Fenomena Moto-Vlog di Chongqing: Dari Hobi Lokal Menjadi Magnet Wisatawan Asing
Baca dalam 60 detik
- Turis asing kini membanjiri Chongqing untuk membuat video bergaya pembalap di atas motor sport, dengan tarif mencapai 200 yuan per paket.
- Fenomena ini didorong oleh video viral di Douyin yang telah ditonton 1,3 miliar kali, mengangkat budaya motor kota tersebut ke panggung nasional dan internasional.
- Ke depannya, tren ini berpotensi mendorong industri motor China, termasuk merek lokal seperti ZXMoto, untuk semakin dikenal di pasar global.

Gemuruh mesin motor memecah malam di kota Chongqing, Tiongkok, saat para turis dengan canggung menaiki motor sport mengilap dan memeluk pengendara berotot untuk merekam video pribadi yang dipesan khusus. Pemandangan ini bukan lagi sekadar atraksi lokal, melainkan magnet baru yang menarik wisatawan dari berbagai penjuru dunia, termasuk dari Indonesia.
Fenomena yang berawal dari aksi saling memotret antar pengendara lokal ini meledak tahun lalu seiring melonjaknya kunjungan wisatawan ke kota berpenduduk 23 juta jiwa itu. Tagar khusus di Douyin, versi Tiongkok dari TikTok, telah mengumpulkan 1,3 miliar penayangan, mengangkat budaya motor Chongqing ke tingkat nasional dan bahkan mendapat pengakuan internasional. Kini, sekitar sepertiga pelanggan setiap malam adalah turis asing, mengisi celah yang ditinggalkan oleh menurunnya minat wisatawan domestik.
Chongqing memang memiliki sejarah panjang sebagai pusat industri motor. Sejak 1979, ketika pabrikan militer Jialing mulai memproduksi motor sipil, kota ini berkembang menjadi basis manufaktur yang kini menyumbang lebih dari sepertiga produksi motor nasional. Berbeda dengan kota-kota lain yang didominasi skuter listrik, Chongqing tetap terbuka terhadap motor berbahan bakar bensin, menjadikannya surga bagi pengendara. Kondisi geografis yang berbukit dan kemacetan lalu lintas turut mendorong popularitas motor sebagai moda transportasi utama.
Bagi para pengendara lokal, tren ini adalah peluang bisnis yang menggiurkan. Paket foto dan video yang dikoreografikan, di mana pelanggan diarak dengan gaya pembalap melintasi landmark kota, dibanderol mulai 200 yuan atau sekitar Rp450 ribu. Li Yan, pengendara berusia 26 tahun, mengaku kini bisa meraup hingga 1.000 yuan per malam. Timnya yang beranggotakan tujuh orang bekerja sama memasarkan jasa secara online, mengendarai motor, dan mengedit video. Setiap pengendara rata-rata melayani enam hingga dua belas pelanggan per malam.
Kemenangan ZXMoto sebagai pabrikan Tiongkok pertama yang memenangi balapan WorldSSP di Portugal pada Maret lalu turut mengobarkan minat generasi muda. Zhang Yuanming, instruktur balap di pinggiran kota, menilai prestasi ini mendorong anak muda untuk lebih dekat dengan motor. "Itu mendorong anak muda untuk mengenal motor," katanya. Ia berharap pariwisata semakin memperkuat reputasi Chongqing sebagai kota biker.
Bagi wisatawan asing seperti Alex Schodorowska dari Inggris, pengalaman ini adalah 'must do' saat berkunjung ke Chongqing. "Tidak ada tempat dengan pemandangan seperti ini, dengan semua lampu," ujarnya. Ia menambahkan, "Saya rasa tidak banyak tempat yang bisa memberikan efek video yang sama."
Fenomena ini menarik untuk dicermati dari perspektif Indonesia. Industri motor Tanah Air, yang juga memiliki basis penggemar besar, bisa belajar dari bagaimana Chongqing mengemas budaya otomotif menjadi atraksi wisata. Apakah kota-kota seperti Bandung atau Yogyakarta akan mampu meniru kesuksesan serupa? Dengan meningkatnya minat wisatawan asing ke Indonesia, peluang untuk mengembangkan wisata tematik berbasis otomotif tampaknya masih terbuka lebar.



