Pendapatan Angkor Anjlok 29 Persen: Pariwisata Kamboja Tertekan Ekonomi Global
Baca dalam 60 detik
- Pendapatan tiket Angkor turun 29% menjadi US$20,3 juta pada Januari-Juli 2026, dengan kunjungan turis internasional merosot 30,7%.
- Penurunan ini dipicu perlambatan ekonomi global, kekhawatiran penipuan online, serta ketegangan di perbatasan Thailand dan konflik Timur Tengah.
- Kamboja perlu diversifikasi pasar wisata dan meningkatkan keamanan untuk memulihkan sektor pariwisata yang vital bagi ekonominya.

Pendapatan dari penjualan tiket masuk Taman Arkeologi Angkor di Kamboja tercatat US$20,3 juta sepanjang Januari hingga Juli 2026, atau merosot 29 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai US$28,6 juta. Angka ini menjadi sinyal kuat bahwa sektor pariwisata andalan Kamboja tengah menghadapi tekanan berat di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Laporan resmi Angkor Enterprise yang dirilis awal Agustus menunjukkan jumlah wisatawan mancanegara yang mengunjungi situs warisan dunia UNESCO ini hanya mencapai 428.223 orang, turun 30,7 persen dari 618.771 kunjungan pada periode yang sama di 2025. Penurunan tajam ini tidak hanya terjadi secara kumulatif; pada Juli 2026 saja, kedatangan turis asing anjlok 21 persen secara tahunan menjadi 40.451 orang, dengan pendapatan tiket bulanan menyusut 20 persen menjadi US$1,85 juta.
Angkor, yang membentang seluas 401 kilometer persegi di Provinsi Siem Reap, merupakan destinasi utama Kamboja dengan 91 candi kuno yang dibangun antara abad kesembilan dan ke-13. Namun, daya tarik historisnya tampaknya tidak cukup untuk menahan dampak dari berbagai faktor eksternal. Thong Mengdavid, wakil direktur Pusat Studi China-ASEAN di Universitas Teknologi dan Sains Kamboja, menilai penurunan ini dipicu oleh perlambatan ekonomi global dan regional, meningkatnya kekhawatiran akan penipuan online, serta ketegangan di perbatasan dengan Thailand.
Konflik di Timur Tengah juga disebut memperparah situasi. "Kenaikan harga bahan bakar dan gangguan jadwal penerbangan global akibat konflik tersebut telah membuat perjalanan internasional semakin mahal dan tidak pasti," ujar Mengdavid. Kondisi ini jelas berdampak pada minat wisatawan untuk berkunjung ke destinasi yang membutuhkan penerbangan jarak jauh, termasuk Kamboja.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi pelajaran berharga. Pariwisata kita juga rentan terhadap gejolak global, seperti yang terlihat pada penurunan kunjungan saat pandemi. Meski kini mulai pulih, tantangan seperti daya beli masyarakat yang melemah dan persaingan destinasi regional tetap menjadi pekerjaan rumah. Pemerintah Indonesia perlu memperkuat strategi pemasaran yang lebih adaptif, misalnya dengan menargetkan wisatawan dari pasar yang sedang tumbuh seperti Asia Selatan dan Timur Tengah, serta meningkatkan keamanan dan kenyamanan wisatawan untuk menjaga kepercayaan.
Penurunan ini juga menyoroti pentingnya diversifikasi pasar wisata. Kamboja selama ini sangat bergantung pada wisatawan dari China, yang belum sepenuhnya pulih pasca-pandemi. Sementara itu, isu penipuan online yang melibatkan warga asing di kawasan perbatasan Kamboja-Thailand telah mencoreng citra keamanan negara tersebut. Hal serupa pernah terjadi di Indonesia dengan kasus penipuan daring di beberapa destinasi, sehingga pengawasan ketat dan penegakan hukum menjadi krusial.
Ke depan, Kamboja perlu berbenah. Pemerintah setempat mungkin perlu mempertimbangkan strategi promosi yang lebih agresif, perbaikan infrastruktur, serta insentif bagi maskapai penerbangan untuk membuka rute baru. Pertanyaannya, mampukah Kamboja membalikkan tren ini sebelum akhir tahun? Atau justru ini menjadi momentum bagi negara-negara tetangga, termasuk Indonesia, untuk merebut pangsa pasar wisatawan yang dialihkan dari Angkor? Jawabannya akan menentukan arah persaingan pariwisata di kawasan ASEAN.



