Dari Tribun Brescia ke Tottenham: Filosofi Ultra De Zerbi yang Menghidupkan Kembali Spurs
Baca dalam 60 detik
- Manajer Tottenham, Roberto De Zerbi, membawa nilai-nilai keras dari masa kecilnya di Brescia, Italia, ke klub London Utara, membentuk gaya kepelatihannya yang khas.
- Rekrutan anyar Spurs, Sandro Tonali, juga berasal dari kota yang sama, memperkuat ikatan emosional antara klub dan Brescia di tengah kebangkrutan klub lamanya.
- Krisis finansial Brescia Calcio menyoroti rapuhnya ekosistem sepak bola Italia, sementara De Zerbi dan Tonali menjadi simbol ketahanan dan kesetiaan pada akar budaya.

Ketika Tottenham Hotspur menunjuk Roberto De Zerbi sebagai manajer, banyak yang melihatnya sebagai langkah berani. Namun, di balik keputusan itu tersimpan kisah tentang akar budaya yang dalam: De Zerbi dibesarkan di tribun Stadio Mario Rigamonti, Brescia, oleh ayahnya yang fanatik sepak bola. Kini, pengaruh kota kecil di Lombardia itu terasa di N17, markas Spurs, terutama dengan kedatangan Sandro Tonali, rekrutan termahal klub yang juga putra asli Brescia.
De Zerbi, yang menyelamatkan Spurs dari degradasi musim lalu, mengaku dirinya "lahir sebagai ultra". Ayahnya, Alfredo, adalah pemimpin kelompok suporter Brescia, dan sejak kecil De Zerbi menghabiskan waktu di kurva stadion, menyaksikan latihan, dan menyiapkan koreografi dukungan. "Di rumah, kami hidup dan bernapas dengan sepak bola," katanya dalam buku *Football According to Roberto de Zerbi* karya Salim Lamrani. Pengalaman ini membentuk karakternya yang keras, loyal, dan dekat dengan rakyat—nilai-nilai yang kini ia bawa ke ruang ganti Tottenham.
Koneksi Brescia di Tottenham tidak berhenti di De Zerbi. Sandro Tonali, gelandang yang diboyong dengan rekor transfer £100 juta, bergabung dengan akademi Brescia pada usia 12 tahun dan debut di tim utama saat berusia 17 tahun. Ia membantu klub promosi ke Serie A sebelum pindah ke AC Milan pada 2020. Tonali mengaku hanya butuh sepuluh menit untuk memutuskan bergabung dengan Spurs, sebagian karena kedekatannya dengan De Zerbi. "Brescia itu kecil. Saya bertemu dia beberapa kali, dan kami berbicara tentang kota kami serta situasi sulit klub," ujar Tonali kepada BBC Sport.
Namun, di balik romantisme itu, ada ironi pahit. Brescia Calcio, klub yang membesarkan Tonali, baru saja dinyatakan bangkrut oleh pengadilan Italia pekan ini. Klub yang dimiliki Massimo Cellino itu sudah dikeluarkan dari sepak bola profesional musim panas lalu karena masalah keuangan. Sebagai gantinya, Union Brescia didirikan dan kini bermain di Serie C, mewarisi stadion yang sama. Tonali, yang sempat menonton play-off Union Brescia bersama istrinya, tetap memantau perkembangan klub lamanya. Meski begitu, Brescia Calcio yang berhak atas 3,5 persen dari biaya transfer Tonali—sekitar £3,5 juta—melalui skema solidaritas FIFA, kini tidak jelas nasibnya setelah putusan pengadilan.
Kisah De Zerbi dan Tonali bukan sekadar nostalgia. Ini cermin dari krisis finansial yang melanda klub-klub Italia, terutama di luar liga top. Bagi pengamat sepak bola, kebangkrutan Brescia adalah peringatan akan bahaya manajemen yang buruk dan utang yang menumpuk. Namun, di tengah kehancuran itu, ada semangat baru: Union Brescia, yang diharapkan menjadi penerus tradisi klub. De Zerbi, yang pernah berjasa sebagai pemain pinjaman di Brescia pada 2008, tetap terikat emosional dengan kota itu. Ia bahkan menunjukkan gestur "V" khas Brescia saat Marseille-nya menghadapi Atalanta di Liga Champions musim lalu, sebuah simbol rivalitas yang mengakar.
Bagi pembaca di Indonesia, kisah ini relevan dengan fenomena klub-klub besar yang merekrut pemain dari daerah tertinggal, atau manajer yang membawa identitas lokal ke panggung global. De Zerbi adalah contoh bagaimana latar belakang kelas pekerja dapat membentuk filosofi kepelatihan yang otentik. Ia tidak pernah melupakan asal-usulnya: setelah menandatangani kontrak profesional pertamanya dengan AC Milan, ia langsung membelikan rumah untuk orang tuanya. "Sukses tidak pernah membuatnya meninggalkan prinsip atau nilainya," kata Salim Lamrani, yang juga bekerja dengan Marcelo Bielsa di Leeds United. "Ia tahu persis di sisi mana barikade ia berdiri: bersama rakyat."
Kini, De Zerbi menghadapi tantangan baru di Tottenham: membangun tim yang konsisten dan bersaing di papan atas Liga Inggris. Dengan Tonali di lini tengah, ia memiliki pemain yang memahami nilai-nilainya. Namun, pertanyaan besarnya adalah: dapatkah filosofi "ultra" yang lahir dari tribun Brescia bertahan di tengah tekanan finansial dan ekspektasi tinggi di Premier League? Atau akankah ia justru menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas, seperti yang ia lakukan di Marseille? Hanya waktu yang akan menjawab, tetapi satu hal pasti: Brescia akan selalu menjadi bagian dari DNA Tottenham.



