Skandal Manipulasi Skor Menerpa Kriket AS: Bodugum Akhilesh Reddy Dilarang Delapan Tahun
Baca dalam 60 detik
- Pemain kriket Amerika Serikat, Bodugum Akhilesh Reddy, dijatuhi sanksi larangan delapan tahun oleh Pengadilan Anti-Korupsi ICC karena terbukti terlibat dalam upaya pengaturan skor pada Abu Dhabi T10 League 2025.
- Reddy dinilai melanggar tiga pasal kode anti-korupsi, termasuk mengajak pihak lain untuk ikut serta dalam praktik curang dan menghalangi penyidikan dengan menghapus data dari perangkat selulernya.
- Hukuman ini berlaku surut sejak 21 November 2025, saat ia ditangguhkan sementara, dan menjadi peringatan keras bagi integritas kriket global, terutama di tengah maraknya turnamen T10 yang rentan disusupi kepentingan ilegal.

Bodugum Akhilesh Reddy, pelempar bola kriket asal Amerika Serikat, harus menerima kenyataan pahit setelah Pengadilan Anti-Korupsi International Cricket Council (ICC) menjatuhkan larangan delapan tahun dari seluruh bentuk kriket. Vonis ini dijatuhkan setelah Reddy terbukti bersalah atas tiga pelanggaran kode etik anti-korupsi yang terjadi pada ajang Abu Dhabi T10 League di Uni Emirat Arab tahun lalu. Keputusan ini menjadi tamparan telak bagi dunia kriket Amerika yang tengah berusaha membangun reputasi di pentas internasional.
Reddy, yang kini berusia 26 tahun, merupakan bagian dari tim Aspin Stallions yang berhasil melaju hingga partai final Abu Dhabi T10 2025. Dalam tim tersebut, ia sempat satu skuad dengan legenda kriket India, Harbhajan Singh, serta pemain Inggris Sam Billings. Kehadiran nama-nama besar di tim yang sama tidak lantas membuat Reddy menjaga integritasnya. Ia justru terlibat dalam upaya memengaruhi hasil pertandingan, sebuah tindakan yang dikecam keras oleh ICC.
Menurut pernyataan resmi ICC, Reddy terbukti melakukan "upaya untuk memengaruhi hasil, jalannya, atau aspek lain dari pertandingan ADT10 2025 secara tidak sah". Selain itu, ia juga dinyatakan bersalah karena mendorong peserta lain untuk terlibat dalam pengaturan skor, serta menghalangi proses penyidikan dengan menghapus data dan pesan dari perangkat selulernya. Kombinasi pelanggaran ini menunjukkan adanya niat sistematis untuk merusak kepercayaan publik terhadap olahraga ini.
Kasus ini menyoroti kerentanan turnamen kriket berformat pendek seperti T10, yang sering kali menjadi ajang taruhan ilegal dan manipulasi skor. Meski ICC telah memperketat pengawasan, praktik semacam ini terus muncul, terutama di liga-liga yang kurang mendapat sorotan media. Bagi Amerika Serikat, yang tengah gencar mengembangkan kriket sebagai olahraga populer, kasus ini menjadi pukulan tersendiri. Federasi Kriket AS (USACA) belum memberikan komentar resmi, namun publik mulai mempertanyakan efektivitas pengawasan internal terhadap pemain muda yang baru menembus tim nasional.
Menurut analis olahraga, hukuman berat ini diharapkan menjadi efek jera bagi pemain lain yang tergoda untuk mengambil jalan pintas. Namun, mereka juga mengingatkan bahwa akar masalahnya tidak hanya pada individu, melainkan juga pada lemahnya edukasi anti-korupsi di negara-negara berkembang kriket. Di Indonesia, meskipun kriket bukan olahraga utama, kasus ini tetap relevan sebagai pelajaran tentang pentingnya integritas dalam setiap kompetisi olahraga, terutama yang melibatkan taruhan dan sponsor besar.
ICC sendiri menegaskan komitmennya untuk memberantas korupsi di semua level. Juru bicara ICC menyatakan, "Kami tidak akan mentoleransi tindakan yang merusak kepercayaan penggemar dan pemangku kepentingan. Sanksi ini adalah bukti keseriusan kami dalam menjaga kebersihan olahraga." Pernyataan ini menegaskan bahwa meskipun turnamen T10 masih relatif baru, pengawasan terhadapnya tidak main-main.
Ke depan, pertanyaan besar yang menggantung adalah bagaimana federasi kriket nasional, termasuk AS, akan memperkuat sistem pengawasan internal mereka. Apakah kasus ini akan memicu reformasi di tubuh USACA, atau justru menjadi noda yang memudarkan semangat pengembangan kriket di Amerika? Yang jelas, bagi Reddy, karier yang baru saja dimulai harus berakhir lebih cepat dari yang dibayangkan. Sementara itu, dunia kriket akan terus mengawasi apakah hukuman ini cukup untuk menekan praktik curang di masa mendatang.



