Charlie Hunnam Adopsi Dua Anak Kucing demi Jaga Kesehatan Mental Selama Syuting Serial Monster
Baca dalam 60 detik
- Aktor Charlie Hunnam mengadopsi dua anak kucing saat syuting serial Netflix 'Monster: The Ed Gein Story' untuk menjaga kesehatan mentalnya.
- Ia menyewa cat sitter penuh waktu dan bermain dengan kucingnya selama tiga jam setiap hari setelah syuting adegan berat.
- Pengakuan ini menyoroti pentingnya dukungan emosional bagi aktor yang memerankan karakter gelap, serta tren terapi dengan hewan peliharaan.

Charlie Hunnam, aktor berusia 46 tahun yang dikenal lewat perannya dalam serial "Sons of Anarchy", mengungkapkan bahwa ia mengadopsi dua anak kucing untuk menjaga kesehatan mentalnya selama syuting serial terbaru Netflix, "Monster: The Ed Gein Story". Dalam wawancara dengan The Hollywood Reporter, Hunnam menceritakan bagaimana kehadiran dua kucing tersebut membantunya melewati masa-masa sulit saat memerankan tokoh pembunuh berantai Ed Gein.
Serial garapan Ryan Murphy ini menuntut Hunnam mendalami karakter Ed Gein, seorang pembunuh dan perampok makam yang kisahnya menjadi inspirasi banyak film horor. Proses syuting yang berlangsung di Chicago, Illinois, mengharuskan Hunnam berada dalam kondisi psikologis yang berat. Untuk mengatasinya, ia memutuskan mengadopsi dua anak kucing yang sebelumnya hidup di jalanan.
"Saya mengadopsi beberapa anak kucing saat berada di Chicago untuk paruh kedua syuting. Saya tinggal di hotel yang sangat bagus, Four Seasons, dan mereka sangat baik kepada saya," ujar Hunnam. Ia bahkan meminta izin kepada manajemen hotel untuk membawa kucing-kucing tersebut ke kamarnya. "Suatu hari saya pulang dan berkata, 'Saya tahu ini di luar kebiasaan, tapi saya baru saja mengadopsi dua anak kucing. Bolehkah saya menaruhnya di kamar?' Mereka menjawab, 'Ya, beri tahu kami apa yang Anda butuhkan.'"
Hunnam mengaku sebagai pemilik hewan peliharaan yang serius. Ia menyewa seorang cat sitter untuk menjaga kedua kucingnya selama ia bekerja 14 hingga 15 jam sehari. "Saya tidak akan meninggalkan mereka sendirian selama itu, jadi saya punya cat sitter yang menemani mereka sekitar delapan jam," jelasnya. "Mereka dari jalanan kemudian benar-benar naik kelas, hidup seperti di Four Seasons dengan cat sitter penuh waktu yang bermain dengan mereka. Jadi saya pulang dari dunia yang paling gelap dan hanya bermain dengan anak kucing selama tiga jam."
Pengakuan Hunnam ini menyoroti tren yang semakin populer di kalangan artis Hollywood: menggunakan hewan peliharaan sebagai alat terapi untuk menjaga kesehatan mental. Psikolog klinis dari Universitas Indonesia, Dr. Ratna Juwita, menilai bahwa interaksi dengan hewan dapat menurunkan kadar kortisol, hormon stres, dan meningkatkan produksi oksitosin yang memicu perasaan bahagia. "Bermain dengan hewan peliharaan terbukti secara ilmiah mampu mengurangi kecemasan dan depresi, terutama bagi mereka yang memiliki pekerjaan dengan tekanan emosional tinggi," ujarnya.
Di Indonesia, kesadaran akan pentingnya kesehatan mental di kalangan pekerja kreatif, termasuk aktor, mulai meningkat. Beberapa komunitas pecinta kucing di Jakarta dan Bandung kerap mengadakan kegiatan terapi dengan kucing untuk umum. Namun, masih jarang artis Tanah Air yang secara terbuka membahas strategi pribadi mereka dalam menjaga keseimbangan mental. Pengakuan Hunnam bisa menjadi inspirasi bahwa merawat hewan bukan sekadar hobi, melainkan investasi untuk kesejahteraan psikologis.
Di sisi lain, Hunnam juga mengungkapkan bahwa ia sebenarnya bercita-cita menjadi sutradara, bukan aktor. Dalam podcast Prestige Junkie, ia mengaku masih merasa sebagai "penulis/sutradara yang frustrasi" meski karier aktingnya sukses. "Saya masuk sekolah film ingin menjadi penulis/sutradara. Saya menghabiskan masa muda menonton film dan berpikir tentang storytelling, selalu membayangkan jadi sutradara," katanya. Namun, setelah mendapat peran di serial anak-anak "Byker Grove" dan kemudian "Queer As Folk", ia justru terjun penuh ke dunia akting. "Pada usia 18 tahun, saya sudah pindah ke Amerika dan mengejar karier akting. Dan di sinilah saya, 27 tahun kemudian, masih menjadi penulis-sutradara yang frustrasi," keluhnya.
Kombinasi antara peran berat yang menuntut pendalaman karakter gelap dan hasrat yang belum terwujud untuk menjadi sutradara mungkin menjadi alasan mengapa Hunnam mencari pelarian melalui hewan peliharaan. Pertanyaannya, apakah tren terapi dengan hewan ini akan semakin banyak diadopsi oleh para pekerja kreatif di Indonesia? Dengan meningkatnya kesadaran akan kesehatan mental, bukan tidak mungkin kita akan melihat lebih banyak artis Tanah Air yang membagikan kisah serupa.



