Krisis FIFA: Infantino Menggantungkan Nasib pada Negara Kecil, Bukan Raksasa Sepak Bola
Baca dalam 60 detik
- Presiden FIFA Gianni Infantino menghadapi mosi tidak percaya dari UEFA dan CONCACAF setelah gagalnya rencana penjualan saham Piala Dunia.
- Wales menjadi federasi pertama yang secara resmi menarik dukungan, sementara UEFA mempertimbangkan langkah hukum terhadap Infantino.
- Dengan sistem satu negara satu suara, dukungan dari negara berkembang seperti Vanuatu dan Bhutan menjadi kunci kelangsungan kekuasaan Infantino.

Gianni Infantino, presiden FIFA yang tengah berjuang mempertahankan kursinya, kini lebih menggantungkan harapan pada negara-negara kecil yang selama ini menjadi penerima dana pembangunan FIFA daripada pada raksasa sepak bola Eropa. Di tengah krisis kepercayaan yang dipicu oleh gagalnya rencana penjualan saham Piala Dunia kepada investor swasta, Infantino harus menghadapi kenyataan bahwa dukungan dari federasi-federasi besar mulai runtuh, sementara negara-negara berkembang justru menjadi penentu nasibnya.
Krisis ini bermula ketika UEFA dan CONCACAF, dua konfederasi regional yang mewakili kekuatan sepak bola Eropa dan Amerika Utara, menyatakan mosi tidak percaya terhadap kepemimpinan Infantino. Rencana kontroversial untuk membawa modal swasta ke dalam turnamen Piala Dunia, yang kemudian dibatalkan, menjadi pemicu utama. Wales menjadi federasi pertama yang secara formal menarik dukungannya, dan UEFA telah mengirim surat kepada Infantino yang berusia 56 tahun itu untuk menginformasikan bahwa mereka sedang mempertimbangkan tindakan hukum terkait proposal tersebut.
Meskipun tekanan politik semakin besar, Infantino tampaknya tidak akan mudah digulingkan. Aturan FIFA memungkinkan mosi tidak percaya diajukan melalui Kongres Luar Biasa jika 20 persen dari 211 asosiasi anggota (sekitar 42 federasi) memintanya secara tertulis. UEFA, dengan 55 anggota, sebenarnya dapat memicu kongres semacam itu dengan suara bulat. Namun, untuk benar-benar menjatuhkan Infantino, dibutuhkan mayoritas suara dari seluruh anggota FIFA, dan di sinilah letak keunikan sistem pemungutan suara FIFA: setiap negara, baik sekaya Inggris maupun sekecil Vanuatu, memiliki satu suara yang setara.
Negara-negara berkembang seperti Bhutan dan Vanuatu, yang belum pernah tampil di Piala Dunia, justru menjadi basis dukungan terkuat Infantino. Mereka sangat bergantung pada dana pembangunan FIFA untuk membiayai program sepak bola mereka. Dalam siklus 2023-2026, FIFA menawarkan hingga 3 juta dolar AS untuk proyek pengembangan, naik 1 juta dolar dari siklus sebelumnya. Bagi negara kaya, jumlah ini mungkin kecil, tetapi bagi negara miskin, ini adalah sumber kehidupan. Vanuatu, misalnya, menerima hibah 4,15 juta dolar AS untuk membangun stadion berkapasitas 6.500 penonton di ibu kota Port Vila, yang selesai pada 2022. Selain itu, presiden asosiasi sepak bola Vanuatu, Lambert Maltock, duduk sebagai salah satu dari delapan wakil presiden di Dewan FIFA, sebuah posisi yang dianggap sebagai imbalan atas loyalitas.
Brian Kaltak, pemain profesional pertama Vanuatu yang kini bermain untuk Perth Glory, mengungkapkan apresiasinya terhadap Infantino. Menurutnya, Infantino telah memberi kesempatan bagi negara-negara berkembang untuk tumbuh. "Dia memberi kesempatan bagi presiden kami untuk menjadi bagian dari FIFA, dan dengan proyek pembangunan, dia mencoba mengembangkan sepak bola, tidak hanya di Vanuatu tetapi juga di semua negara dunia ketiga," kata Kaltak kepada Reuters. "Dia membuka lebih banyak peluang bagi tim seperti kami untuk maju. Itu bantuan yang sangat besar."
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki relevansi tersendiri. Sebagai salah satu negara dengan basis penggemar sepak bola terbesar di Asia Tenggara, Indonesia juga termasuk penerima dana pengembangan FIFA. Meskipun PSSI tidak secara langsung terlibat dalam konflik ini, arah kebijakan FIFA akan berdampak pada alokasi dana dan program pengembangan di tanah air. Jika Infantino jatuh, ada kemungkinan perubahan prioritas pendanaan yang dapat memengaruhi proyek-proyek infrastruktur sepak bola di Indonesia. Sebaliknya, jika ia bertahan, negara-negara berkembang seperti Indonesia mungkin akan terus menikmati dukungan finansial yang selama ini diberikan.
Para kritikus menilai bahwa model pendanaan FIFA telah menciptakan sistem di mana kekuatan finansial ditukar dengan pengaruh politik. Hal ini membuat sulit bagi koalisi untuk menjatuhkan presiden petahana, karena banyak negara kecil yang merasa berutang budi. Namun, tekanan dari Eropa tidak bisa diabaikan. UEFA, yang mewakili 55 federasi, memiliki suara yang signifikan. Jika mereka bersatu dengan konfederasi lain, seperti CONCACAF, dan mampu meyakinkan cukup banyak negara berkembang, Infantino bisa menghadapi tantangan serius.
Pertanyaan besarnya adalah: apakah negara-negara kecil akan tetap setia kepada Infantino, ataukah mereka akan tergoda oleh janji-janji dari kandidat lain? Infantino telah membuktikan kemampuannya dalam menggalang dukungan melalui program-program populis, tetapi krisis ini adalah ujian terbesarnya. Dengan Kongres FIFA yang dijadwalkan tahun depan, waktu masih panjang, tetapi tekanan yang ada saat ini menunjukkan bahwa pertarungan untuk kursi kepresidenan FIFA akan menjadi ajang adu strategi antara kekuatan tradisional dan negara-negara berkembang yang selama ini menjadi penentu.



