Pochettino Perpanjang Kontrak hingga 2030, Fokus pada Pembinaan Sepak Bola AS
Baca dalam 60 detik
- Kesepakatan baru mengikat Pochettino sebagai pelatih timnas AS hingga 2030, dengan perluasan peran ke pembinaan usia muda.
- Piala Dunia 2026 menjadi tolok ukur awal; AS tersingkir di 16 besar oleh Belgia, namun performa di fase grup dinilai positif.
- Langkah ini menegaskan komitmen US Soccer pada pembangunan jangka panjang, bukan hanya hasil instan di turnamen.

Mauricio Pochettino resmi memperpanjang masa baktinya sebagai pelatih tim nasional Amerika Serikat hingga 2030. Keputusan ini diumumkan US Soccer setelah Pochettino memimpin tim berjuluk The Stars and Stripes melaju hingga babak 16 besar Piala Dunia 2026 yang mereka gelar sebagai tuan rumah, sebelum akhirnya takluk 1-4 dari Belgia.
Perpanjangan kontrak ini bukan sekadar perpanjangan biasa. US Soccer memberikan mandat yang jauh lebih luas kepada Pochettino dan tim pelatihnya untuk turut merancang pembinaan sepak bola nasional, mulai dari jalur timnas usia muda, pendidikan pelatih, hingga kolaborasi dengan liga profesional. Ini menandai pergeseran strategi federasi dari pendekatan yang berorientasi pada hasil jangka pendek menuju pembangunan ekosistem sepak bola yang berkelanjutan.
Pochettino, yang pernah menukangi Tottenham Hotspur dan Chelsea, menilai potensi besar dalam program timnas pria AS. Ia menyebut pengalamannya selama dua tahun bekerja sama dengan US Soccer membuka mata akan peluang yang belum tergarap maksimal. "Kami ingin memberikan dampak yang bertahan lama bagi olahraga ini di negara yang telah menyambut kami dengan hangat," ujarnya, menegaskan ambisinya melampaui sekadar kemenangan di lapangan.
Perjalanan AS di Piala Dunia 2026 sendiri berakhir dengan cara yang kontroversial. Selain kekalahan telak dari Belgia, tim ini juga tersandung kasus kartu merah Folarin Balogun yang sempat menjadi sorotan. Striker tersebut diusir wasit saat melawan Bosnia-Herzegovina, namun lolos dari sanksi tambahan setelah ada intervensi dari Presiden Donald Trump. Insiden ini menambah warna tersendiri bagi perjalanan AS di turnamen yang mereka impikan untuk ditaklukkan.
Presiden US Soccer, Cindy Parlow Cone, memberikan apresiasi tinggi terhadap budaya yang dibangun Pochettino. Menurutnya, pelatih asal Argentina itu berhasil menciptakan lingkungan di mana para pemain saling percaya, baik terhadap proses maupun satu sama lain. "Kami melihat dampak keyakinan itu dalam cara tim tumbuh dan tampil di panggung terbesar dunia," kata Cone. Ia menegaskan bahwa budaya inilah yang ingin terus diinvestasikan oleh federasi untuk masa depan timnas pria.
Bagi Indonesia, kabar ini memberi pelajaran berharga tentang pentingnya investasi jangka panjang dalam pembinaan sepak bola. PSSI yang tengah gencar membenahi timnas dan kompetisi domestik bisa mencontoh langkah US Soccer yang tidak setengah hati membangun fondasi. Keberanian federasi AS mempercayakan visi besar kepada pelatih top seperti Pochettino menunjukkan bahwa kemajuan sepak bola tidak bisa dicapai hanya dengan mendatangkan pemain naturalisasi atau menggelar turnamen besar, melainkan butuh perencanaan matang dan kesabaran.
Keputusan ini juga memicu pertanyaan menarik: akankah Pochettino mampu memenuhi ekspektasi tinggi publik AS yang menginginkan gelar juara dunia pada 2026? Atau justru fokus pada pembinaan jangka panjang akan mengorbankan hasil instan? Hanya waktu yang bisa menjawab, namun satu hal pasti: US Soccer telah memilih jalan yang berani dan terukur untuk masa depan sepak bola mereka.



