Investasi Ambani Rp1,2 Triliun: MI London dan Masa Depan The Hundred
Baca dalam 60 detik
- Keluarga Ambani melalui Reliance Industries mengakuisisi 49% saham Oval Invincibles senilai £60 juta, mengubahnya menjadi MI London.
- Kemitraan ini membawa keahlian komersial global Mumbai Indians, namun Surrey tetap memegang kendali utama dan mempertahankan identitas lokal.
- MI London berencana menjadi merek sepanjang tahun dan mengambil alih operasional dari ECB mulai 2027, menandai perubahan besar dalam lanskap kriket Inggris.

Investasi senilai sekitar £60 juta (Rp1,2 triliun) dari raksasa industri India, Reliance Industries, telah mengubah wajah The Hundred. Klub tersukses di kompetisi tersebut, Oval Invincibles, kini resmi berganti nama menjadi MI London, membawa ambisi global keluarga Ambani ke jantung kriket London. Langkah ini bukan sekadar pergantian nama, melainkan sinyal perubahan besar dalam tata kelola dan komersialisasi kriket Inggris.
Kesepakatan yang diumumkan pada Januari 2025 ini merupakan bagian dari gelombang pertama penjualan tim di The Hundred. Reliance Industries, yang diketuai oleh Mukesh Ambani, manusia terkaya di Asia, membeli 49% saham klub. Namun, hubungan antara Surrey dan keluarga Ambani ternyata sudah terjalin jauh sebelum proses lelang dimulai. Steve Elworthy, CEO Surrey, mengungkapkan bahwa mereka telah menjadi pendukung setia The Hundred selama bertahun-tahun, bahkan kerap menyewa kotak VVIP di The Oval setiap Agustus untuk menonton pertandingan.
Bagi para investor, daya tarik The Oval dan rekam jejak Invincibles yang gemilang—lima gelar di kompetisi putra dan putri—menjadi alasan utama. "Kami memang pandai bermain kriket," ujar Elworthy. "Keanggotaan kami kuat, kehadiran penonton luar biasa, dan kami berbasis di London. Ini proposisi yang sangat menarik." Nilai MI London kini diperkirakan mencapai £120 juta, tertinggi kedua setelah London Spirit yang berbasis di Lord's dengan nilai sekitar £300 juta.
Meski nama dan warna klub berubah—dari merah Invincibles menjadi biru-emas khas MI—para pemain merasakan transisi yang mulus. Will Jacks, pemain all-rounder Inggris yang juga memperkuat MI di IPL, menilai penggabungan ini berhasil. "Perlengkapan latihan masih mempertahankan warna Invincibles, jadi ada perpaduan yang baik," katanya. Di sisi teknis, perubahan signifikan terjadi: Kieron Pollard menggantikan Tom Moody sebagai pelatih kepala putra, sementara Lisa Keightley, yang baru saja menangani MI di Women's Premier League (WPL), memimpin tim putri. Namun, kehadiran pelatih lokal seperti Gareth Batty dan Jim Troughton memastikan akar Surrey tetap terjaga.
Dampak paling terasa justru di luar lapangan. Jaringan global MI—dengan tim di Cape Town, Emirates, dan New York—memberikan akses komersial yang sebelumnya tak terbayangkan. "The Hundred sebelumnya cukup lokal, sekarang kami punya merek global dan mitra global," kata Elworthy. Bagi para pemain, peluang untuk tampil di liga lain dalam jaringan MI menjadi nilai tambah. Jacks mengaku pengalaman bermain bersama legenda kriket India di MI membuka banyak hal baru. Keightley menambahkan bahwa pemain MI London memiliki peluang besar untuk terlibat di WPL, karena hubungan yang sudah terbangun.
Ke depan, Surrey dan MI memiliki ambisi besar: menjadikan MI London sebagai merek yang hadir sepanjang tahun, bukan hanya selama musim panas. Mereka juga berencana mengambil alih lebih banyak tanggung jawab operasional dari England and Wales Cricket Board (ECB) mulai 2027, termasuk sistem tiket. "Kami ingin mengontrol dan menjalankan semua aspek tim—penyelenggaraan pertandingan, ekspansi global, dan pembangunan merek itu sendiri," tegas Elworthy.
Bagi pengamat kriket Indonesia, fenomena ini menarik untuk dicermati. Investasi besar dari konglomerat asing ke liga domestik Inggris menunjukkan bagaimana olahraga modern bertransformasi menjadi industri global. Meski kriket belum populer di Indonesia, pola kemitraan semacam ini bisa menjadi pelajaran bagi pengembangan liga olahraga lain, seperti sepak bola, yang tengah mencari investor asing. Pertanyaannya, apakah model kemitraan yang mengedepankan keseimbangan antara kepentingan global dan identitas lokal ini bisa menjadi cetak biru bagi kompetisi olahraga di Asia Tenggara?



