Presiden Catalonia Kagumi Model Perumahan Singapura, Bawa Pelajaran untuk Eropa
Baca dalam 60 detik
- Kunjungan Salvador Illa ke Asia menegaskan posisi kawasan ini sebagai prioritas strategis ekonomi Catalonia.
- Model perumahan publik Singapura dinilai relevan untuk mengatasi krisis keterjangkauan hunian di Eropa.
- Catalonia menargetkan investasi asing 6 miliar euro dan 45.000 lapangan kerja baru pada 2030.

Presiden Catalonia, Salvador Illa, menyampaikan kekagumannya terhadap model perumahan publik Singapura yang dinilai mampu menyediakan hunian terjangkau bagi warganya. Dalam kunjungan resminya ke negara kota tersebut, Illa menyebut bahwa pendekatan Singapura dapat menjadi pelajaran berharga bagi Catalonia dan Eropa dalam menghadapi tantangan perumahan yang kian pelik.
Kunjungan Illa ke Singapura merupakan bagian dari tur Asia Tenggara selama lima hari yang juga mencakup Vietnam. Dalam pertemuan dengan Perdana Menteri Lawrence Wong, kedua pemimpin membahas berbagai isu strategis, mulai dari kerja sama pelabuhan, kecerdasan buatan, hingga konektivitas udara antara Barcelona dan Singapura. Namun, perumahan publik menjadi sorotan utama karena Catalonia tengah bergulat dengan masalah keterjangkauan hunian yang memengaruhi banyak warganya.
Illa menegaskan bahwa pelajaran terpenting dari Singapura adalah perumahan tidak boleh diserahkan sepenuhnya pada mekanisme pasar. "Kami punya masalah perumahan di Catalonia, di Spanyol, dan di Eropa. Pelajaran utamanya adalah perumahan bukan sesuatu yang bisa diserahkan pada pasar, dan intervensi publik itu masuk akal," ujarnya. Ia menambahkan bahwa pemerintah harus hadir untuk mengatur dan memastikan warga mendapatkan hunian layak karena itu adalah barang publik yang esensial.
Kunjungan ini merupakan yang ketiga kalinya bagi Illa ke Asia sejak menjabat pada 2024, setelah sebelumnya mengunjungi Jepang, Korea Selatan, dan China. Ia menilai Asia sebagai pusat strategi ekonomi jangka panjang Catalonia. "Ekonomi Catalan dan Spanyol berkinerja baik. Namun untuk terus baik, kami perlu memperkuat hubungan dengan Asia, tempat masa depan dibangun," kata Illa.
Sebelum tiba di Singapura, Illa mengunjungi Vietnam dan bertemu dengan Wakil Perdana Menteri Pham Gia Tuc. Ia juga meninjau langsung operasional perusahaan Catalonia di negara tersebut. Kesepakatan dagang ditandatangani antara Kamar Dagang Barcelona dengan mitranya di Vietnam, sementara agensi perdagangan Catalonia, Accio, menandatangani nota kesepahaman dengan Pusat Inovasi Nasional Vietnam untuk memperkuat kerja sama teknologi dan inovasi.
Dalam pidatonya di depan para pelaku usaha di acara Catalonia-Singapore Business Dialogue yang digelar Singapore Business Federation, Illa mempromosikan Catalonia sebagai salah satu pusat ekonomi dan inovasi terkemuka di Eropa. Ia menyoroti posisi strategis Catalonia sebagai gerbang menuju pasar Eropa dan Mediterania. Sektor logistik, kesehatan, agri-food, dan teknologi disebut sebagai bidang yang menjanjikan bagi investor Singapura.
Illa menegaskan bahwa Catalonia tidak mengejar keuntungan jangka pendek. "Kami tidak tertarik pada kemenangan cepat. Kami menginginkan hubungan yang langgeng dan kokoh," tegasnya. Ia mencontohkan koneksi langsung Singapore Airlines antara Barcelona dan Singapura sebagai bentuk kemitraan jangka panjang yang diharapkan dapat terus diperkuat. Maskapai tersebut telah mengumumkan akan meluncurkan layanan Singapura-Madrid via Barcelona sebanyak lima kali seminggu mulai 26 Oktober, meningkat dari sebelumnya dua kali.
Menurut Illa, Barcelona sebenarnya sudah terhubung baik dengan kota-kota di Eropa, namun langkah berikutnya adalah memperkuat konektivitas udara dengan kota-kota di Asia. "Kami butuh lebih banyak konektivitas dengan kota-kota Asia. Barcelona ingin menjadi hub bagi Asia," ujarnya.
Di luar aspek perdagangan dan investasi, Illa menilai Singapura menawarkan pelajaran yang lebih luas bagi Eropa. Ia memuji kemampuan Singapura untuk tetap berpengaruh meskipun ukurannya kecil, serta keberagaman etnis dan budaya yang dianggap sebagai kekuatan. "Di Eropa, sebagian orang mengatakan keberagaman membuat kita lemah. Tetapi di Singapura, Anda melihat justru sebaliknya. Keberagaman membuat kita kuat," katanya.
Bagi Indonesia, model perumahan publik Singapura juga relevan mengingat tingginya kebutuhan hunian layak di perkotaan. Meski konteks sosial-ekonomi berbeda, intervensi pemerintah dalam penyediaan perumahan dapat menjadi bahan pembelajaran. Sementara itu, meningkatnya konektivitas udara antara Barcelona dan Singapura berpotensi membuka peluang kerja sama lebih luas dengan kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, baik di bidang perdagangan, investasi, maupun pariwisata. Pertanyaannya, apakah negara-negara Eropa lainnya akan mengikuti jejak Catalonia dalam menjadikan Asia sebagai prioritas strategis?



