Autopsi dan Uji DNA Jasad Tanpa Identitas di Enggano: Jejak Menuju Jurnalis yang Hilang?
Baca dalam 60 detik
- Polda Bengkulu mengautopsi dan mengambil sampel DNA jenazah tanpa identitas yang ditemukan di pesisir Pulau Enggano untuk mengungkap identitas dan penyebab kematian.
- Penyelidikan diarahkan pada kemungkinan kaitan dengan lima jurnalis dan tiga kru yang hilang kontak saat meliput Gunung Anak Krakatau; Polda Banten menunggu hasil uji DNA.
- Jenazah telah diterbangkan ke Kota Bengkulu untuk pemeriksaan lebih lanjut, sementara operasi SAR terhadap rombongan yang hilang masih berlanjut.

Kepolisian Daerah Bengkulu tengah melakukan autopsi dan pengambilan sampel DNA terhadap jenazah tanpa identitas yang ditemukan di pesisir Pulau Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara. Langkah ini diambil untuk memastikan identitas sekaligus penyebab kematian pria tersebut, yang hingga kini belum diketahui.
Kepala Bidang Humas Polda Bengkulu, Kombes Pol Imam Wijayanto, menyatakan bahwa proses autopsi sedang berjalan oleh tim Biddokkes Polda Bengkulu. "Kami sampaikan pada hari ini sedang dilakukan autopsi dari jenazah yang ditemukan tanpa identitas di Pulau Enggano," ujarnya di Kota Bengkulu, Senin (14/9).
Penemuan jasad ini mencuatkan dugaan keterkaitan dengan hilangnya lima jurnalis beserta tiga kru yang sebelumnya meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau. Rombongan tersebut bertolak dari Dermaga Pagedongan, Carita, Pandeglang, Banten, pada 7 September sekitar pukul 14.00 WIB, namun komunikasi terputus dan hingga kini belum ditemukan.
Meski demikian, Imam menegaskan belum ada kepastian apakah jenazah tersebut merupakan bagian dari rombongan yang hilang. "Kami belum bisa memastikan, tapi Dirkrimsus dan Kabid Dokes Polda Bengkulu sudah berkoordinasi dengan Polda Lampung untuk meminta ciri-ciri atau sampel yang ada," tambahnya. Koordinasi lintas wilayah ini menunjukkan penyelidikan tidak terbatas pada satu yurisdiksi, mengingat titik hilangnya rombongan berada di perairan Selat Sunda.
Dari pemeriksaan awal, jenazah dipastikan bukan warga setempat di Pulau Enggano. Hal ini semakin mengarahkan penyidik pada kemungkinan korban berasal dari luar wilayah tersebut, meski identitas pastinya masih menunggu hasil laboratorium forensik.
"Kita menunggu pencocokan DNA yang sudah diambil dari keluarga teman-teman yang hilang kontak. Kami mohon waktu untuk bisa menjelaskan setelah keluar tes DNA dari Polda Bengkulu," kata Kabid Humas Polda Banten, Kombes Maruli Ahiles Hutapea, di Pandeglang, Senin (14/9).
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Bengkulu, Muslikun Sodik, mengungkapkan bahwa jenazah diterbangkan dari Bandara Enggano menuju Bandara Fatmawati Soekarno Bengkulu pada Senin pagi. Setibanya di Kota Bengkulu, jasad langsung dibawa untuk pemeriksaan lanjutan guna memastikan identitas dan penyebab kematian.
Hilangnya rombongan jurnalis saat meliput Gunung Anak Krakatau menyoroti risiko pekerjaan liputan di kawasan rawan bencana. Selat Sunda dikenal sebagai zona vulkanik aktif dengan kondisi cuaca yang cepat berubah, sehingga peliputan di wilayah tersebut menuntut protokol keselamatan ketat. Insiden ini pun menjadi perhatian serius bagi organisasi pers dan otoritas keselamatan pelayaran.
Hingga kini, operasi pencarian dan pertolongan terhadap lima jurnalis dan tiga kru masih berlangsung. Tim SAR gabungan terus menyisir perairan sekitar Anak Krakatau dan sekitarnya, meski kondisi lapangan dan waktu yang telah berlalu menjadi tantangan tersendiri.
Proses identifikasi DNA menjadi krusial karena dapat memberikan kepastian kepada keluarga korban. Jika hasilnya cocok, maka babak baru penyelidikan akan dimulai, termasuk mengungkap kronologi kecelakaan laut yang menyebabkan kapal cepat mereka hilang kontak. Sebaliknya, jika tidak cocok, penyidik harus membuka kemungkinan lain terkait identitas jenazah tersebut.
Kasus ini juga menguji koordinasi antarinstansi: kepolisian, SAR, dan pemerintah daerah di tiga provinsi—Bengkulu, Lampung, dan Banten—dituntut bekerja cepat dan transparan. Publik menanti kejelasan, tidak hanya tentang identitas jasad, tetapi juga mengapa komunikasi dengan rombongan jurnalis terputus sejak awal.
Ke depan, hasil uji DNA dari Polda Bengkulu akan menjadi penentu arah penyelidikan. Jika jenazah tersebut terbukti salah satu dari rombongan yang hilang, maka fokus akan beralih pada upaya evakuasi dan penyelidikan penyebab kecelakaan. Namun, jika bukan, misteri penemuan jasad di Pulau Enggano justru semakin dalam, dan pencarian terhadap para jurnalis harus terus dilanjutkan tanpa henti.



