Amanda Staveley Incar 25% Saham West Ham: Babak Baru di Championship
Baca dalam 60 detik
- Mantan eksekutif Newcastle United, Amanda Staveley, memimpin konsorsium yang tengah bernegosiasi untuk mengakuisisi seperempat saham West Ham United.
- Kesepakatan ini muncul di tengah gejolak internal klub setelah degradasi dan skandal yang melibatkan pemilik lama David Sullivan.
- Jika berhasil, langkah Staveley bisa mengubah peta kepemilikan klub Championship dan membuka peluang investasi global baru.

Mantan pemilik bersama Newcastle United, Amanda Staveley, kembali menggemparkan jagat sepak bola Inggris. Lewat konsorsium yang ia pimpin, Staveley dikabarkan telah mengadakan pembicaraan serius untuk membeli 25% saham West Ham United, klub yang baru terdegradasi ke Championship. Langkah ini menjadi sinyal bahwa meski bermain di kasta kedua, West Ham tetap menjadi aset menarik bagi investor global.
Menurut sumber terpercaya, konsorsium yang juga melibatkan suami Staveley, Mehrdad Ghodoussi, telah menyatakan minat kuat untuk mengakuisisi saham milik Vanessa Gold. Diskusi berlangsung intens dalam beberapa pekan terakhir, dengan Staveley disebut telah mengamankan dukungan dana dari investor internasional. Ketertarikan ini bukan tanpa alasan: West Ham, meski terdegradasi, memiliki basis suporter besar dan stadion London Stadium yang ikonik.
Yang menarik, konsorsium Staveley tidak menutup kemungkinan untuk menambah kepemilikan saham di masa depan hingga menjadi pemegang saham mayoritas. Saat ini, saham utama klub dipegang oleh David Sullivan dan Daniel Kretinsky. Namun, situasi internal West Ham sedang tidak stabil. Sullivan, yang sebelumnya menjabat sebagai ketua bersama, mundur pada Juni lalu setelah penyelidikan bersama BBC Panorama dan surat kabar Times mengungkap tuduhan pelecehan seksual terhadapnya.
Kasus Sullivan menjadi perhatian serius regulator sepak bola Inggris. Independent Football Regulator (IFR) telah menghubungi West Ham untuk meminta informasi mendesak terkait kelayakan Sullivan sebagai pemilik klub. Tujuh perempuan menuduh pengusaha berusia 77 tahun itu melakukan eksploitasi seksual dan perilaku predator, termasuk meminta imbalan seksual demi kemajuan karier mereka di industri model. Sullivan membantah keras semua tuduhan tersebut.
Bagi Staveley, langkah ini bukan yang pertama. Sebelumnya, ia juga sempat menjajaki pembelian Tottenham Hotspur musim lalu. Pengalamannya di Newcastle, di mana ia membantu mengakuisisi klub dengan dana konsorsium yang didukung Arab Saudi, menjadi modal berharga. Kini, ia kembali ke panggung sepak bola Inggris dengan target yang lebih menantang: membangkitkan West Ham dari keterpurukan.
Dari perspektif Indonesia, pergerakan Staveley ini menarik dicermati. Sepak bola Indonesia juga tengah bergeliat dengan masuknya investor asing dan pembentukan regulasi baru. Model akuisisi klub seperti yang dilakukan Staveley bisa menjadi referensi bagi calon investor Tanah Air yang ingin bermain di level global. Apalagi, Championship dikenal sebagai liga yang kompetitif dan memiliki potensi komersial besar.
Pertanyaan besarnya: akankah Staveley mampu mengulang suksesnya di Newcastle? Atau justru West Ham akan menjadi batu sandungan baru? Yang jelas, negosiasi ini akan menjadi salah satu cerita paling menarik di bursa transfer kepemilikan klub Inggris musim panas ini.



