Petinju Irlandia Lee Reeves Kritis Usai KO di Ring Dublin, Dunia Tinju Berduka
Baca dalam 60 detik
- Lee Reeves dirawat intensif di rumah sakit setelah kalah KO ronde ke-10 dari Gary Cully di 3Arena, Dublin.
- Kondisinya dilaporkan kritis namun stabil; promotor Queensberry dan lawan main memberikan dukungan moral.
- Insiden ini menyoroti risiko kesehatan dalam tinju profesional dan memicu diskusi tentang keselamatan petinju.

Petinju Irlandia, Lee Reeves, harus dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi kritis setelah mengalami kekalahan knockout di ronde ke-10 melawan Gary Cully dalam perebutan gelar juara super-ringan Celtic BUI di 3Arena, Dublin, Sabtu malam. Kabar ini mengguncang dunia tinju, mengingat Reeves yang berusia 31 tahun itu sempat diangkut dengan tandu keluar dari ring sebelum akhirnya mendapatkan perawatan intensif.
Promotor Queensberry, yang menaungi pertandingan tersebut, merilis pernyataan resmi pada Minggu bahwa kondisi Reeves saat ini "kritis namun stabil". Juru bicara mereka menegaskan bahwa tim medis terus memantau perkembangan sang petinju asal Limerick. "Kami akan mengetahui lebih banyak dalam beberapa hari ke depan, dan pikiran serta doa kami menyertai Lee dan keluarganya," ujar perwakilan tersebut.
Insiden ini terjadi di laga pendukung duel utama antara Pierce O'Leary dan Mark Chamberlain, yang juga berakhir dengan knockout pada ronde yang sama. Atmosfer kemenangan di 3Arena berubah menjadi kekhawatiran ketika Reeves tak mampu bangkit setelah pukulan telak Cully. Wasit langsung menghentikan pertandingan, dan tim medis segera turun tangan sebelum memutuskan untuk membawa Reeves ke rumah sakit.
Gary Cully, yang keluar sebagai pemenang, mengaku tidak bisa merayakan kemenangannya sepenuhnya. "Pikiran dan doa saya bersama Lee. Dia datang sebagai underdog besar setelah bertarung di level yang lebih rendah, tapi dia menunjukkan bahwa dia bisa tampil di level yang lebih tinggi. Pujian besar untuknya," kata Cully usai laga. Sikap sportif ini mendapat apresiasi luas dari para penggemar dan sesama petinju.
Frank Warren, promotor legendaris Queensberry, juga menyampaikan dukungannya melalui media sosial. "Semua orang di Queensberry memikirkan Lee dan kami terus berkomunikasi dengan timnya. Kami berharap kabar baik segera datang," tulisnya. Pernyataan ini memperlihatkan solidaritas yang kuat di tengah industri yang kerap dianggap keras dan individualistis.
Bagi penggemar tinju di Indonesia, kabar ini menjadi pengingat akan risiko serius yang dihadapi para atlet di atas ring. Meski tinju profesional menawarkan popularitas dan keuntungan finansial, keselamatan petinju tetap menjadi isu yang tak bisa diabaikan. Federasi tinju internasional, termasuk di Asia, kerap memperketat regulasi medis, namun insiden seperti ini menunjukkan bahwa bahaya selalu mengintai.
Para ahli kesehatan olahraga menilai bahwa knockout berulang dapat memicu cedera otak jangka panjang, seperti chronic traumatic encephalopathy (CTE). Oleh karena itu, penanganan pasca-pertarungan yang cepat dan tepat menjadi krusial. Dalam kasus Reeves, respons cepat tim medis di 3Arena patut diapresiasi, namun pertanyaan tentang protokol keselamatan yang lebih ketat kembali mengemuka.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pembaruan lebih lanjut mengenai kondisi Reeves. Keluarga dan timnya meminta privasi, sementara dunia tinju menanti kabar baik. Apakah insiden ini akan mendorong perubahan regulasi di tingkat nasional maupun internasional? Atau akankah menjadi catatan kelam lain dalam sejarah olahraga yang penuh risiko ini? Kita semua berharap yang terbaik untuk Lee Reeves.



