Dari Medan Tempur ke Rel Kereta: Veteran Laos-China Menjaga Jalur Kereta Perkasa
Baca dalam 60 detik
- Mantan prajurit Laos dan teknisi China membentuk tim perawatan jalur kereta api China-Laos, menggabungkan disiplin militer dengan keahlian teknis.
- Program magang di bengkel Meuangxay menjadi model transfer pengetahuan, mengatasi kendala bahasa dan teknis bagi pekerja lokal.
- Keberhasilan kolaborasi ini berpotensi menjadi cetak biru bagi proyek infrastruktur serupa di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Di bawah sorot lampu Stasiun Meuangxay, Laos, pada Sabtu dini hari (1/8), Bounyadeth Thepvongsa, seorang pekerja perawatan jalur kereta asal Laos, berjalan menyusuri rel. Dengan alat ukur di tangan, ia memeriksa setiap sambungan rel, memastikan tidak ada penyimpangan yang membahayakan operasional kereta. Di sampingnya, Li Li, mentor asal China, mengawasi dengan teliti. Mereka adalah bagian dari tim perawatan komprehensif yang bertugas menjaga kelancaran Kereta Api China-Laos, proyek ambisius yang menghubungkan dua negara.
Keduanya bukan sekadar rekan kerja. Bounyadeth dan Li Li sama-sama pernah mengabdi di militer, menjaga keamanan negara masing-masing. Kini, mereka mengemban misi baru: melindungi jalur kereta yang menjadi simbol persahabatan bilateral. Bounyadeth, yang pensiun dari kemiliteran, mengaku langsung tertarik bergabung dengan proyek kereta api modern pertama di Laos. "Laos kini punya kereta api modern, dan saya ingin menjadi bagian darinya," ujarnya. Untuk mewujudkan impian itu, ia belajar bahasa China dari nol dan berhasil lolos seleksi rekrutmen pada 2021, menjadi salah satu karyawan lokal pertama Laos-China Railway Co. Ltd. (LCRC).
Tantangan awal yang dihadapi Bounyadeth tidak mudah. Ia harus menguasai terminologi teknis berbahasa China, memahami prinsip kerja peralatan kereta, dan menghafal standar operasional. Di sinilah peran Li Li, seorang spesialis perawatan jalur dengan pengalaman lebih dari 20 tahun dari Biro Grup Kereta Api Kunming, China. Sejak ditugaskan sebagai mandor tim perawatan di bengkel Meuangxay pada Maret 2025, Li Li menjadikan lokasi kerja sebagai ruang kelas. Setiap tugas menjadi pelajaran praktis, dan setiap kesalahan dianalisis bersama. "Mengapa masalah ini terjadi? Apa yang akan terjadi jika kereta melintas di bagian ini?" Pertanyaan-pertanyaan kritis dari Li Li memaksa Bounyadeth berpikir analitis sebelum bertindak.
Di luar pekerjaan, hubungan mereka berkembang menjadi persahabatan. Bounyadeth mengajari Li Li bahasa Laos sehari-hari, sementara Li Li berbagi cerita tentang budaya dan kampung halaman. "Dulu saya memakai seragam militer untuk melindungi tanah air. Sekarang, saya memakai seragam kerja untuk melindungi kereta api," kata Bounyadeth. Li Li menambahkan, "Menjaga keselamatan kereta api berarti melindungi perjalanan masyarakat kedua negara dan mendukung pembangunan sosial." Kolaborasi ini bukan hanya tentang perawatan infrastruktur, tetapi juga transfer pengetahuan dan pembangunan kapasitas sumber daya manusia lokal.
Bagi Indonesia, kisah ini relevan dengan proyek kereta cepat Whoosh yang juga melibatkan transfer teknologi dari China. Meski skala dan kompleksitas berbeda, pola kemitraan antara teknisi asing dan pekerja lokal menjadi kunci keberhasilan. Pengalaman Laos menunjukkan bahwa investasi dalam pelatihan dan pendampingan jangka panjang mampu menciptakan tenaga ahli lokal yang mandiri. Hal ini sejalan dengan upaya Indonesia untuk meningkatkan partisipasi tenaga kerja domestik dalam proyek infrastruktur strategis.
Ke depan, keberhasilan program magang di Laos dapat menjadi model bagi negara-negara Asia Tenggara lainnya yang menjalin kerja sama infrastruktur dengan China. Pertanyaannya, apakah Indonesia akan mengadopsi pendekatan serupa untuk memastikan keberlanjutan operasional proyek kereta cepatnya? Atau justru mengembangkan skema pelatihan yang lebih adaptif dengan kebutuhan lokal? Jawabannya akan menentukan apakah kolaborasi semacam ini hanya menjadi proyek fisik, atau benar-benar membangun kapasitas manusia yang berkelanjutan.



