Laut Mediterania Memanas, Seribu Spesies Ikan Asing Menginvasi dan Menggusur Fauna Asli
Baca dalam 60 detik
- Pemanasan Laut Mediterania yang dipicu perubahan iklim telah membuka jalan bagi sekitar 1.000 spesies invasif, 800 di antaranya sudah mapan dan mengancam keanekaragaman hayati.
- Spesies seperti lionfish dan rabbitfish menggusur ikan asli yang menjadi mata pencaharian nelayan, sementara suhu ekstrem memusnahkan populasi kerang di Laut Adriatik.
- Para ilmuwan menilai penyebaran spesies asing tidak dapat dipulihkan, namun mitigasi seperti pengolahan air ballast kapal dan komersialisasi ikan invasif bisa menjadi solusi.

Laut Mediterania yang dulu dikenal sebagai perairan kaya biodiversitas kini berubah drastis. Pemanasan global yang dipicu pembakaran bahan bakar fosil telah mendorong suhu permukaan laut naik, menciptakan kondisi ideal bagi ratusan spesies ikan asing untuk masuk dan menggusur populasi asli. Akibatnya, ekosistem yang telah terbentuk selama ribuan tahun mulai runtuh, dan masyarakat pesisir yang bergantung pada hasil laut terancam kehilangan mata pencaharian tradisional mereka.
Menurut para ahli, Mediterania telah ditetapkan sebagai titik panas perubahan iklim. Suhu perairannya diperkirakan akan meningkat 2 hingga 6 derajat Celcius pada tahun 2100. Ronan McAdam, oseanografer dari Euro-Mediterranean Center on Climate Change, menjelaskan bahwa sifat cekungan yang tertutup membuat panas tidak bisa menyebar seperti di lautan lepas, sehingga pemanasan terjadi lebih intens. Gelombang panas laut yang semakin sering dan ekstrem memperparah kondisi ini.
Ernesto Azzuro, ahli biologi kelautan dari Italian National Research Council, menyebutkan bahwa sekitar 1.000 spesies invasif telah teridentifikasi di Mediterania, dengan 800 di antaranya sudah mapan. Spesies seperti ikan buntal tutul dan lionfish masuk melalui Terusan Suez dan kini bergerak menuju perairan Prancis dan Spanyol. "Mediterania kakek nenek kita, orang Yunani kuno, telah hilang selamanya. Banyak perubahan ini tidak bisa dipulihkan," ujar Azzuro.
Siprus menjadi daerah pertama yang merasakan dampak invasi ini. Lionfish menggantikan ikan kakap merah yang menjadi favorit konsumen, sementara rabbitfish melahap alga dasar laut dan merusak habitat spesies asli. Azzuro menambahkan bahwa di perairan dangkal Mediterania timur, kehilangan moluska mencapai 93 persen. "Dari Venesia hingga Bari, kematian massal kerang sangat spektakuler. Masa depan kerang di Laut Adriatik suram," katanya.
Piero Genovesi Papik, zoolog dari Italyโs Higher Institute for Environmental Protection and Research, menegaskan bahwa penyebaran spesies invasif sudah terlambat untuk dibalikkan. Namun, ada langkah mitigasi yang bisa dilakukan. Salah satunya adalah menegakkan perjanjian internasional yang mewajibkan pengolahan air ballast kapal sebelum masuk ke pelabuhan. Teknologi ini diperkirakan mampu mengurangi masuknya spesies asing baru hingga 95โ99 persen. Selain itu, pengecatan lambung kapal dengan cat khusus juga bisa mencegah organisme menumpang.
Upaya lain yang tengah dikaji adalah mengubah kebijakan perikanan agar spesies asli dapat pulih, misalnya dengan membudidayakan moluska yang lebih tahan terhadap kepiting biru invasif. Di sisi ekonomi, beberapa spesies invasif seperti lionfish justru memiliki nilai jual tinggi di pasar tertentu. Namun, nelayan Italia belum memanfaatkan spesies dusky spinefoot yang populasinya melonjak. "Kami tahu apa yang harus dilakukan: mengurangi penggunaan bahan bakar fosil. Tapi itu membutuhkan visi global bersama," ujar Papik.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi peringatan dini. Sebagai negara kepulauan dengan keanekaragaman hayati laut yang tinggi, Indonesia rentan terhadap invasi spesies asing melalui jalur pelayaran internasional. Pemanasan suhu laut yang juga terjadi di perairan Indonesia dapat mempercepat penyebaran spesies invasif, mengancam sektor perikanan dan pariwisata bahari. Pengelolaan air ballast dan pengawasan ketat terhadap kapal asing menjadi langkah krusial yang perlu diperkuat.
Ke depan, para ilmuwan sepakat bahwa tantangan terbesar adalah memulihkan ekosistem yang telah rusak. Azzuro mengingatkan bahwa tanpa upaya adaptasi, seperti mencari populasi kerang yang tahan panas, masa depan perikanan tradisional di Mediterania akan suram. Pertanyaan yang kini mengemuka: mampukah negara-negara di kawasan ini bekerja sama mengatasi krisis yang sudah di depan mata?



