Gempa Kumamoto: Lansia Meninggal di Mobil, Dugaan Kepanasan
Baca dalam 60 detik
- Seorang perempuan 70 tahun ditemukan tewas di dalam mobilnya setelah kehabisan bensin, diduga akibat heatstroke pasca-gempa.
- Total korban tewas mencapai 38 orang, dengan 13 luka serius, menyoroti risiko kematian tidak langsung pascabencana.
- Kunjungan Perdana Menteri Jepang ke Kumamoto diharapkan mempercepat penanganan pengungsi dan infrastruktur darurat.

Gempa berkekuatan magnitudo 7,1 yang mengguncang Prefektur Kumamoto, Jepang barat daya, pada Selasa lalu menimbulkan korban tidak langsung yang tak kalah memilukan. Seorang perempuan berusia 70-an ditemukan tewas di dalam mobilnya, diduga akibat sengatan panas setelah kendaraannya kehabisan bahan bakar. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa bencana alam tidak hanya merenggut nyawa lewat guncangan, tetapi juga melalui dampak ikutan yang kerap terlambat disadari.
Menurut pemerintah prefektur, perempuan tersebut dilaporkan sempat tidur di dalam mobilnya sejak gempa terjadi. Ia ditemukan pada Kamis dalam kondisi kritis, namun sayangnya nyawanya tak tertolong. Otoritas setempat masih menyelidiki apakah kematiannya terkait langsung dengan gempa atau faktor lain. Jika terbukti, ini akan menjadi kasus kematian pertama yang dipicu oleh kondisi pascagempa, menambah daftar panjang korban yang mencapai 38 orang.
Dari jumlah tersebut, sembilan orang tewas di pabrik Nippon Paper Industries di Yatsushiro, sementara tujuh lainnya menjadi korban ledakan di pusat perbelanjaan Aeon di Kashima. Satu korban laki-laki yang ditemukan tak sadarkan diri di mal Aeon di Uki akibat runtuhnya langit-langit pada Jumat, akhirnya meninggal di rumah sakit. Sementara itu, 13 orang masih dalam kondisi serius, meningkat dari sebelumnya 11 orang.
Fenomena kematian akibat panas setelah gempa bukan hal baru di Jepang. Pada gempa besar sebelumnya, banyak korban lansia yang memilih bertahan di dalam kendaraan atau rumah rusak tanpa listrik, sehingga rentan terhadap suhu ekstrem. Kondisi ini diperparah dengan terbatasnya akses air bersih dan layanan kesehatan. Di Kumamoto, suhu udara yang tinggi pada musim panas membuat situasi semakin berbahaya bagi para pengungsi.
Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, dijadwalkan mengunjungi Kumamoto pada Senin untuk meninjau langsung kebutuhan para korban. Kunjungan ini diharapkan mampu mempercepat realokasi bantuan, terutama untuk penanganan kesehatan dan tempat tinggal darurat. Pemerintah pusat juga tengah mengkaji langkah-langkah pencegahan agar kejadian serupa tidak terulang, termasuk penyediaan generator listrik dan stok bahan bakar di area evakuasi.
Bagi Indonesia, bencana Kumamoto menjadi pelajaran berharga. Negeri ini juga rawan gempa dan memiliki populasi lansia yang signifikan. Sistem evakuasi dan penanganan pascabencana perlu memperhatikan kebutuhan kelompok rentan, termasuk akses ke pendingin ruangan, air, dan obat-obatan. Koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah, seperti yang dilakukan Jepang, menjadi kunci untuk meminimalkan korban jiwa.
Hingga kini, pemerintah prefektur masih menyelidiki dua kasus kematian lain yang diduga terkait gempa. Sementara itu, seorang perempuan 70 tahun yang dievakuasi ke tempat penampungan juga terdiagnosis COVID-19, menambah kompleksitas penanganan kesehatan di tengah bencana. Ia akan dirawat di rumah sakit sebelum dipindahkan ke fasilitas khusus.
Dengan lebih dari 8.000 orang masih mengungsi, pertanyaan besar yang menggantung adalah: akankah pemerintah Jepang mampu mempercepat pemulihan dan mencegah bertambahnya korban jiwa akibat faktor sekunder seperti panas dan penyakit? Jawabannya akan menentukan efektivitas manajemen bencana di masa depan, tidak hanya bagi Jepang, tetapi juga bagi negara-negara rawan gempa lainnya.



