Jaringan Vape Berisi Narkoba di Vietnam Dibongkar: 4 WNI Singapura dan 61 Tersangka Lain Ditangkap
Baca dalam 60 detik
- Polisi Vietnam menangkap 65 orang, termasuk empat warga Singapura, dalam penggerebekan jaringan narkoba yang menyuntikkan cairan etomidate ke dalam pod rokok elektrik.
- Dua tersangka utama, Melvin Tan Junjie (Singapura) dan Hoo Jia How (Malaysia), ditangkap di Ho Chi Minh City bersama ribuan kartrid dan 140 ml cairan berbahaya.
- Etomidate, yang baru diklasifikasikan sebagai narkotika di Vietnam tahun ini, menimbulkan risiko kesehatan serius dan memicu kekhawatiran akan penyalahgunaan di kawasan Asia Tenggara.

Kepolisian Vietnam membongkar sindikat penyelundupan narkoba yang menyamar sebagai bisnis rokok elektrik, menangkap 65 orang termasuk empat warga Singapura dan empat warga Malaysia. Jaringan ini diduga menyuntikkan cairan yang mengandung etomidate—obat anestesi yang kini disalahgunakan—ke dalam pod vape, lalu mendistribusikannya ke pelanggan lokal dan asing.
Penggerebekan yang berlangsung sejak awal Juli ini berpuncak pada penangkapan dua otak kejahatan, Melvin Tan Junjie (30) asal Singapura dan Hoo Jia How (30) asal Malaysia, di sebuah rumah sewa di Cau Ong Lanh, Ho Chi Minh City. Dari lokasi tersebut, polisi menyita 1.331 kartrid rokok elektrik dan 140 mililiter cairan yang mengandung etomidate. Seorang warga Singapura lainnya, Oh Jang Fong, ditangkap karena diduga memasok cairan tersebut.
Etomidate, yang lazim digunakan sebagai anestesi dalam dunia medis, kini semakin sering dicampurkan ke dalam cairan vape. Di Vietnam, zat ini resmi diklasifikasikan sebagai narkotika pada awal tahun ini. Efeknya yang berbahaya meliputi kantuk ekstrem, penurunan kesadaran, pusing, bicara melambat, hingga kesulitan berjalan, dan dapat berujung pada kematian pada kasus yang parah.
Menurut pernyataan resmi Departemen Investigasi Kejahatan Narkoba Kepolisian Ho Chi Minh City, penyelidikan dimulai setelah petugas mendeteksi tanda-tanda operasi ilegal pada awal Juli. Setelah pengawasan berbulan-bulan, polisi menggerebek rumah sewa tersebut dan kemudian membongkar dua jaringan distribusi tambahan, sehingga total tersangka mencapai 65 orang. Otoritas menduga pod vape yang sudah diisi narkoba dijual kepada pelanggan Vietnam dan asing, dengan sebagian pembeli diduga menjualnya kembali atau menggunakannya untuk pesta narkoba.
Kasus ini menjadi sorotan karena melibatkan warga Singapura dan Malaysia, menunjukkan bahwa jaringan narkoba lintas batas semakin canggih dalam memanfaatkan produk legal seperti rokok elektrik sebagai kedok. Bagi Indonesia, fenomena ini memicu kekhawatiran serupa: peredaran vape ilegal yang mengandung zat adiktif berpotensi menyusup ke pasar domestik. Badan Narkotika Nasional (BNN) Indonesia telah berulang kali memperingatkan tentang modus penyamaran narkoba dalam produk konsumen, namun kasus di Vietnam menunjukkan bahwa penegakan hukum regional perlu diperkuat untuk menutup celah distribusi.
Para ahli kesehatan masyarakat menilai penyalahgunaan etomidate dalam vape merupakan tren baru yang mengkhawatirkan. Berbeda dengan narkoba tradisional, zat ini mudah disembunyikan dan dikonsumsi tanpa tercium, sehingga sulit dideteksi oleh orang tua atau petugas. “Ini adalah ancaman senyap yang menyasar generasi muda,” ujar seorang analis kebijakan narkoba yang enggan disebut namanya. “Regulasi produk vape harus segera diperketat, termasuk pengawasan bahan baku dan distribusi.”
Ke depan, kasus ini membuka pertanyaan besar: seberapa siap negara-negara ASEAN menghadapi modus baru penyelundupan narkoba yang memanfaatkan teknologi? Vietnam telah mengambil langkah tegas dengan mengklasifikasikan etomidate sebagai narkotika, namun apakah Indonesia dan negara lain akan segera mengikuti? Jika tidak, bukan tidak mungkin jaringan serupa akan menjadikan Indonesia sebagai pasar potensial berikutnya.



