Seoul Hidupkan Kembali Proyek Rel Menuju Korea Utara Setelah Sepuluh Tahun Terhenti
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Korea Selatan memutuskan melanjutkan restorasi jalur kereta Gyeongwon yang terputus di dekat Zona Demiliterisasi, sebuah proyek yang sempat dibekukan sejak 2016.
- Langkah ini diambil di tengah kebuntuan hubungan antar-Korea, dengan Pyongyang yang justru menghancurkan koneksi darat pada 2024 dan terus mengabaikan tawaran dialog Seoul.
- Inisiatif ini berpotensi membuka konektivitas masa depan ke kota pelabuhan Wonsan di pantai timur, sekaligus menjadi uji keseriusan Korea Selatan dalam mendorong perdamaian di kawasan.

Seoul akhirnya mencabut status beku proyek jalur kereta yang nyaris terlupakan—restorasi segmen Gyeongwon Line yang membentang dari ibu kota menuju perbatasan dengan Korea Utara. Kementerian Unifikasi Korea Selatan mengumumkan bahwa pekerjaan pemulihan akan dilanjutkan kembali, sebuah keputusan yang diambil tepat satu dekade setelah proyek serupa pertama kali diluncurkan pada 2015 dan kemudian dihentikan setahun berselang.
Menteri Unifikasi Chung Dong-young, dalam sebuah pengarahan kepada presiden, menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen untuk menyambung kembali jalur yang terputus di dekat Zona Demiliterisasi (DMZ). Meski secara teknis proyek ini masih berada di wilayah Korea Selatan, ambisinya jauh lebih besar: jalur ini dirancang sebagai cikal bakal koneksi darat ke Wonsan, kota kunci di pesisir timur Korea Utara yang selama ini menjadi pusat pengembangan pariwisata Pyongyang.
Keputusan ini tentu tidak datang di ruang hampa. Pyongyang, sejak 2024, justru secara terang-terangan meledakkan sejumlah ruas jalan dan rel di sepanjang perbatasan yang dijaga ketat—sebuah sinyal bahwa hubungan antar-Korea masih berada di titik beku. Namun, Seoul tampaknya memilih jalur berbeda: alih-alih menunggu respons positif, mereka memulai dari hal-hal yang bisa dikerjakan secara unilateral, termasuk memulihkan akses ke kawasan wisata ekologi dan perdamaian di sekitar DMZ.
Bagi Korea Selatan, proyek ini bukan sekadar urusan infrastruktur. Pemerintah menilai bahwa pemulihan jalur kereta dapat menjadi instrumen untuk menghidupkan kembali aktivitas ekonomi di wilayah perbatasan yang selama ini terisolasi. Lebih dari itu, ini adalah pernyataan politik yang jelas: Seoul tidak akan meninggalkan agenda perdamaian meskipun Pyongyang terus menolak ajakan dialog. Presiden Lee Jae-myung sendiri mengakui bahwa upaya ini kerap terasa seperti "berteriak ke dalam kehampaan tanpa gema", tetapi ia menegaskan bahwa perdamaian dan koeksistensi tetap menjadi tugas yang harus diperjuangkan.
Langkah lain yang diajukan adalah perluasan penggunaan Dana Kerja Sama Antar-Korea, sebuah instrumen yang selama ini digunakan untuk mendukung proyek kemanusiaan dan pertukaran dengan Korea Utara. Kementerian berencana mengubah regulasi agar dana tersebut bisa dialokasikan untuk proyek-proyek di kawasan perbatasan, inisiatif ekonomi perdamaian, hingga studi tentang Korea Utara. Ini menunjukkan bahwa Seoul tidak hanya ingin membangun rel, tetapi juga membangun kembali kepercayaan yang telah lama retak.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menyimpan pelajaran penting tentang bagaimana negara bisa menjaga konsistensi kebijakan luar negeri di tengah tekanan. Sebagai negara yang kerap menawarkan diri menjadi mediator dalam konflik regional, sikap Seoul yang tetap maju meski ditolak bisa menjadi studi kasus tentang diplomasi yang sabar. Di sisi lain, stabilitas di Semenanjung Korea juga berdampak pada rantai pasok global dan keamanan maritim di Asia Timur, yang secara tidak langsung memengaruhi iklim investasi di kawasan, termasuk Indonesia.
Pertanyaan yang kini menggantung adalah: akankah Pyongyang merespons dengan sikap terbuka, atau justru menganggap langkah ini sebagai provokasi? Sejarah menunjukkan bahwa Korea Utara kerap bereaksi keras terhadap apa yang mereka nilai sebagai pelanggaran kedaulatan. Namun, dengan memulai dari proyek yang sepenuhnya berada di wilayahnya sendiri, Seoul tampaknya ingin menghindari eskalasi sambil tetap mengirimkan sinyal bahwa pintu dialog tidak akan pernah benar-benar tertutup.



