Ekonomi Thailand Stabil di Juni: Konsumsi dan Ekspor Menopang, Manufaktur dan Pariwisata Melemah
Baca dalam 60 detik
- Bank of Thailand mencatat pertumbuhan ekonomi Juni 2026 relatif stabil, didorong konsumsi rumah tangga dan ekspor barang elektronik.
- Sektor manufaktur dan pariwisata terkoreksi, dengan produksi minyak menurun dan kunjungan turis asing berkurang.
- Ekonomi Thailand kuartal II-2026 melemah akibat harga energi tinggi dan konflik Timur Tengah, namun prospek tetap positif.

Bank of Thailand (BoT) melaporkan pertumbuhan ekonomi Negeri Gajah Putih pada Juni 2026 secara bulanan tetap stabil. Kenaikan konsumsi swasta dan ekspor berhasil mengimbangi penurunan output manufaktur serta melemahnya sektor pariwisata. Data yang dirilis Jumat (31/7) ini memberikan sinyal bahwa perekonomian Thailand masih bertahan di tengah tekanan eksternal yang beragam.
Konsumsi rumah tangga tercatat naik 1,1 persen dibanding bulan sebelumnya, ditopang oleh belanja barang konsumsi yang didorong stimulus pemerintah. Menariknya, penjualan kendaraan listrik (EV) ikut melonjak seiring harga bahan bakar minyak yang tinggi dan pergeseran preferensi masyarakat menuju mobilitas hijau. Sementara itu, investasi swasta tumbuh 0,5 persen, sejalan dengan peningkatan ekspor barang berteknologi yang dipacu siklus elektronik global dan investasi pusat data.
Namun, di sisi lain, output manufaktur justru turun. Penyebab utamanya adalah berkurangnya produksi minyak bumi akibat pemeliharaan kilang secara parsial dan penurunan produksi kendaraan non-EV. Asisten Gubernur BoT, Chayawadee Chai-anant, mengungkapkan bahwa sektor pariwisata juga melambat, tercermin dari penurunan penerimaan dan jumlah wisatawan asing, terutama dari pasar jarak pendek. Hal ini dipicu oleh permintaan yang rendah dan berkurangnya layanan penerbangan di tengah melonjaknya biaya energi.
Untuk kuartal kedua 2026, ekonomi Thailand mengalami pelambatan dibanding tiga bulan sebelumnya. Faktor utamanya adalah harga energi yang tinggi dan gangguan perjalanan akibat konflik Timur Tengah. Meski demikian, BoT tetap optimistis terhadap prospek ke depan. Pertumbuhan diproyeksikan ditopang oleh ekspor dan investasi swasta yang didorong siklus elektronik, serta langkah-langkah pemerintah untuk meningkatkan konsumsi domestik.
Bagi Indonesia, kondisi ekonomi Thailand ini memberikan gambaran menarik. Sebagai sesama negara ASEAN, Indonesia dapat memetik pelajaran dari ketahanan konsumsi domestik Thailand di tengah gejolak global. Kebijakan stimulus yang tepat sasaran, seperti yang dilakukan pemerintah Thailand, terbukti mampu menjaga daya beli masyarakat. Selain itu, tren adopsi EV yang meningkat di Thailand sejalan dengan upaya Indonesia mengembangkan ekosistem kendaraan listrik. Namun, pelemahan sektor pariwisata Thailand juga menjadi pengingat bahwa sektor ini rentan terhadap gejolak eksternal, seperti yang pernah dialami Indonesia saat pandemi.
Ke depan, BoT akan mencermati beberapa faktor risiko, antara lain eskalasi ketegangan geopolitik, kebijakan perdagangan global, pemulihan sektor pariwisata, dampak kebijakan pemerintah, serta fenomena El Nino yang dapat mempengaruhi sektor pertanian. Pertanyaannya, mampukah Thailand menjaga momentum pertumbuhan di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi? Atau akankah tekanan eksternal semakin menggerus fundamental ekonomi? Semua itu akan menjadi ujian bagi ketahanan ekonomi Thailand dalam beberapa bulan mendatang.



