Kemajuan Langka dalam Negosiasi Gencatan Senjata Gaza: Hamas Siap Serahkan Senjata Berat
Baca dalam 60 detik
- Mediator di Kairo mencatat titik terang dalam pembicaraan fase kedua rencana perdamaian Gaza yang digagas AS, dengan Hamas dilaporkan menyetujui penyerahan senjata berat ke badan Palestina.
- Israel tetap bersikukuh pada tuntutan pelucutan senjata total Hamas sebagai prasyarat, sementara proposal 15 poin yang dibahas dinilai belum memuaskan.
- Kesepakatan masih bergantung pada respons Israel dan definisi infrastruktur militan yang akan dibongkar, dengan korban jiwa terus berjatuhan di lapangan.

Pembicaraan damai Gaza yang mandek selama berbulan-bulan akhirnya menunjukkan secercah harapan. Negosiasi di Kairo antara mediator internasional dan pimpinan Hamas pada Kamis (30/7) dilaporkan mencapai kemajuan yang jarang terjadi, meskipun Israel masih menyatakan keberatan terhadap sejumlah poin krusial.
Seorang pejabat Hamas dan diplomat yang dekat dengan perundingan menggambarkan diskusi berlangsung "positif" dan "mengarah pada kemajuan". Namun, mereka mengakui bahwa hasil akhir sangat tergantung pada respons Israel. Sumber-sumber di Kairo menyebut Hamas telah menyetujui beberapa poin kontroversial, termasuk penyerahan senjata berat, meskipun masih meminta perubahan terkait definisi infrastruktur yang akan dibongkar.
Di sisi lain, seorang pejabat Israel yang enggan disebut namanya menegaskan bahwa negaranya menolak proposal yang ada. "Israel menuntut pelucutan senjata Hamas secara total, termasuk penghapusan senjata dari Gaza dan demiliterisasi penuh jalur tersebut sebagai prasyarat untuk proses apa pun," ujarnya. Dokumen 15 poin yang dibahas dinilai tidak memberikan respons memuaskan terhadap tuntutan ini.
Peta jalan yang dibahas di Kairo mengadopsi prinsip "satu otoritas, satu hukum, satu senjata". Otoritas akan dialihkan secara bertahap ke Komite Nasional Administrasi Gaza (NCAG) yang didukung AS. Rencana tersebut mencakup penghancuran terowongan, gudang senjata, dan fasilitas produksi persenjataan. Seorang diplomat menggambarkan pendekatan ini didasarkan pada langkah timbal balik, bukan kepercayaan.
Namun, kesenjangan antara meja perundingan dan realitas di lapangan masih lebar. Militer Israel terus memperluas pendudukannya, sementara serangan udara nyaris setiap hari masih terjadi. Pada hari yang sama, serangan Israel menewaskan sedikitnya enam warga Palestina, termasuk dua anak-anak, menurut petugas medis.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi strategis. Sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar dan anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB, Indonesia kerap menyuarakan dukungan bagi kemerdekaan Palestina. Setiap kemajuan menuju perdamaian di Gaza dapat memperkuat posisi diplomasi Indonesia di forum internasional, sekaligus membuka peluang bagi keterlibatan lebih lanjut dalam misi kemanusiaan atau stabilisasi pasca-konflik.
Pertanyaan besarnya kini: mampukah kedua belah pihak menjembatani perbedaan fundamental, terutama soal definisi infrastruktur militan dan nasib senjata ringan? Atau akankah siklus kekerasan terus berulang, mengubur harapan yang baru saja muncul?



