KMP Mutiara Sentosa 2 Terbakar di Laut: 5 Tewas, 41 Hilang, Evakuasi Masih Berlangsung
Baca dalam 60 detik
- Kapal feri KMP Mutiara Sentosa 2 yang mengangkut sedikitnya 250 penumpang terbakar di perairan Madura, menewaskan lima orang dan menyebabkan 41 lainnya hilang.
- Badan SAR nasional (Basarnas) melaporkan api mulai berkobar sekitar pukul 06.00-07.00 WIB, dan kapal hampir seluruhnya dilalap api saat proses evakuasi berlangsung.
- Penyebab kebakaran masih belum diketahui, sementara operasi pencarian terus dilakukan terhadap para korban hilang.

Lima jenazah ditemukan dan 41 penumpang lainnya masih hilang setelah kapal feri KMP Mutiara Sentosa 2 terbakar di perairan dekat Pulau Madura, Jawa Timur, pada Selasa pagi. Kapal yang mengangkut sedikitnya 250 orang itu dilaporkan terbakar saat berlayar dari Surabaya menuju Makassar, memicu operasi evakuasi besar-besaran yang hingga kini masih berlangsung.
Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) menyatakan laporan pertama diterima pukul 08.24 WIB dari kantor SAR Surabaya. Menurut keterangan resmi, api mulai berkobar sekitar pukul 06.00-07.00 WIB, dan dalam hitungan jam kapal hampir seluruhnya dilalap si jago merah. Rekaman video yang beredar menunjukkan penumpang berdesakan di jembatan dan haluan kapal sambil menunggu pertolongan, sementara sebagian lainnya terpaksa melompat ke laut mengenakan jaket keselamatan.
Kapten kapal melaporkan kebakaran tersebut saat kapal berada di perairan Madura, jalur pelayaran yang cukup padat. Insiden ini kembali menyoroti lemahnya standar keselamatan transportasi laut di Indonesia, yang kerap menjadi sorotan setelah serangkaian kecelakaan kapal dalam beberapa tahun terakhir. Data dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mencatat puluhan insiden kebakaran kapal terjadi sejak 2015, dengan faktor utama sering kali berasal dari korsleting listrik atau kelalaian prosedur.
Bagi warga yang menggunakan jalur laut antarpulau, insiden ini menjadi pengingat pahit akan risiko yang harus dihadapi setiap hari. Rute Surabaya-Makassar merupakan salah satu jalur tersibuk di Indonesia timur, melayani ribuan penumpang dan kendaraan setiap minggunya. Hingga berita ini diturunkan, Basarnas bersama tim gabungan masih melakukan pencarian terhadap 41 orang yang dilaporkan hilang, sementara korban luka telah dievakuasi ke rumah sakit terdekat.
Menurut pengamat transportasi dari Universitas Indonesia, insiden ini menunjukkan perlunya audit menyeluruh terhadap armada kapal penumpang, terutama yang beroperasi di jalur padat. "Standar keselamatan harus menjadi prioritas utama, bukan sekadar formalitas," ujarnya. Ia juga menyoroti pentingnya pelatihan awak kapal dalam menangani keadaan darurat, mengingat banyaknya penumpang yang harus dievakuasi dalam waktu singkat.
Basarnas sendiri telah mengerahkan sejumlah kapal patroli dan helikopter untuk mempercepat pencarian. Dalam keterangan resminya, Basarnas menyatakan bahwa "kapal hampir seluruhnya dilalap api" dan penumpang yang selamat "bertahan di jembatan dan haluan kapal sambil menunggu evakuasi". Proses evakuasi sempat terhambat oleh besarnya kobaran api, namun tim penyelamat berhasil mengevakuasi sebagian besar penumpang ke kapal lain dan ke daratan.
Insiden ini juga memicu pertanyaan tentang kelayakan kapal dan pengawasan keselamatan pelayaran. Pemerintah daerah Jawa Timur dan Sulawesi Selatan telah berjanji untuk memberikan pendampingan kepada keluarga korban, sementara Kementerian Perhubungan menyatakan akan melakukan investigasi menyeluruh. Pertanyaannya, apakah insiden ini akan menjadi momentum untuk perbaikan sistem keselamatan pelayaran nasional, atau hanya akan menjadi catatan kelam yang kembali terlupakan? Hingga operasi pencarian selesai, seluruh mata tertuju pada upaya penyelamatan dan janji perbaikan yang harus segera diwujudkan.



