F1 Perbanyak Sprint Race pada 2027, Domenicali Jaga Nilai Eksklusivitas
Baca dalam 60 detik
- Formula One akan menambah jumlah sprint race pada musim 2027, melampaui enam seri yang ada saat ini, dengan tetap mempertahankan prinsip kelangkaan.
- Keputusan ini didorong oleh peningkatan jumlah penonton dan pendapatan, meskipun pendapatan kuartal kedua 2026 turun 38 persen akibat berkurangnya jumlah balapan.
- Langkah ini berpotensi mengubah dinamika akhir pekan balapan dan menjadi perhatian bagi penggemar F1 di Indonesia yang mengikuti secara digital.

Formula One (F1) akan memperbanyak jumlah sprint race pada musim 2027 dari enam seri yang ada saat ini, namun tetap menjaga nilai kelangkaannya. Pernyataan ini disampaikan langsung oleh CEO F1, Stefano Domenicali, di sela paparan hasil keuangan kuartal kedua Liberty Media, pemilik F1, pada Kamis (6/8).
Meski kalender 2027 belum dirilis, Domenicali mengonfirmasi bahwa musim depan akan kembali digelar 24 seri, setelah musim 2026 kemungkinan hanya 23 seri. Ketidakpastian geopolitik, terutama konflik di Timur Tengah, masih membayangi sejumlah seri balapan di kawasan tersebut. Namun, ekspansi sprint race tetap menjadi prioritas untuk meningkatkan daya tarik akhir pekan balapan.
"Format sprint kami terus mendorong peningkatan kehadiran penonton pada Jumat dan memperkuat jumlah penonton harian sepanjang akhir pekan balapan. Kami berencana menambah jumlah sprint untuk tahun depan dan akan memberikan detail lebih lanjut segera," ujar Domenicali kepada para analis. Ia menambahkan, "Kami ingin melakukannya dengan cara yang tepat, karena ini akan memastikan bahwa kelangkaan tetap menjadi nilai. Jika secara komersial kami pergi ke mana-mana, tentu itu bukan lagi sebuah nilai."
Sprint race, yang memiliki jarak tempuh lebih pendek dan memberikan delapan poin bagi pemenangnya, digelar pada Sabtu pagi. Format ini menggantikan sesi latihan bebas kedua yang biasanya berlangsung Jumat. Sementara itu, grand prix utama tetap digelar Minggu setelah kualifikasi pada Sabtu. Penambahan jumlah sprint race ini menuai respons beragam, termasuk dari Flavio Briatore, bos tim Alpine milik Renault. Briatore justru mengusulkan agar sprint race digelar di setiap seri balapan.
"Saya akan menggelarnya di setiap balapan. Karena kami perlu memberikan sesuatu yang lebih kepada penonton. Karena kami tidak melakukan apa pun untuk penonton," kata Briatore kepada the-race.com. "Jumat pagi hanya teknis. Anda melaju dua putaran, kembali, dan orang-orang, oke. Setelah Sabtu pagi, setelah kualifikasi, dan itu selesai, Anda punya balapan. Dengan sprint race, setidaknya Anda punya dua balapan, dua start, dan pembalap membalap untuk sesuatu. Dia tidak hanya membalap untuk teknik. Bagi saya, kami perlu sprint race. Bagi saya, 24 balapan, 24 sprint race."
Langkah F1 menambah sprint race ini tidak lepas dari tekanan komersial. Pendapatan F1 pada kuartal kedua 2026 tercatat US$764 juta, turun 38 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, karena jumlah balapan yang lebih sedikit. Meski demikian, Domenicali mengklaim kemitraan siaran dengan Apple di Amerika Serikat berhasil meningkatkan jumlah penonton dan total jam menonton sebesar 13 persen, meski ia tidak merinci angka pastinya.
Bagi penggemar F1 di Indonesia, penambahan sprint race ini menjadi kabar menarik. Meski tidak ada seri balapan di Asia Tenggara, antusiasme penggemar Tanah Air tetap tinggi, terutama dengan adanya pembalap seperti Liam Lawson yang memiliki darah Indonesia. Sprint race yang lebih sering berarti lebih banyak aksi balapan di akhir pekan, yang bisa dinikmati penggemar melalui layanan streaming resmi. Namun, di sisi lain, kekhawatiran tentang jadwal yang semakin padat dan dampaknya terhadap performa pembalap serta tim juga perlu diperhatikan.
Ke depan, keputusan F1 untuk menyeimbangkan antara kepentingan komersial dan nilai sportivitas akan terus diuji. Pertanyaannya, akankah penambahan sprint race ini benar-benar meningkatkan pengalaman menonton tanpa mengorbankan esensi balapan grand prix? Atau justru akan menjadi tontonan yang monoton? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi yang jelas, F1 sedang berusaha keras untuk tetap relevan di tengah persaingan hiburan global.



