Paul McCartney Akhirnya Masuk Nominasi Mercury Prize di Usia 84 Tahun
Baca dalam 60 detik
- Legenda The Beatles itu masuk daftar 12 Album of the Year Mercury Prize 2026 lewat 'The Boys of Dungeon Lane'.
- Nominasi ini menjadi yang pertama bagi McCartney sepanjang kariernya, menandai pengakuan atas eksperimentasi musiknya.
- Acara puncak akan digelar di Newcastle pada 22 Oktober, dengan siaran langsung BBC.

Sir Paul McCartney, musisi legendaris asal Inggris yang kini berusia 84 tahun, untuk pertama kalinya masuk dalam daftar nominasi Mercury Prize—penghargaan musik prestisius yang selama puluhan tahun tak pernah menyentuhnya. Album solo terbarunya, The Boys of Dungeon Lane, menjadi salah satu dari 12 Album of the Year yang diumumkan melalui BBC Radio 6 Music pada Kamis (30/7/2026).
Pengumuman yang dibawakan oleh presenter Jamz Supernova ini langsung menjadi perbincangan hangat di industri musik Inggris. McCartney, yang selama enam dekade berkarya bersama The Beatles dan solo, sebelumnya tak pernah masuk dalam daftar pendek Mercury Prize. Kini, namanya bersanding dengan deretan musisi lintas generasi—dari Dave, Florence + The Machine, RAYE, hingga Suede—menunjukkan betapa beragamnya panggung musik Inggris saat ini.
Album The Boys of Dungeon Lane disebut-sebut sebagai karya yang sarat eksperimentasi produksi dan lirik reflektif. Kritikus menilai bahwa nominasi ini bukan sekadar penghormatan atas usia atau warisan, melainkan pengakuan bahwa McCartney masih mampu menawarkan sesuatu yang segar di industri yang terus berubah. Mercury Prize sendiri dikenal sebagai ajang yang kerap mengangkat nama-nama baru, sehingga kehadiran McCartney justru memperkuat kredibilitas penghargaan tersebut dalam merayakan inovasi artistik.
Daftar lengkap nominasi tahun ini juga mencakup nama-nama seperti Olivia Dean, Nia Archives, Dove Ellis, JADE, Knats, Kojey Radical, serta proyek kolaboratif War Child Records bertajuk HELP(2). Kehadiran proyek amal tersebut mengingatkan bahwa Mercury Prize tak hanya soal prestise, tapi juga kepedulian sosial. Sementara itu, RAYE yang tahun lalu menjadi sorotan berkat album My 21st Century Blues, kini kembali dengan THIS MUSIC MAY CONTAIN HOPE.—sebuah judul yang seolah menjadi pernyataan optimisme di tengah industri yang kerap dilanda ketidakpastian.
Bagi penggemar musik di Indonesia, nominasi McCartney bisa menjadi pintu masuk untuk mengenal lebih dalam lanskap musik Inggris kontemporer. Meski jarang masuk radar komersial di Tanah Air, Mercury Prize kerap menjadi acuan bagi para kolektor dan kurator musik independen. Kehadiran nama-nama seperti Nia Archives (junglist) dan Kojey Radical (spoken word) menunjukkan bahwa penghargaan ini tak melulu soal pop mainstream, melainkan juga subkultur yang kerap luput dari perhatian.
Acara puncak Mercury Prize 2026 akan berlangsung pada 22 Oktober di Newcastle. Para nominasi dijadwalkan tampil sebelum pengumuman pemenang. Pertanyaan besarnya: akankah McCartney, yang telah memenangkan hampir segala penghargaan musik di dunia, akhirnya membawa pulang Mercury Prize? Atau justru nama baru seperti RAYE atau Dave yang akan menorehkan sejarah? Yang jelas, daftar pendek tahun ini membuktikan bahwa musik Inggris masih memiliki denyut kreativitas yang tak pernah padam.



