Tragedi Feri Filipina: 76 Tewas, Identifikasi Korban Bisa Makan Waktu Berbulan-bulan
Baca dalam 60 detik
- Kebakaran MV June Aster menewaskan 76 orang; 43 selamat dan 13 masih hilang.
- Tim forensik PNP kesulitan mengenali jasad karena kondisi hangus, butuh sampel DNA keluarga.
- Insiden ini menyoroti standar keselamatan pelayaran di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Otoritas Filipina menyatakan proses identifikasi 76 korban tewas dalam kebakaran feri MV June Aster dapat memakan waktu hingga berbulan-bulan. Kapal yang berlayar dari Manila menuju Coron, Palawan, itu terbakar di bagian kargo dan api dengan cepat menjalar ke seluruh kapal pekan lalu.
Richard Allan Mangalip, spesialis forensik dari Kepolisian Nasional Filipina, mengungkapkan bahwa sebagian besar jenazah sudah dalam kondisi hangus sehingga sulit dikenali. "Kami berusaha semaksimal mungkin mengumpulkan tanda-tanda pengenal yang mungkin masih ada," ujarnya kepada wartawan, Minggu (28/7). Pihak berwenang meminta keluarga korban menyerahkan barang pribadi atau sampel DNA untuk mempercepat proses identifikasi.
Hingga kini, 43 orang dinyatakan selamat, sementara 13 lainnya masih belum ditemukan. Mangalip menolak memberikan estimasi pasti kapan identifikasi rampung karena banyaknya spesimen yang harus diperiksa. "Bisa berminggu-minggu, bisa juga berbulan-bulan," tambahnya.
Kebakaran yang diduga berasal dari ledakan di ruang kargo itu memicu kepanikan di atas kapal. Seorang penyintas mengaku kepada BBC bahwa ia terinjak-injak setelah terjatuh, lalu melompat ke laut dan baru diselamatkan beberapa jam kemudian. Banyak penumpang terjebak dan tewas di dalam kapal. Mangalip menyebut beberapa jenazah ditemukan dalam kondisi berkelompok di beberapa bagian kapal.
"Kami turut berduka bagi para penyintas dan keluarga yang masih menanti kabar orang tercinta. Kami memahami rasa sakit dan ketidakpastian yang mereka alami selama proses evakuasi dan identifikasi berlangsung," demikian pernyataan Penjaga Pantai Filipina, Minggu.
Insiden ini kembali menyoroti lemahnya standar keselamatan pelayaran di kawasan Asia Tenggara, terutama untuk kapal feri yang menjadi moda transportasi utama antarpulau. Filipina, negara kepulauan dengan lebih dari 7.000 pulau, sangat bergantung pada feri untuk menghubungkan wilayah-wilayahnya. Namun, armada yang menua dan pengawasan yang longgar kerap menjadi celah. Sebelumnya, pada 1987, kapal feri Dona Paz bertabrakan dengan tanker dan menewaskan lebih dari 4.000 orang—salah satu bencana maritim terburuk di dunia.
Bagi Indonesia, tragedi ini menjadi pengingat akan risiko serupa. Sebagai negara kepulauan terbesar, Indonesia juga mengandalkan kapal feri untuk mobilitas antarpulau, terutama di jalur padat seperti Merak–Bakauheni dan Ketapang–Gilimanuk. Meski Kementerian Perhubungan telah memperketat regulasi keselamatan, insiden kebakaran kapal masih terjadi, seperti yang menimpa KM Santika Nusantara (2019) dan KM Karya Indah (2021). Pengamat transportasi menilai perlunya audit menyeluruh terhadap usia kapal, sistem deteksi dini kebakaran, dan pelatihan kru. "Keselamatan penumpang harus menjadi prioritas tanpa kompromi, bukan sekadar formalitas administratif," ujar seorang analis kebijakan maritim yang enggan disebut namanya.
Penjaga Pantai Filipina menyatakan prioritas saat ini adalah mengidentifikasi korban dan menyelidiki penyebab kebakaran. Sementara itu, keluarga korban yang masih menunggu kepastian nasib kerabat mereka terus mendesak transparansi. Proses identifikasi yang lambat berpotensi memperpanjang penderitaan keluarga, sekaligus menguji kesiapan sistem penanggulangan bencana Filipina. Akankah tragedi ini mendorong perbaikan regulasi keselamatan pelayaran di Asia Tenggara, atau kembali menguap begitu saja?



