Siklus Ancaman dan Mundur: Trump Kembali Menguji Kesabaran Iran di Tengah Perang Lima Bulan
Baca dalam 60 detik
- Presiden AS kembali mengancam serangan besar-besaran ke Iran, namun membatalkannya di menit terakhir setelah desakan sekutu Teluk.
- Pola 'tekan lalu mundur' ini dinilai kritikus sebagai strategi yang tidak konsisten dan berisiko memperpanjang konflik.
- Dengan pemilu paruh waktu AS yang semakin dekat, dukungan publik terhadap perang menurun, memaksa Gedung Putih menyeimbangkan retorika keras dengan realitas politik domestik.

Washington, D.C. โ Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali memainkan skenario yang sudah familier dalam perang lima bulan melawan Iran: mengeluarkan ancaman keras untuk menghancurkan infrastruktur energi Teheran, lalu menariknya kembali di saat-saat terakhir dengan dalih memberi ruang bagi diplomasi. Pola ini, yang telah berulang setidaknya tiga kali sejak konflik meletus pada 28 Februari, kembali terlihat akhir pekan lalu ketika Trump membatalkan rencana serangan besar-besaran setelah menerima masukan dari sekutu-sekutu Teluk, termasuk Arab Saudi.
Dalam pernyataannya, Trump mengklaim bahwa permintaan dari pejabat Iran yang tidak disebutkan namanya serta pemimpin Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab menjadi kunci pembatalan tersebut. "Itu akan menjadi bencana bagi mereka. Dan mereka tidak ingin kami melakukannya," ujarnya kepada wartawan dalam perjalanan kembali ke Washington dari klub golfnya di New Jersey. "Dan terus terang, Arab Saudi juga tidak menginginkannya. Mereka pikir kesepakatan sudah dekat." Namun, kritik menilai bahwa pola ini justru menunjukkan ketidakmampuan AS untuk memaksa Iran tunduk hanya dengan kekuatan militer.
Senator Mark Kelly, anggota Komite Angkatan Bersenjata Senat dari Partai Demokrat, menggambarkan pendekatan Trump sebagai "sangat tidak menentu". "Pada titik ini, dia mencoba membawa kita kembali ke Februari. Dan saya pikir jika dia bisa โ jika dia punya tombol reset besar yang bisa dia tekan โ dia pasti akan mengambil opsi itu," kata Kelly dalam acara CBS News "Face the Nation". Kritik ini muncul di tengah kekhawatiran bahwa perang yang semula diremehkan Trump sebagai operasi singkat kini berlarut-larut, menguras persediaan amunisi AS dan menguji kesabaran publik Amerika menjelang pemilu paruh waktu November.
Data jajak pendapat terbaru dari AP-NORC Center for Public Affairs Research menunjukkan sekitar dua pertiga warga AS menilai perang dengan Iran tidak sepadan. Angka ini mencakup mayoritas Demokrat dan independen, serta sekitar 37 persen Republikan. Meski Trump bersikeras bahwa pemilu tidak memengaruhi keputusannya, tekanan politik domestik semakin nyata. Senator John Kennedy dari Louisiana, sekutu Trump di Kongres, menyarankan agar pemerintah menahan diri dan fokus pada sanksi serta program nuklir Iran, alih-alih eskalasi militer. "Mereka semua pilihan yang mengerikan," kata Kennedy. "Tetapi untuk saat ini, saya akan mempertahankan status quo."
Di tengah dinamika ini, peran Arab Saudi menjadi sorotan. Trump mengakui bahwa percakapan telepon dengan Putra Mahkota Mohammed bin Salman pada Sabtu memengaruhi keputusannya. Menurut sumber yang mengetahui isi pembicaraan, putra mahkota menyampaikan kekhawatiran bahwa eskalasi dapat berdampak parah pada ekonomi global jika Iran membalas dengan menyerang sekutu AS di Teluk. Kuwait disebut sebagai negara yang paling rentan terhadap serangan milisi pro-Iran di Irak, sementara Arab Saudi, Qatar, dan UEA dinilai mampu mempertahankan diri.
Bagi Indonesia, konflik ini memiliki implikasi langsung terhadap harga energi dan stabilitas ekonomi. Sebagai negara pengimpor minyak, setiap gejolak di Selat Hormuz โ jalur vital bagi sekitar 20 persen pasokan minyak dunia โ berpotensi mendongkrak harga BBM dan inflasi di dalam negeri. Pemerintah Indonesia perlu mencermati dinamika ini, terutama dalam merancang kebijakan energi dan anggaran subsidi yang responsif terhadap fluktuasi harga global.
Pola ancaman-dan-mundur yang dilakukan Trump juga menimbulkan pertanyaan tentang kredibilitas AS di kancah internasional. Jika sekutu-sekutu Teluk mulai meragukan ketegasan Washington, mereka mungkin mencari jaminan keamanan alternatif atau mempercepat diversifikasi mitra strategis. Bagi Indonesia, ini bisa menjadi peluang untuk memperkuat kerja sama ekonomi dan diplomatik dengan negara-negara Teluk, sekaligus mendorong stabilitas kawasan yang kondusif bagi perdagangan dan investasi.
Ke depan, apakah Trump akan benar-benar menekan tombol eskalasi atau terus bermain di ambang perang? Jawabannya mungkin ditentukan oleh kalkulasi politik domestik dan tekanan sekutu. Namun, satu hal yang jelas: setiap ancaman yang tidak dieksekusi semakin mengikis daya gentar AS, sementara Iran tampaknya semakin yakin bahwa mereka bisa bertahan lebih lama dari Washington. Pertanyaannya, berapa lama lagi pola ini bisa bertahan sebelum salah satu pihak benar-benar mengambil langkah fatal?



