Haus Emas: Hunter Bell Bidik Empat Gelar dalam Setahun Usai Kuasai 800m Glasgow
Baca dalam 60 detik
- Atlet Inggris Georgia Hunter Bell menambah medali emas Commonwealth Games 800m ke koleksinya, setelah sebelumnya merebut gelar dunia indoor 1500m.
- Dengan dua gelar di tangan, Bell menargetkan dua kemenangan lagi tahun ini, termasuk di Kejuaraan Eropa dan Ultimate Championships perdana.
- Kemenangan ini menegaskan kebangkitan Bell di usia 32 tahun, setelah sempat vakum lima tahun dan kembali bersinar di pentas internasional.

Georgia Hunter Bell menegaskan ambisinya mengoleksi emas di semua ajang besar tahun ini setelah sukses menaklukkan nomor 800 meter pada Commonwealth Games di Glasgow. Pelari Inggris berusia 32 tahun itu finis dengan catatan waktu 1 menit 59,51 detik, mengungguli pesaing terdekatnya dengan selisih lebih dari satu detik. Kemenangan ini menjadi gelar outdoor pertamanya, melengkapi gelar dunia indoor 1500 meter yang ia rebut di Polandia awal tahun ini.
Bell, yang juga merupakan rekan latihan Keely Hodgkinson, peraih emas Olimpiade 800 meter, tampil dominan sejak awal. Ia memimpin jalannya lomba dan melepaskan akselerasi pada 200 meter terakhir. Kemenangan ini semakin istimewa karena diraih di tengah absennya Hodgkinson yang memilih istirahat, serta sejumlah nama besar Inggris lainnya seperti Dina Asher-Smith, Katarina Johnson-Thompson, dan Matt Hudson-Smith yang tidak tampil di Glasgow.
Bagi Bell, ini adalah buah dari perjalanan karier yang tidak linier. Setelah vakum lima tahun dan kembali berlari di masa pandemi, ia berhasil meraih perunggu 1500 meter di Olimpiade Paris, lalu perak 800 meter di Kejuaraan Dunia tahun lalu. Kini, dengan dua gelar bergengsi di tangan, ia menatap dua peluang emas berikutnya: Kejuaraan Eropa di Birmingham yang dimulai 10 Agustus, serta Ultimate Championships perdana pada September mendatang.
Keputusan Bell untuk tampil di Glasgow dinilai sebagai langkah berani, mengingat banyak atlet papan atas memilih mundur. Namun, ia membela pilihan rekan-rekannya. "Setiap keputusan berbeda untuk setiap atlet," ujarnya. "Beberapa minggu lalu saya harus menarik diri dari London karena sakit. Kami ingin selalu sehat dan berlomba. Jika bisa, kami akan berlomba tanpa henti. Ada alasan di balik setiap ketidakhadiran."
Bagi Indonesia, prestasi Bell menjadi pengingat bahwa konsistensi dan manajemen karier jangka panjang adalah kunci di olahraga elite. Di tengah gencarnya pembinaan atlet muda, kisah Bell menunjukkan bahwa puncak performa bisa diraih di usia yang tidak lagi muda, asalkan didukung pemulihan yang tepat dan strategi kompetisi yang cerdas. Pelari Indonesia seperti Sapto Yogo Purnomo atau Emilia Nova bisa mengambil pelajaran dari ketekunan Bell dalam menghadapi cedera dan jeda panjang.
Ke depan, duel menarik dinantikan antara Bell dan Hodgkinson di Kejuaraan Eropa, meski Bell hanya turun di nomor 1500 meter. Jika keduanya bertemu di nomor yang sama, persaingan mereka bisa menjadi magnet tersendiri. Pertanyaannya, akankah Bell mampu mempertahankan performa puncaknya hingga Ultimate Championships? Atau justru Hodgkinson yang akan kembali mendominasi?



