Pogacar Umumkan Ikut Vuelta a Espana 2025: Peluang Lengkapi Koleksi Grand Tour
Baca dalam 60 detik
- Tadej Pogacar akan turun di Vuelta a Espana 2025, satu-satunya Grand Tour yang belum pernah ia menangkan.
- Keputusan ini menegaskan ambisi pebalap Slovenia itu untuk menyamai rekor Jonas Vingegaard yang telah memenangi ketiga Grand Tour.
- Dengan dukungan skuad kuat UAE Team Emirates-XRG, Vuelta edisi ke-80 diprediksi menjadi panggung persaingan sengit di puncak klasemen.

Pebalap Slovenia, Tadej Pogacar, dipastikan ambil bagian dalam Vuelta a Espana 2025 yang akan bergulir mulai 22 Agustus di Monako. Pengumuman ini disampaikan langsung oleh timnya, UAE Team Emirates-XRG, pada Senin (3/8) waktu setempat. Dengan demikian, peluang Pogacar untuk melengkapi koleksi gelar Grand Tour-nya semakin terbuka lebar.
Bagi Pogacar, Vuelta adalah satu-satunya ajang Grand Tour yang belum pernah ia taklukkan. Pebalap berusia 27 tahun itu telah mengoleksi lima gelar Tour de France dan satu gelar Giro d'Italia pada 2024. Catatan impresif ini menjadikannya salah satu pebalap paling dominan di era modern, tetapi Vuelta selalu menjadi tantangan tersendiri. Terakhir kali ia tampil di ajang ini adalah pada 2019, saat itu ia masih menjalani debut Grand Tour-nya.
Keputusan untuk kembali ke Vuelta bukan tanpa pertimbangan. Dalam pernyataan resminya, Pogacar mengaku antusiasme dan motivasinya sedang berada di titik tertinggi. "Saya senang bisa kembali ke La Vuelta. Spanyol adalah negara yang saya cintai untuk dikunjungi dan balapan. Saya pikir ini waktu yang tepat untuk kembali," ujarnya. Ia juga menegaskan bahwa targetnya adalah menutup musim dengan hasil maksimal, dan Vuelta menjadi prioritas besar.
Pogacar tidak akan berjuang sendirian. UAE Team Emirates-XRG telah menyiapkan skuad yang solid, termasuk Joao Almeida, Jay Vine, Pavel Sivakov, Pablo Torres, Kevin Vermaerke, Domen Novak, dan Ivo Oliveira. Komposisi tim ini menunjukkan keseriusan mereka untuk bersaing di klasemen umum, sekaligus memberi dukungan taktis bagi Pogacar di rute pegunungan yang menantang.
Vuelta a Espana 2025 sendiri akan menjadi edisi ke-80. Tahun lalu, Jonas Vingegaard keluar sebagai juara dan menjadi pebalap kedelapan dalam sejarah yang berhasil memenangi ketiga Grand Tour. Prestasi tersebut tentu menjadi motivasi tambahan bagi Pogacar untuk mengukir sejarah serupa. Jika berhasil, ia akan menjadi pebalap kesembilan yang mencapai pencapaian tersebut, sekaligus memperkuat statusnya sebagai salah satu pebalap terbaik sepanjang masa.
Bagi penggemar balap sepeda di Indonesia, kehadiran Pogacar di Vuelta tentu menjadi tontonan menarik. Meski tidak ada pebalap Indonesia yang berlaga, ajang ini tetap relevan karena semakin populer di kalangan penggemar olahraga tanah air. Banyak komunitas sepeda di Indonesia yang mengikuti perkembangan Grand Tour, dan Vuelta sering menjadi ajang untuk menyaksikan persaingan ketat di tanjakan-tanjakan ikonik Spanyol.
Dari sisi strategi, keputusan Pogacar untuk turun di Vuelta setelah Tour de France menunjukkan keberaniannya menghadapi tantangan fisik dan mental. Jarak waktu yang relatif dekat antara kedua ajang tersebut menuntut pemulihan yang cepat dan manajemen tenaga yang cermat. Namun, dengan dukungan tim yang kuat dan pengalaman balapan yang mumpuni, Pogacar diyakini mampu tampil kompetitif.
Pertanyaannya kini, akankah Pogacar mampu mengatasi tekanan dan akhirnya menaklukkan Vuelta? Atau justru Vingegaard yang kembali menunjukkan dominasinya? Musim balap 2025 akan menjadi saksi bagaimana persaingan dua pebalap terbaik dunia ini berlangsung di panggung Grand Tour terakhir tahun ini.



