Naomi Osaka Melaju ke Perempat Final DC Open, Kei Nishikori Tersingkir
Baca dalam 60 detik
- Naomi Osaka lolos ke perempat final DC Open setelah lawannya mundur karena cedera pergelangan kaki.
- Kei Nishikori, yang akan pensiun akhir musim ini, kalah di babak kedua dari petenis Spanyol Rafael Jodar.
- Osaka menunjukkan performa menjanjikan setelah mencapai perempat final Wimbledon, menandai kebangkitan di permukaan keras.

Naomi Osaka, mantan petenis nomor satu dunia asal Jepang, sukses menembus babak perempat final DC Open untuk pertama kalinya setelah lawannya, Ashlyn Krueger, mundur karena cedera pergelangan kaki kanan saat tertinggal 6-3, 3-1 pada babak kedua, Rabu (30/7) waktu setempat.
Kemenangan ini menjadi sinyal positif bagi Osaka yang tengah berusaha bangkit setelah sempat vakum panjang. Peraih empat gelar Grand Slam itu baru saja mencatatkan hasil terbaiknya di Wimbledon dengan mencapai perempat final, sebuah pencapaian yang mengejutkan banyak pihak mengingat ia lebih dikenal sebagai spesialis lapangan keras. "Saya mungkin lebih suka rumput sekarang," ujar Osaka dalam konferensi pers usai pertandingan, merujuk pada adaptasinya terhadap permukaan rumput yang sebelumnya dianggap asing.
Di sisi lain, rekan senegaranya Kei Nishikori harus mengakui keunggulan Rafael Jodar asal Spanyol dengan skor 6-3, 6-2. Nishikori, yang pernah menjadi juara DC Open pada 2015, tampil sebagai pemain wildcard. Kekalahan ini menjadi pahit mengingat ia telah mengumumkan akan pensiun pada akhir musim ini. Petenis berusia 36 tahun itu kini hanya menyisakan beberapa turnamen lagi sebelum gantung raket.
Bagi penggemar tenis di Indonesia, perjalanan Osaka dan Nishikori di Amerika Serikat ini menarik untuk disimak, terutama karena kedua pemain memiliki basis penggemar yang cukup besar di Asia. Osaka, yang memiliki darah Jepang-Haiti, kerap menjadi inspirasi bagi petenis muda Asia, sementara Nishikori adalah salah satu pionir tenis pria Jepang yang sukses di panggung dunia. Kehadiran mereka di turnamen seperti DC Open juga menunjukkan bahwa tenis Asia masih memiliki daya saing di level tertinggi, meskipun dominasi pemain Eropa dan Amerika masih kuat.
Menurut analis tenis, kebangkitan Osaka di permukaan keras patut diwaspadai. Ia telah memenangkan semua gelar Grand Slam-nya di lapangan keras (Australia Terbuka dua kali dan AS Terbuka dua kali). Jika ia mampu mempertahankan konsistensi seperti di Wimbledon, bukan tidak mungkin ia akan kembali menjadi ancaman serius di turnamen-turnamen mendatang, termasuk AS Terbuka yang akan digelar akhir Agustus. Sementara itu, Nishikori yang memasuki masa senja kariernya, masih berjuang untuk memberikan penampilan terakhir yang membanggakan sebelum benar-benar pensiun.
Pertanyaan besarnya kini: mampukah Osaka memanfaatkan momentum ini untuk merebut gelar pertamanya sejak 2021? Atau akankah Cocciaretto menjadi batu sandungan berikutnya? Jawabannya akan diketahui dalam waktu dekat.



