Teheran Bantah Klaim Trump: Tuduhan Minta AS Tunda Serangan Dianggap Kebohongan Baru
Baca dalam 60 detik
- Media Iran menolak pernyataan Trump bahwa Teheran meminta AS menahan diri dari serangan baru, menyebutnya sebagai kebohongan.
- Ketegangan meningkat di Selat Hormuz, dengan Iran menegaskan selat tetap tertutup selama AS melanjutkan tindakan bermusuhan.
- Situasi ini berpotensi memicu gejolak harga minyak global, berdampak pada ekonomi Indonesia yang bergantung pada impor energi.

Teheran, 2 Agustus 2026 โ Kantor berita Mehr, yang dekat dengan kalangan militer Iran, dengan tegas membantah klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahwa Republik Islam telah meminta Washington untuk menahan diri dari serangan baru. Dalam pernyataan yang dirilis Minggu, Mehr menyebut tuduhan itu "tidak lebih dari kebohongan baru" dan menegaskan bahwa angkatan bersenjata Iran "dalam siaga tinggi dan siap menghadapi segala kemungkinan".
Pernyataan ini muncul sehari setelah Trump, melalui platform Truth Social, mengklaim bahwa AS "siap untuk bertindak melawan Republik Islam", namun Teheran dan sejumlah negara Timur Tengah lainnya memintanya untuk menunda serangan. Trump mengaitkan keputusan ini dengan upaya mencapai kesepakatan dengan Iran, yang menurutnya harus mencakup "pembukaan penuh Selat Hormuz" dan "pengakhiran ancaman nuklir Iran".
Klaim Trump ini langsung mendapat respons keras dari Teheran. Selain Mehr, kantor berita Fars, yang mengutip sumber dekat negosiator Iran, menyatakan bahwa "selama AS mempertahankan tindakan bermusuhannya, Selat Hormuz akan tetap tertutup". Sejak konflik dimulai, Iran telah memblokade selat tersebut, mewajibkan kapal untuk mendapatkan izin dan membayar biaya transit sebelum melintasi jalur air strategis ini.
Ketegangan ini terjadi di tengah kerusakan infrastruktur yang parah di Iran selatan, seperti terlihat pada jembatan yang hancur akibat serangan AS di jalan penghubung Roudan dan Bandar Abbas. Foto yang dirilis AFP pada 18 Juli 2026 memperlihatkan kerusakan yang signifikan, mengindikasikan eskalasi militer yang telah berlangsung. Meskipun demikian, baik AS maupun Iran belum memberikan pernyataan resmi mengenai kemungkinan gencatan senjata atau negosiasi lebih lanjut.
Bagi Indonesia, eskalasi ini memiliki implikasi langsung. Selat Hormuz adalah jalur vital bagi sekitar 20% pasokan minyak dunia, dan Indonesia, sebagai negara pengimpor minyak, sangat rentan terhadap gangguan pasokan. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sebelumnya telah menyatakan kekhawatiran tentang potensi lonjakan harga minyak jika konflik meluas. Analis energi dari Universitas Indonesia, yang enggan disebut namanya, menilai bahwa "setiap gangguan di Selat Hormuz akan langsung berdampak pada harga minyak mentah, yang pada gilirannya akan menekan anggaran subsidi energi dan inflasi domestik".
Diplomasi Indonesia di kawasan juga perlu mencermati dinamika ini. Sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki kepentingan untuk menjaga stabilitas Timur Tengah, baik dari sisi ekonomi maupun politik. Langkah Iran yang menutup selat tersebut dapat memicu krisis kemanusiaan dan ekonomi yang lebih luas, yang pada akhirnya akan mempengaruhi stabilitas regional.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah klaim Trump tentang permintaan Iran untuk menunda serangan hanyalah taktik negosiasi, atau justru sinyal adanya saluran komunikasi rahasia antara kedua negara. Jika benar ada negosiasi, apa yang akan menjadi titik temu antara tuntutan AS untuk membuka selat dan menghentikan program nuklir, dengan tuntutan Iran untuk menghentikan tindakan bermusuhan? Atau, apakah ini hanya retorika perang yang akan memperpanjang konflik tanpa solusi? Jawabannya akan menentukan arah stabilitas kawasan dan harga energi global dalam beberapa bulan ke depan.



