Sampah Jadi Busana: Lomba Daur Ulang Kelurahan Kemanggisan Rayakan HUT ke-81 RI
Baca dalam 60 detik
- Kelurahan Kemanggisan menggelar lomba busana berbahan sampah daur ulang untuk memeriahkan HUT ke-81 RI, dengan pendaftaran ditutup 10 Agustus 2026.
- Inisiatif ini mengimplementasikan Instruksi Gubernur DKI Jakarta Nomor 5 Tahun 2026 tentang pemilahan sampah, sekaligus mengedukasi warga melalui kreasi fashion.
- Pemenang lomba akan menerima hadiah uang tunai pada malam puncak peringatan kemerdekaan, memperkuat semangat lingkungan di tengah perayaan.

Kelurahan Kemanggisan, Palmerah, Jakarta Barat, mengubah sampah menjadi panggung kreativitas dalam lomba busana daur ulang yang digelar untuk menyambut HUT ke-81 Republik Indonesia. Ajang yang berlangsung di RPTRA Manggis pada 19 Agustus 2026 ini tidak sekadar memeriahkan perayaan kemerdekaan, tetapi juga menjadi medium edukasi pengelolaan sampah yang menyasar warga dari berbagai kalangan.
Lurah Kemanggisan, Tubagus Rafiudin, menegaskan bahwa lomba ini terbuka untuk umum, dengan setiap RW dapat mengirimkan hingga dua perwakilan, terutama kader PKK. Peserta ditantang menciptakan busana unik dari limbah seperti plastik, tutup botol, dan kardus, yang dapat disulap menjadi gaun pesta, pakaian adat, atau kostum pahlawan. Pendaftaran sendiri akan ditutup pada 10 Agustus 2026, memberi waktu sekitar tiga pekan bagi warga untuk berkreasi.
Di balik kemeriahan acara, terselip misi lingkungan yang lebih dalam. Rafiudin mengaitkan kegiatan ini dengan Instruksi Gubernur DKI Jakarta Nomor 5 Tahun 2026 tentang gerakan pemilahan dan pengolahan sampah pada sumbernya. Dengan mengangkat sampah menjadi karya fashion, pemerintah kelurahan berharap warga tidak lagi memandang limbah sebagai barang tak berguna, melainkan sebagai bahan baku yang bernilai estetika dan ekonomi.
Lomba ini juga menjadi bagian dari rangkaian perayaan HUT RI di tingkat kelurahan, dengan pemenang yang akan diumumkan pada malam puncak peringatan kemerdekaan. Hadiah berupa uang tunai disiapkan sebagai apresiasi, sekaligus memacu partisipasi warga. Namun, lebih dari sekadar kompetisi, acara ini menggarisbawahi peran aktif komunitas dalam mendukung kebijakan pengelolaan sampah perkotaan yang selama ini menjadi tantangan besar di Jakarta.
Konteks ini relevan mengingat Jakarta masih bergulat dengan masalah sampah yang kompleks. Data Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta menunjukkan volume sampah yang mencapai ribuan ton per hari, dengan sebagian besar berasal dari rumah tangga. Inisiatif seperti lomba busana daur ulang ini menjadi langkah konkret yang menyentuh akar masalah: perubahan perilaku warga. Jika berhasil, model ini bisa direplikasi oleh kelurahan lain sebagai strategi komunikasi publik yang kreatif.
Rafiudin menambahkan, "Melalui lomba ini, kami ingin mengajak warga untuk lebih peduli terhadap lingkungan. Sampah yang selama ini dianggap tidak berguna, ternyata bisa menjadi busana yang indah dan kreatif, serta menanamkan semangat cinta lingkungan dalam balutan kemerdekaan." Pernyataan ini menegaskan bahwa perayaan kemerdekaan tidak melulu soal seremonial, tetapi juga momentum untuk memperkuat kesadaran kolektif akan keberlanjutan.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah inisiatif serupa akan diadopsi lebih luas oleh kelurahan lain di Jakarta. Dengan adanya instruksi gubernur yang mendukung, bukan tidak mungkin lomba daur ulang menjadi tradisi tahunan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga membawa dampak nyata bagi pengurangan sampah. Apakah warga Jakarta siap menjadikan kreativitas sebagai senjata melawan darurat sampah?



