Avalanche di Broad Peak: Nirmal Purja dan 9 Pendaki Lain Hilang, Operasi SAR Terkendala Cuaca
Baca dalam 60 detik
- Longsoran salju di Broad Peak, Pakistan, menyeret 10 pendaki internasional, termasuk legenda Nepal Nirmal Purja, dan memicu operasi pencarian besar-besaran.
- Tim penyelamat mengerahkan helikopter militer, tetapi cuaca buruk dan medan ekstrem menjadi tantangan utama untuk menjangkau korban yang terperangkap 1.000 meter di bawah jalur pendakian.
- Insiden ini menyoroti risiko tinggi musim pendakian 2026 dan memicu pertanyaan tentang kesiapan regulasi keselamatan bagi pendaki asing di kawasan Karakoram.

Longsoran salju yang menerjang Broad Peak, gunung setinggi 8.051 meter di pegunungan Karakoram, Pakistan, pada Kamis (30/7) siang, menyeret sepuluh pendaki dari berbagai negara ke jurang sedalam sekitar 1.000 meter. Mereka dilaporkan hilang dan operasi pencarian yang melibatkan helikopter militer masih berlangsung hingga Jumat (31/7), dengan kondisi cuaca yang tidak menentu.
Nama-nama besar seperti Nirmal Purja, pendaki Nepal yang memegang rekor pendakian cepat 14 puncak tertinggi dunia, dan Sohail Sakhi, pendaki Pakistan yang baru saja menaklukkan Kanchenjunga, ikut dalam daftar korban hilang. Kehilangan mereka tidak hanya mengguncang komunitas pendaki global, tetapi juga memicu keprihatinan tentang keselamatan ekspedisi di musim panas yang kerap diwarnai cuaca ekstrem.
Alpine Club of Pakistan (ACP) mengonfirmasi bahwa korban hilang terdiri dari enam pendaki Nepal, satu warga Pakistan, satu warga Oman, satu warga Amerika Serikat, dan satu warga China. Selain Purja, pendaki Nepal lainnya adalah Pur Bahadur Gurung, Kili Pemba Sherpa, Nima Sherpa, Nawang Thindu Sherpa, dan Gyalu Sherpa. Sementara itu, Nadhira Ahmed Abdullah Al Harthy dari Oman, Wang Zhong dari China, dan Mallory Geis dari AS juga belum ditemukan.
Menurut Sekretaris Jenderal ACP, Ayaz Shigri, beberapa tim ekspedisi sebenarnya telah memulai upaya mencapai puncak secara bersamaan sebelum insiden terjadi. Data GPS yang diterima dari sebagian korban menunjukkan bahwa longsoran salju telah membawa mereka turun sekitar 1.000 meter, membuat mereka terjebak di area yang sulit dijangkau. Shigri juga mengkhawatirkan adanya porter lokal yang mungkin ikut terdampak, meskipun belum ada konfirmasi resmi.
Dua helikopter Angkatan Darat Pakistan telah dikerahkan sejak Jumat pagi untuk mendukung pencarian dari udara, seperti diungkapkan Wakil Presiden Senior ACP, Karrar Haidri. Namun, operasi ini bergantung pada celah cuaca yang sempit. "Setiap upaya yang memungkinkan sedang dilakukan untuk memobilisasi dukungan helikopter dan semua sumber daya penyelamatan, dengan mempertimbangkan kondisi cuaca dan operasional," demikian pernyataan resmi ACP.
Gubernur Gilgit-Baltistan, Amjad Hussain, telah memerintahkan semua instansi terkait untuk meningkatkan kewaspadaan dan mempercepat operasi pencarian. Tim penyelamat darat dan udara disiagakan meskipun cuaca buruk, dengan harapan dapat bertindak cepat begitu ada peluang. "Kami berdoa untuk keselamatan semua pendaki. Ini insiden besar," ujar Shigri kepada media lokal.
Bagi Indonesia, insiden ini menjadi pengingat akan tingginya minat pendaki Tanah Air terhadap gunung-gunung tinggi di luar negeri, termasuk di Karakoram. Meskipun tidak ada WNI dalam daftar korban, komunitas pendaki Indonesia kerap menjadikan Broad Peak dan K2 sebagai target ekspedisi. Data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mencatat peningkatan jumlah pendaki Indonesia yang mengikuti ekspedisi internasional dalam lima tahun terakhir, meskipun angka pastinya fluktuatif.
Para ahli keselamatan pendakian menilai bahwa musim pendakian 2026 di Pakistan menunjukkan pola cuaca yang lebih tidak stabil dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, kemungkinan dipengaruhi oleh perubahan iklim. Hal ini meningkatkan risiko longsoran salju dan badai mendadak, seperti yang terjadi di Broad Peak. Regulasi yang lebih ketat, termasuk kewajiban pelacak GPS dan asuransi evakuasi, mungkin perlu dipertimbangkan oleh otoritas Pakistan untuk melindungi pendaki asing.
Operasi pencarian masih terus berlanjut, dan dunia menunggu kabar terbaru dari tim penyelamat. Apakah teknologi pelacakan dan koordinasi militer yang cepat mampu mengalahkan keganasan alam? Pertanyaan ini menggantung di udara, sementara keluarga para pendaki menanti dengan cemas.



