PTBA Kebal Kemarau Panjang, Andalkan Kereta Api untuk Angkut Batu Bara
Baca dalam 60 detik
- PTBA memastikan logistik batu bara di Sumatra tetap lancar meski kemarau panjang melanda, berkat moda kereta api.
- Sementara itu, sungai-sungai di Kalimantan menyusut dan membuat tongkang pengangkut batu bara kandas, memicu kekhawatiran pasokan.
- Kinerja keuangan PTBA melesat pada semester I-2026, tetapi risiko cuaca ekstrem menjadi ujian bagi industri batu bara nasional.

PT Bukit Asam Tbk (PTBA) memastikan aktivitas pengangkutan batu bara dari tambang di Sumatra tidak terganggu oleh musim kemarau panjang yang melanda sebagian besar wilayah Indonesia. Perseroan mengandalkan kereta api sebagai tulang punggung logistik, sehingga tidak bergantung pada debit air sungai yang saat ini menyusut drastis.
Direktur Utama PTBA Bambang Ismawan menegaskan bahwa ketergantungan pada jalur kereta api menjadi keunggulan kompetitif perusahaan. "Bagi PT Bukit Asam tidak ada isu," ujarnya dalam acara Closing Bell CNBC Indonesia, Senin (14/9/2026). Ia menambahkan bahwa operator tambang di Kalimantan menghadapi hambatan karena sungai surut, sementara PTBA tetap lancar.
PTBA memang memiliki kemitraan erat dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI) untuk mengangkut batu bara dari mulut tambang ke pelabuhan utama seperti Tarahan di Lampung dan Kertapati di Palembang. Infrastruktur ini memungkinkan perusahaan menghindari risiko yang dihadapi para pesaing yang mengandalkan tongkang melalui sungai.
Kemampuan PTBA menjaga operasional di tengah cuaca ekstrem menjadi sorotan, terutama ketika Sungai Kapuas di Kalimantan Barat dilaporkan mengering selama empat bulan terakhir. Akibatnya, kapal tongkang pengangkut batu bara tidak bisa berlayar dan tertahan. Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung membantah bahwa hambatan tersebut disebabkan oleh kebijakan pembatasan produksi. "Bukan karena dibatasi produksinya, tetapi karena air untuk mengalirkan tongkang tidak ada," tegasnya di sela acara The 12th Indonesia EBTKE ConEx 2026.
"Saya cek di Kalimantan, sungainya mengering, tongkangnya tidak bisa jalan," ujar Yuliot.
Fenomena ini memunculkan pemandangan tak biasa: sebuah tongkang dilaporkan kandas hampir tiga bulan di Sungai Kapuas, seperti terlihat dalam unggahan akun Instagram @atr.drone. Hamparan pasir yang biasanya terendam air kini menjadi ruang terbuka yang dimanfaatkan warga untuk berekreasi. Namun di balik itu, tersimpan persoalan serius bagi kelancaran pasokan energi nasional.
Bagi investor dan pelaku pasar, ketahanan logistik PTBA menjadi nilai tambah di tengah ketidakpastian iklim. Perusahaan mencatatkan kinerja gemilang pada semester I-2026 dengan laba bersih Rp 2,65 triliun, naik 218% secara tahunan. Pendapatan juga tumbuh 8% menjadi Rp 22,03 triliun. Penjualan ekspor mencatatkan pertumbuhan 5% menjadi 10,33 juta ton, dengan tujuan utama Vietnam, Bangladesh, Kamboja, India, dan Thailand.
Meski demikian, ketergantungan pada kereta api bukan tanpa tantangan. Kapasitas angkut dan jadwal kereta api perlu terus dijaga agar tidak menjadi bottleneck. Selain itu, perubahan iklim yang membuat pola cuaca semakin sulit diprediksi menuntut perusahaan-perusahaan batu bara untuk berinvestasi pada diversifikasi rute logistik. PTBA sendiri telah memiliki pelabuhan-pelabuhan pendukung di sekitar Kertapati dan Tarahan yang memperkuat jaringan distribusinya.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah keunggulan logistik PTBA dapat dipertahankan jika kemarau ekstrem berlanjut. Sementara operator di Kalimantan berjuang mengatasi sungai yang mengering, PTBA diuntungkan oleh letak geografis dan infrastruktur yang sudah mapan. Namun, dengan tren cuaca yang semakin tidak menentu, ketergantungan pada satu moda transportasi tetap menyimpan risiko jangka panjang. Investor perlu mencermati bagaimana perusahaan mengelola risiko iklim dan apakah langkah diversifikasi akan segera diambil.



