Pogacar Incar Sejarah Baru: Kini Menuju Vuelta untuk Sapu Bersih Grand Tour
Baca dalam 60 detik
- Tadej Pogacar akan turun di Vuelta a Espana 2025, berusaha menjadi pembalap kesembilan yang menjuarai tiga Grand Tour sekaligus.
- Setelah menaklukkan Giro dan Tour, kemenangan di Spanyol akan mengukuhkan statusnya sebagai salah satu yang terbaik sepanjang masa.
- Langkah ini juga menjadi ujian konsistensi dan daya tahan, sekaligus memicu perbincangan tentang dominasi dalam dunia balap sepeda.

Lima kali juara Tour de France, Tadej Pogacar, mengonfirmasi akan ambil bagian dalam Vuelta a Espana yang bergulir akhir bulan ini. Langkah ini bukan sekadar menambah koleksi gelar, melainkan upaya serius untuk menyapu bersih tiga Grand Tour dalam satu musimโsebuah pencapaian yang hanya segelintir pembalap dalam sejarah yang mampu melakukannya.
Pembalap asal Slovenia dari tim UAE Team Emirates-XRG ini datang dengan status unggulan mutlak. Pada Juli lalu, ia mengunci kemenangan kelima di Tour de France, menyamai rekor legenda seperti Jacques Anquetil, Eddy Merckx, Bernard Hinault, dan Miguel Indurain. Kini, perhatian publik balap sepeda dunia tertuju pada apakah ia mampu mempertahankan performa puncaknya di ajang yang kerap dianggap sebagai Grand Tour paling tidak terduga.
Vuelta tahun ini akan dimulai di Monako pada 22 Agustus dan berakhir di Granada pada 13 September, mencakup 21 etape dengan kombinasi uji waktu, sprint, tanjakan bergelombang, serta pegunungan tinggi. Rute yang menantang ini akan menjadi ujian nyata bagi ketahanan Pogacar, yang sepanjang musim ini tampil dominan dengan memenangkan enam dari tujuh balapan World Tour yang diikutinya. Satu-satunya kekalahan terjadi di Paris-Roubaix, saat ia harus puas di posisi kedua di belakang Wout van Aert.
Jika berhasil menjuarai Vuelta, Pogacar akan menjadi pembalap kesembilan dalam sejarah yang memenangkan ketiga Grand Tour: Giro d'Italia, Tour de France, dan Vuelta a Espana. Sebelumnya, ia sudah membuktikan diri di Giro 2024 dengan kemenangan telak hampir sepuluh menit. Namun, tantangan di Spanyol berbeda. Sejak era modern, banyak pembalap top cenderung memprioritaskan Tour de France dan mengorbankan Vuelta, sehingga dominasi Pogacar di sini akan menjadi pembeda yang signifikan.
Keputusan Pogacar untuk berlaga di Vuelta juga berdampak pada persaingan global. Pembalap seperti Remco Evenepoel, yang menjadi pesaing terdekatnya di Tour dengan selisih lebih dari enam menit, diprediksi akan kembali menjadi lawan utama. Namun, dengan performa Pogacar yang belum menunjukkan tanda-tanda menurun, banyak analis memperkirakan margin kemenangannya bisa lebih besar. "Dia seperti mesin yang tidak pernah berhenti," ujar seorang komentator balap sepeda Eropa, menggambarkan konsistensi dan kecepatan Pogacar yang luar biasa.
Bagi penggemar balap sepeda di Indonesia, kehadiran Pogacar di Vuelta menjadi tontonan wajib. Meski tidak ada pembalap Indonesia yang berkompetisi, ajang ini kerap menjadi referensi bagi para penggiat olahraga sepeda tanah air untuk mempelajari strategi dan teknik balap kelas dunia. Selain itu, dominasi Pogacar juga memicu diskusi tentang masa depan olahraga ini: apakah akan lahir generasi baru yang mampu menyaingi pencapaiannya, atau justru semakin mengukuhkan era keemasan sang juara.
Setelah Vuelta, Pogacar dijadwalkan membela gelar juara dunia di Montreal, Kanada, hanya sepekan kemudian. Padatnya jadwal ini menimbulkan pertanyaan: sanggupkah ia menjaga performa puncak di dua ajang besar secara beruntun? Atau justru ini menjadi bumerang yang menguras energinya? Jawabannya akan terungkap dalam beberapa pekan ke depan, dan dunia balap sepeda akan menyaksikan apakah Pogacar benar-benar bisa menuliskan babak baru dalam sejarah olahraga ini.



