Kimi Antonelli Tak Malu Mengaku Masih 'Mencuri' Ilmu Kualifikasi George Russell
Baca dalam 60 detik
- Kimi Antonelli meraih gelar juara dunia F1 2026, namun ia mengakui masih kalah cepat dari George Russell dalam sesi kualifikasi.
- Russell yang dijuluki 'Mr. Saturday' tetap menjadi acuan bagi Antonelli untuk mempelajari cara mengekstrak performa maksimal dalam satu lap.
- Persaingan internal Mercedes semakin menarik menjelang musim 2027, dengan Antonelli bertekad menutup celah kelemahannya di kualifikasi.

Juara dunia Formula 1 2026, Kimi Antonelli, mengungkapkan bahwa rekan setimnya di Mercedes, George Russell, masih memiliki keunggulan besar dalam hal kecepatan satu lap. Pengakuan ini disampaikan Antonelli di acara radio tim, beberapa waktu setelah ia memastikan gelar juara dunia di usia 20 tahun.
Meski musim 2026 menjadi mimpi buruk bagi Russell—yang kerap didera nasib sial dan menyaksikan rekan setimnya melesat meraih titel—Antonelli tetap mengakui kualitas Russell di sesi kualifikasi. Ia menyebut Russell sebagai pembalap yang sangat cepat dan mampu menemukan ritme untuk mencetak lap terbang yang nyaris sempurna.
“Dia pembalap luar biasa, sangat cepat, terutama di kualifikasi. Saya sangat mengagumi bagaimana ia bisa cepat, masuk ke ritme, dan menemukan waktu lap untuk merangkai satu lap yang luar biasa,” kata Antonelli, seperti dikutip dari Motorsport.com.
Pujian itu bukan sekadar basa-basi. Dalam beberapa musim terakhir, Russell memang dikenal sebagai spesialis kualifikasi—julukan “Mr. Saturday” melekat padanya karena kemampuannya mengeluarkan potensi mobil hingga batas maksimal pada hari Sabtu. Antonelli pun sadar betul bahwa keunggulan itu masih menjadi pekerjaan rumah baginya.
“Itu hal yang masih saya coba pelajari darinya. Bagaimana, dari sesi latihan, dia selalu bisa menemukan peningkatan kecil. Musim ini saya berusaha memahami bagaimana mengekstrak lebih banyak performa di kualifikasi karena George sangat bagus dalam hal itu,” ujar pembalap asal Italia tersebut.
Pentingnya kualifikasi di era F1 modern tidak bisa diremehkan. Dengan regulasi yang membatasi pengembangan mobil dan semakin ketatnya persaingan di grid, posisi start menjadi faktor penentu hasil balapan. Antonelli sendiri menyoroti bagaimana di Mexico, lima pembalap hanya terpaut dua persepuluh detik. Jika gagal di Q3, maka balapan hari Minggu akan terancam karena terperangkap di belakang mobil lain dan kehilangan downforce akibat dirty air.
Meski demikian, Antonelli menunjukkan kualitas balap yang mumpuni, terutama dalam manajemen ban dan strategi. Namun, ia menyadari bahwa untuk mempertahankan gelar, kemampuan di kualifikasi harus terus diasah. Ia pun menjadikan data dan rekaman lap Q3 Russell sebagai bahan belajar wajib menjelang musim 2027.
“Saya akan berusaha belajar lebih banyak darinya untuk memahami bagaimana ia mampu mengekstrak lebih banyak performa dari dirinya dan mobil selama sesi kualifikasi,” tutup Antonelli.
Bagi Mercedes, dinamika internal ini bisa menjadi berkah sekaligus tantangan. Di satu sisi, persaingan sehat antara dua pembalap cepat akan mendorong tim untuk terus berkembang. Di sisi lain, manajemen tim harus memastikan rivalitas tetap konstruktif dan tidak mengganggu harmoni. Russell, yang kontraknya akan berakhir pada akhir 2026, belum memberikan komentar resmi terkait pujian rekan setimnya.
Musim 2027 akan menjadi ajang pembuktian bagi Antonelli. Jika ia berhasil mengasimilasi keunggulan Russell di kualifikasi, bukan tidak mungkin ia akan semakin sulit dibendung. Sebaliknya, Russell yang tengah berjuang bangkit dari musim buruk akan berusaha keras mempertahankan keunggulannya sebagai modal untuk merebut kembali tahta juara dunia.
Pertanyaannya, akankah Antonelli benar-benar bisa menyaingi Russell di sesi kualifikasi, atau justru Russell yang kembali menunjukkan dominasinya? Jawabannya akan terlihat di lintasan, dimulai dari seri pembuka musim 2027.



