FIFA Kaji Piala Dunia 2030 dengan 64 Tim: Ambisi atau Beban?
Baca dalam 60 detik
- FIFA berencana menunjuk agen independen untuk menilai kelayakan ekspansi Piala Dunia 2030 menjadi 64 tim, menambah 16 negara peserta.
- Langkah ini memicu penolakan dari UEFA dan AFC, yang khawatir terjadi penurunan kualitas kompetisi dan padatnya kalender internasional.
- Keputusan awal akan diambil pada 14 Agustus, dengan hasil studi ditargetkan rampung pada 11 September, menjadi penentu masa depan turnamen.

FIFA tengah mengkaji kemungkinan memperluas Piala Dunia 2030 menjadi 64 tim, sebuah langkah yang berpotensi mengubah wajah turnamen sepak bola paling bergengsi di dunia saat merayakan satu abad penyelenggaraannya. Wacana ini muncul dari dokumen yang dilihat Reuters, di mana badan sepak bola dunia itu ingin menunjuk agen independen untuk menganalisis dampak ekspansi dari 48 menjadi 64 peserta.
Rencana ambisius ini bukan tanpa kontroversi. Sejak awal, Konfederasi Sepak Bola Amerika Selatan (CONMEBOL) telah mengusulkan format 64 tim untuk edisi 2030, dengan alasan memberikan kesempatan lebih luas bagi negara-negara untuk ambil bagian dalam perayaan seratus tahun turnamen. Namun, usulan ini langsung mendapat tentangan dari UEFA dan AFC. Presiden UEFA, Aleksander Ceferin, tahun lalu menyebut ekspansi ini bukan ide bagus, dan sikapnya tak berubah. Sementara Presiden AFC, Sheikh Salman bin Ibrahim Al Khalifa, mempertanyakan sampai di mana batas akhir perluasan ini.
Jika terealisasi, Piala Dunia 2030 akan menjadi yang terbesar dalam sejarah, dengan 64 negara bertanding. Sebagai perbandingan, Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko baru saja memperluas format dari 32 menjadi 48 tim, menghasilkan 104 pertandingan dalam lebih dari lima pekan. Penambahan 16 tim lagi berarti akan ada lebih banyak laga, yang otomatis memperpanjang durasi turnamen dan menambah beban fisik pemain.
Kajian yang digagas FIFA ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan mendasar: apakah ekspansi ini benar-benar memperkuat turnamen atau justru menimbulkan masalah seperti penurunan kualitas pertandingan, kepadatan kalender, kompleksitas operasional, dan jenuhnya pasar. Studi ini juga akan mengevaluasi dampak terhadap keseimbangan kompetitif, kualifikasi, kesejahteraan pemain, serta memperkirakan potensi pendapatan dari tiket, sponsor, dan hak siar.
Bagi Indonesia, wacana ini menarik untuk dicermati. Meski Timnas Indonesia belum tentu lolos ke Piala Dunia, ekspansi menjadi 64 tim membuka peluang lebih besar bagi negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, untuk tampil di panggung dunia. Namun, di sisi lain, kekhawatiran tentang kualitas pertandingan dan dampak pada kalender liga domestik juga relevan. Liga Indonesia yang padat bisa semakin tertekan jika pemain-pemainnya harus absen lebih lama untuk membela tim nasional.
Langkah FIFA ini juga terjadi di tengah rencana pembentukan anak perusahaan senilai US$20 miliar untuk mengelola Piala Dunia dan event lainnya dengan investor eksternal. Langkah tersebut menuai kritik dan memicu UEFA untuk memboikot acara-acara FIFA. Hal ini menunjukkan bahwa keputusan ekspansi tidak hanya soal teknis olahraga, tetapi juga politik dan ekonomi sepak bola global.
"Rekomendasi akhir harus menunjukkan tidak hanya apakah turnamen 64 tim dapat menghasilkan nilai tambah, tetapi juga apakah nilai itu berkelanjutan," demikian bunyi dokumen FIFA.
Dengan tenggat waktu yang ketat โ keputusan penunjukan agen pada 14 Agustus dan hasil analisis pada 11 September โ FIFA tampak serius mempercepat kajian ini. Pertanyaannya, apakah ekspansi ini akan benar-benar terwujud, atau justru menjadi bumerang bagi FIFA di tengah resistensi dari berbagai pihak? Yang jelas, keputusan ini akan menentukan arah sepak bola dunia untuk dekade berikutnya, dan Indonesia perlu mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan perubahan lanskap kompetisi internasional.



