Laos Gencar Promosi Wisata: Target Pasar China dan Perkuat Daya Saing ASEAN
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Laos meluncurkan strategi promosi pariwisata multi-kanal, termasuk media sosial, pameran internasional, dan peningkatan pusat informasi wisata.
- Program Visit Laos-China Year 2026 diusulkan untuk menarik wisatawan China dan asing, seiring peringatan 65 tahun hubungan diplomatik kedua negara.
- Fokus jangka panjang 2026-2030 adalah riset pasar, ekspansi kampanye, dan kolaborasi dengan negara ASEAN serta mitra dagang untuk memperkuat sektor pariwisata.

Pemerintah Laos mempercepat langkah promosi pariwisata dengan menggarap beragam kanal pemasaran, mulai dari media sosial hingga pameran dagang internasional. Langkah ini diambil untuk mengejar pertumbuhan jumlah kunjungan wisatawan, terutama dari China, sekaligus memperkuat posisi industri pariwisata sebagai penopang ekonomi nasional. Rencana tersebut mengemuka dalam pertemuan pengembangan pariwisata di Vientiane yang dipimpin Wakil Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Darany Phommavongsa, dan dihadiri para pelaku usaha serta pejabat terkait.
Dalam laporan yang disampaikan Direktur Jenderal Departemen Pemasaran dan Promosi Pariwisata, Manisakhone Thammavongxay, terungkap bahwa Laos akan mengoptimalkan platform digital domestik, menggandeng para influencer, serta memanfaatkan jaringan kedutaan besar di luar negeri untuk memperluas jangkauan promosi. Selain itu, kehadiran Laos di pameran pariwisata regional dan internasional akan ditingkatkan guna menarik lebih banyak calon wisatawan. Upaya ini juga mencakup renovasi pusat informasi wisata di berbagai daerah agar pengunjung mendapatkan data yang akurat dan terkini.
Salah satu program unggulan yang tengah diajukan untuk mendapatkan persetujuan pemerintah adalah Visit Laos-China Year. Program ini dirancang untuk menarik wisatawan China dan mancanegara lainnya untuk menelusuri destinasi di sepanjang jalur Kereta Api Laos-China, sekaligus merayakan 65 tahun hubungan diplomatik kedua negara. Kereta api yang menjadi ikon konektivitas regional ini diharapkan menjadi magnet baru bagi wisatawan, mengingat akses yang semakin mudah dari Yunnan, China, ke ibu kota Vientiane.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi sinyal penting dalam dinamika pariwisata ASEAN. Laos yang selama ini dikenal sebagai destinasi tersembunyi kini mulai agresif mempromosikan diri, berpotensi mengalihkan sebagian minat wisatawan yang sebelumnya berkunjung ke Bali atau destinasi lain di Indonesia. Namun, hal ini juga membuka peluang kolaborasi, misalnya dalam paket wisata terpadu ASEAN atau promosi silang melalui maskapai penerbangan. Direktur Eksekutif Indonesia Tourism Board, yang enggan disebut namanya, menilai bahwa persaingan ini justru memacu inovasi destinasi dalam negeri.
Wakil Menteri Darany menegaskan bahwa pariwisata merupakan sumber pendapatan utama dan pilar kunci pembangunan sosial-ekonomi Laos. Sektor ini berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi melalui rantai layanan yang luas, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan pendapatan masyarakat lokal. Ia juga menyoroti peran swasta dalam mengembangkan produk wisata berkualitas dan mempromosikan keindahan alam, budaya, serta sejarah Laos ke panggung dunia. "Kami melihat sektor ini semakin kokoh di kancah regional dan global," ujarnya dalam pertemuan tersebut.
Untuk periode 2026 hingga 2030, otoritas pariwisata Laos akan memprioritaskan kajian potensi pasar, perluasan kampanye promosi ke kelompok sasaran yang lebih spesifik, serta penguatan kerja sama dengan negara-negara ASEAN, mitra dagang, dan organisasi internasional. Langkah ini menunjukkan bahwa Laos tidak hanya berorientasi jangka pendek, melainkan membangun fondasi pariwisata berkelanjutan yang mampu bersaing di kancah global.
Ke depan, pertanyaannya adalah seberapa efektif strategi ini dalam mengubah wajah pariwisata Laos, yang selama ini masih kalah populer dibandingkan Thailand atau Vietnam. Dengan dukungan infrastruktur kereta api dan agresivitas promosi, bukan tidak mungkin Laos akan menjadi destinasi berikutnya yang dilirik wisatawan dunia. Bagi Indonesia, ini menjadi pengingat bahwa inovasi dan adaptasi adalah kunci untuk tetap relevan di tengah persaingan regional yang semakin ketat.



