaissance Township, kawasan elite di tepi barat kota Bardhaman. Ia diketahui rutin bepergian dari Bankra, Howrah, ke apartemen sewaannya di township tersebut. Polisi juga mengungkap bahwa Hamim sempat mengancam Menteri Negara Umesh Rai melalui telepon beberapa hari sebelum penangkapan. Penelusuran nomor telepon seorang perempuan muda dari Birbhum akhirnya membawa penyidik pada Hamim, yang selama ini menyamar sebagai mahasiswa.
Keluarga Hamim berasal dari desa Dignagar, sekitar 25 kilometer utara Bardhaman. Ia dibesarkan di rumah neneknya di Bankra, Howrah. Tiga bulan lalu, ia menyewa apartemen tiga kamar di Rohini Tower, Renaissance Township. Seorang pedagang lokal, Mohammad Ali, membantu proses sewa dengan menggunakan dokumen identitas ayahnya. Ali mengaku Hamim beralasan apartemen itu untuk adik laki-laki dan perempuannya.
Penangkapan ini mengejutkan tetangga dan keluarga. Ashis Mondal, seorang guru sekolah, mengaku tak percaya: "Dia tampak tenang, pendiam, dan lembut." Sementara itu, kakek Hamim, Nasiruddin Mondal, membantah tuduhan tersebut. "Tuduhan ini sangat serius. Anak itu terlalu muda untuk terlibat. Mungkin polisi salah informasi," ujarnya.
Polisi dalam laporannya menyebut Hamim "terlibat dalam konspirasi kriminal dan berkolusi dengan elemen asing yang bermusuhan atas nama ISI. Ia anggota jaringan kriminal dan spionase lintas batas yang mencakup perekrutan operatif lokal, pengadaan senjata, pengumpulan informasi sensitif tentang tokoh penting, honey-trapping, penculikan, dan pembunuhan." Tuduhan ini diajukan oleh Banasovan Ghosh, sub-inspektur STF, dan Hamim telah ditahan selama 14 hari untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pengingat akan ancaman jaringan teroris yang memanfaatkan teknologi dan komunikasi terenkripsi. Pola rekrutmen lokal dan penyamaran yang dilakukan Hamim mirip dengan modus yang pernah terjadi di Indonesia, seperti keterlibatan warga negara Indonesia dalam jaringan ISIS atau JAD. Koordinasi intelijen antarnegara, termasuk pertukaran informasi tentang pergerakan militan, menjadi krusial untuk mencegah aksi serupa.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah sejauh mana jaringan ini telah mengakar dan apakah ada aktor lain yang masih bebas. Penangkapan Hamim mungkin baru awal dari pengungkapan yang lebih besar, dan pihak berwenang di kawasan perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi sel tidur yang masih aktif.



