Sejarah Baru: Sigrid Haugset Ukir Nama Norwegia di Tour de France Femmes
Baca dalam 60 detik
- Sigrid Haugset menjadi pembalap Norwegia pertama yang memenangkan etape Tour de France Femmes, sekaligus merebut jersey kuning.
- Kemenangan solo ini menggeser Lorena Wiebes dari puncak klasemen dan menempatkan Haugset unggul 2 menit 22 detik atas pesaing terdekatnya.
- Prestasi ini menandai kebangkitan skena balap sepeda wanita Skandinavia dan membuka peluang bagi pembalap Asia Tenggara untuk menembus level tertinggi.

Sigrid Haugset menorehkan tinta emas dalam sejarah balap sepeda dunia. Pada etape ketujuh Tour de France Femmes, Senin (3/8), pembalap asal Norwegia itu melesat sendirian menuju garis finis di Poligny, mengukuhkan diri sebagai pemenang etape sekaligus pemegang jersey kuning perdana bagi negaranya. Keberhasilan ini bukan sekadar kemenangan pribadi, melainkan sinyal kebangkitan skena balap sepeda wanita Skandinavia yang selama ini kerap berada di bawah bayang-bayang Belanda dan Belgia.
Haugset, yang membela tim Uno-X Mobility, menuntaskan rute sepanjang 156,5 kilometer dengan keunggulan 1 menit 24 detik atas juara dunia Lotte Kopecky dari Belgia. Marianne Vos, legenda Belanda, harus puas menempati posisi ketiga. Dengan hasil ini, Haugset menggeser Lorena Wiebes dari puncak klasemen umum dan kini memimpin dengan selisih 2 menit 22 detik atas Kimberly Le Court dari Mauritius.
Kemenangan ini terasa dramatis karena Haugset harus bertarung melawan kelelahan dan tekanan Kopecky yang terus membayangi. Di kilometer-km akhir, gap sempat menyusut hingga 10 detik, namun Haugset menemukan tenaga ekstra untuk menjauh lagi. "Saya tidak pernah membayangkan ini mungkin terjadi... ini tidak nyata," ujarnya usai balapan, seperti dikutip Channel News Asia. "Saya pikir Kopecky akan mengejar saya. Saya sempat berpikir untuk menyerah dan mengambil posisi kedua, tapi saya ingat semua orang yang bersorak dari rumah, dan saya harus memberikan segalanya."
Etape ini juga diwarnai insiden di tanjakan kategori satu Col de la Faucille, di mana beberapa pembalap top termasuk juara dunia Magdeleine Vallieres dan mantan juara Tour Demi Vollering terlibat crash. Beruntung, tak ada cedera serius dan mereka mampu melanjutkan balapan. Momen ini mengubah dinamika perlombaan, membuka peluang bagi pembalap lain untuk tampil menonjol.
Bagi Indonesia, prestasi Haugset menjadi cermin bahwa kerja keras dan keberanian mengambil risiko dapat membawa atlet dari negara non-tradisional bersaing di panggung tertinggi. Federasi Sepeda Indonesia (ISSI) dapat menjadikan ini sebagai momentum untuk memperkuat pembinaan atlet putri, terutama dalam menghadapi ajang seperti SEA Games dan Asian Games. Meski jarak level masih jauh, kisah Haugset membuktikan bahwa mimpi untuk tampil di Tour de France bukan hal mustahil.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah mampukah Haugset mempertahankan jersey kuning hingga akhir balapan? Dengan sisa beberapa etape pegunungan yang lebih berat, persaingan diprediksi semakin sengit. Para pengamat menilai kemampuan Haugset dalam tanjakan akan diuji, sementara pembalap seperti Vollering dan Kopecky dipastikan akan mencoba merebut kembali pimpinan klasemen. Satu hal yang pasti, nama Sigrid Haugset telah tercatat dalam buku sejarah, dan perjalanannya masih panjang.



