Hachimura Kembali ke Timnas Basket Jepang, Targetkan Emas Olimpiade 2028
Baca dalam 60 detik
- Bintang NBA Rui Hachimura resmi kembali memperkuat timnas basket Jepang setelah sempat mundur pasca-Olimpiade Paris 2024.
- Keputusan ini dipicu oleh perubahan kepelatihan, dengan Dai Oketani yang dinilai mampu membawa permainan Jepang ke level dunia.
- Kembalinya Hachimura menjadi sinyal ambisi Jepang untuk bersaing di Olimpiade Los Angeles 2028 dan Kualifikasi Piala Dunia 2027.

Nagoya โ Bintang Los Angeles Clippers, Rui Hachimura, secara resmi menyatakan kembali membela tim nasional basket Jepang. Dalam konferensi pers di Nagoya, Kamis (6/8), pemain berusia 28 tahun itu menegaskan bahwa Olimpiade Los Angeles 2028 menjadi target terbesarnya. โOlimpiade Los Angeles adalah tujuan terbesar,โ ujarnya. โSaya ingin bertanggung jawab dan bersaing di kualifikasi mendatang dengan pemikiran itu.โ
Keputusan ini mengakhiri masa jeda Hachimura dari timnas sejak Olimpiade Paris 2024. Saat itu, ia mengundurkan diri karena ketidakpuasan terhadap manajemen Asosiasi Bola Basket Jepang. Namun, pergantian pelatih kepala dari Tom Hovasse ke Dai Oketani pada Februari lalu menjadi titik balik. Hachimura mengaku terkesan dengan pendekatan Oketani yang dinilainya mampu membawa timnas Jepang bersaing di level dunia.
โSetiap permainan memiliki niat di baliknya. Itu jenis basket yang selalu ingin saya mainkan, dan saya sangat senang melihatnya,โ kata Hachimura. โItu membuat saya ingin kembali dan bermain untuk tim nasional.โ Ia juga memuji staf pelatih baru yang menurutnya mengajar dengan standar yang bisa bersaing dengan dunia.
Kembalinya Hachimura menjadi suntikan moral besar bagi basket Jepang yang tengah mempersiapkan diri menghadapi Kualifikasi Piala Dunia 2027. Jepang dijadwalkan menjalani laga uji coba melawan Korea Selatan pada 15-16 Agustus, sebelum bertemu Arab Saudi dan Qatar pada akhir bulan ini. Hachimura termasuk dalam 14 pemain yang dipanggil untuk pemusatan latihan mulai pekan depan.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menarik untuk dicermati. Basket Asia semakin kompetitif, dengan Jepang dan Tiongkok terus meningkatkan kualitas liga dan program pembinaan. Kehadiran pemain NBA seperti Hachimura tidak hanya mengangkat performa tim, tetapi juga popularitas basket di kawasan. Indonesia, yang tengah membangun ekosistem basket domestik, bisa belajar dari strategi Jepang dalam mengelola transisi pemain dari liga luar negeri ke tim nasional.
Keputusan Hachimura juga menunjukkan pentingnya peran pelatih dalam membangun kepercayaan pemain. Oketani, yang sebelumnya menangani tim liga domestik, berhasil meyakinkan Hachimura bahwa program timnas telah berubah. Ini menjadi pelajaran bagi federasi basket di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, bahwa manajemen yang transparan dan profesional adalah kunci untuk menarik pemain diaspora atau yang berkarier di luar negeri.
Dengan target Olimpiade 2028, Hachimura dan timnas Jepang memiliki waktu dua tahun untuk membangun kekuatan. Pertanyaan besarnya, mampukah Jepang mempertahankan performa dan konsistensi di tengah persaingan ketat Asia? Atau akankah ini menjadi awal dari era keemasan basket Jepang yang mampu bersaing di panggung dunia? Semua akan terjawab dalam kualifikasi mendatang.



