Presco Plc: Dividen Interim N10 di Tengah Kinerja Tergerus
Baca dalam 60 detik
- Presco Plc mengumumkan dividen interim N10 per saham meski laba bersih turun 7,3% secara tahunan.
- Kinerja tertekan oleh pendapatan yang stagnan, biaya operasional membengkak, dan tarif pajak efektif yang lebih tinggi.
- Penurunan laba per saham mencapai 20,5% akibat peningkatan jumlah saham beredar, mengindikasikan tantangan profitabilitas jangka pendek.

Presco Plc tetap membagikan dividen interim sebesar N10 per saham untuk semester pertama tahun fiskal 2026, meskipun laporan keuangan menunjukkan kinerja yang melemah. Keputusan ini diambil di tengah tekanan pada laba bersih yang turun 7,3% secara tahunan menjadi N82,3 miliar, dipicu oleh pertumbuhan pendapatan yang hampir tidak bergerak serta lonjakan beban operasional.
Pendapatan perusahaan tercatat hampir stagnan pada N198,8 miliar, hanya naik tipis dari N198,7 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kinerja ini ditopang oleh pertumbuhan pasar Nigeria sebesar 12,4%, namun terkoreksi oleh penurunan drastis di Ghana yang ambles 34,7% menjadi N34,1 miliar. Ketergantungan pada pasar domestik menjadi penyelamat sementara, sementara ekspansi regional masih menghadapi hambatan.
Beban pokok penjualan meningkat 5,5% menjadi N32,9 miliar, terutama akibat kenaikan biaya produksi dan depresiasi. Akibatnya, margin kotor menyusut 0,9 poin persentase menjadi 83,4%. Di sisi lain, beban operasional melonjak 16,5% menjadi N42,8 miliar, didorong oleh kenaikan biaya penjualan dan distribusi sebesar 74% serta kenaikan biaya karyawan 14,5%. Analis dari CardinalStone Securities Limited menilai bahwa tekanan biaya ini menjadi faktor utama penurunan profitabilitas.
Namun, ada sedikit angin segar dari sisi pendanaan. Biaya keuangan bersih turun signifikan 76,3% menjadi N4,3 miliar, berkat penurunan biaya pinjaman sebesar 32% akibat pengurangan utang besar-besaran, serta lonjakan pendapatan keuangan hingga 482% dari deposito. Hal ini menunjukkan manajemen kas yang lebih ketat, meskipun belum cukup untuk mengimbangi tekanan operasional.
Tarif pajak efektif melonjak 12 poin persentase menjadi 32,7%, menggerus laba bersih lebih dalam. Margin laba bersih pun menyusut 3,2 poin persentase menjadi 41,4%. Sementara itu, laba per saham (EPS) anjlok 20,5% menjadi N70,52, lebih tajam dibanding penurunan laba bersih karena jumlah saham beredar yang lebih besar. Hal ini menjadi sinyal bahwa pemegang saham harus menerima imbal hasil yang lebih rendah per lembar sahamnya.
Bagi investor di Indonesia, kasus Presco Plc menjadi pengingat bahwa dividen tinggi belum tentu mencerminkan kesehatan fundamental. Keputusan membagikan dividen di tengah laba menurun bisa menjadi strategi untuk mempertahankan kepercayaan pasar, namun jika tekanan biaya dan pajak berlanjut, keberlanjutan dividen patut dipertanyakan. Perusahaan agribisnis di Indonesia yang menghadapi dinamika serupaโkenaikan biaya produksi dan fluktuasi pasar eksporโperlu mencermati langkah Presco dalam mengelola utang dan efisiensi operasional.
Ke depan, fokus utama Presco adalah membalikkan tren penurunan di Ghana dan mengendalikan beban operasional. Pertanyaan yang menggantung: apakah dividen interim ini hanya sekadar isyarat optimisme di tengah arus bawah yang melawan, atau justru awal dari pengetatan kebijakan dividen?



