Iran Ancam Padamkan Listrik Seluruh Teluk Jika AS Serang Pembangkit: Peringatan Terbaru di Tengah Ketegangan
Baca dalam 60 detik
- Teheran menyampaikan pesan keras melalui perantara bahwa serangan AS pada infrastruktur kelistrikannya akan dibalas dengan pemadaman total di negara-negara Teluk.
- Ancaman ini muncul setelah Presiden AS Donald Trump membatalkan rencana serangan besar-besaran, dengan alasan permintaan dari Arab Saudi, UEA, dan Qatar.
- Situasi ini menyoroti kerentanan infrastruktur vital kawasan dan berpotensi memicu krisis kemanusiaan serta dampak ekonomi global, termasuk bagi Indonesia.

Ketegangan di kawasan Teluk kembali memanas setelah Iran mengirimkan peringatan eksplisit kepada negara-negara tetangganya: jika Amerika Serikat menyerang pembangkit listriknya, Teheran akan memadamkan seluruh jaringan listrik di kawasan tersebut, satu per satu. Pesan ini disampaikan melalui perantara dan diterima oleh pejabat Teluk, sebagaimana diungkapkan dua sumber kepada AFP, Minggu (28/7).
Ancaman ini merupakan respons atas rencana serangan besar-besaran yang sempat digadang-gadang oleh Presiden AS Donald Trump. Trump menyebut serangan tersebut akan menjadi yang terbesar sejak Perang Dunia II, dengan target utama infrastruktur energi Iran. Namun, pada akhir pekan lalu, Trump membatalkan rencana tersebut dengan alasan permintaan dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar, serta harapan akan terobosan dalam negosiasi.
Seorang pejabat Teluk yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan, "Iran mengancam akan memadamkan listrik di Teluk, negara demi negara, jika Trump menyerang pembangkit listriknya." Pernyataan ini diperkuat oleh pejabat regional lainnya. Iran, melalui perantara, menegaskan bahwa serangan terhadap pembangkit listriknya akan memicu serangan balasan terhadap target serupa di negara-negara Teluk. Daftar target yang disebutkan sangat panjang dan mencakup pembangkit listrik serta fasilitas desalinasi air, yang menjadi sumber utama air minum di kawasan yang sebagian besar berupa gurun.
Ancaman ini bukanlah yang pertama kali dilontarkan Iran. Sebelumnya, pada pertengahan Juli, Trump mengancam akan menghancurkan jembatan atau pembangkit listrik Iran untuk setiap serangan terhadap pelayaran di Selat Hormuz. Teheran merespons dengan peringatan "mata dibalas mata". Namun, pejabat Teluk menilai ancaman terbaru ini lebih serius karena disertai daftar target yang rinci dan disampaikan secara langsung melalui jalur diplomatik.
Kawasan Teluk memang telah menjadi sasaran utama serangan Iran selama perang Timur Tengah yang berkepanjangan. Serangan-serangan tersebut tidak hanya menyasar aset AS, tetapi juga infrastruktur sipil seperti instalasi energi, pelabuhan, dan bandara. Setelah gencatan senjata disepakati pada April dan nota kesepahaman pada Juni, serangan sporadis masih terjadi. Namun, sejak gencatan senjata mulai runtuh pada Juli, intensitas dan frekuensi serangan meningkat, dengan Kuwait dan Bahrain menjadi sasaran utama.
Pembatalan serangan oleh Trump diikuti dengan pengumuman Arab Saudi bahwa Putra Mahkota Mohammed bin Salman telah berbicara dengan Trump dalam panggilan telepon yang bertujuan meredakan ketegangan regional. Langkah ini menunjukkan adanya upaya diplomasi di tengah situasi yang rapuh, meskipun belum ada tanda-tanda penyelesaian yang konkret.
Bagi Indonesia, ketegangan di Teluk memiliki implikasi langsung. Indonesia, sebagai negara pengimpor minyak dan gas, sangat rentan terhadap gejolak harga energi global. Gangguan pasokan dari kawasan Teluk dapat memicu lonjakan harga energi domestik, yang pada gilirannya mempengaruhi inflasi dan daya beli masyarakat. Selain itu, Indonesia juga memiliki kepentingan untuk menjaga stabilitas kawasan, mengingat banyaknya Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di negara-negara Teluk. Eskalasi konflik dapat membahayakan keselamatan mereka dan mengganggu aliran remitansi yang menjadi penopang ekonomi nasional.
Ke depan, pertanyaan besar adalah apakah ancaman Iran ini akan benar-benar dieksekusi jika AS memutuskan untuk melancarkan serangan. Meskipun Trump telah mundur untuk saat ini, tekanan domestik dan kebijakan luar negerinya yang tidak menentu membuat kemungkinan serangan masih terbuka. Di sisi lain, Iran tampaknya berusaha menaikkan taruhan dengan menargetkan infrastruktur vital kawasan, yang dapat memicu krisis kemanusiaan yang parah. Apakah diplomasi yang sedang berlangsung mampu meredakan ketegangan sebelum mencapai titik didih? Atau apakah kawasan ini akan terjerumus ke dalam konflik yang lebih luas dengan dampak global yang tak terhindarkan?



