Curiosity Credits: Singapura Beri Remaja Kurang Mampu Rp5,8 Juta untuk Eksplorasi Bakat Non-Akademik
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Singapura mengucurkan dana SGD 500 per remaja kurang mampu untuk mengikuti program pengembangan minat seperti robotika dan kuliner.
- Skema ini dirancang untuk mengatasi hambatan biaya dan menggabungkan permintaan dari berbagai kelompok swadaya agar program niche lebih layak diselenggarakan.
- Inisiatif ini berpotensi menjadi model bagi negara lain, termasuk Indonesia, dalam mendorong pendidikan non-formal yang inklusif dan berbasis minat.

Pemerintah Singapura melalui Kementerian Kebudayaan, Masyarakat, dan Pemuda meluncurkan skema Curiosity Credits yang memberikan dana SGD 500 (sekitar Rp5,8 juta) kepada remaja usia 13โ17 tahun dari keluarga kurang mampu untuk mengikuti program pengembangan minat non-akademik. Langkah ini diyakini mampu membuka akses bagi ribuan remaja untuk mengeksplorasi bakat di bidang robotika, coding, kuliner, hingga olahraga layar yang selama ini terhambat biaya dan minimnya peminat.
Skema ini dikelola bersama empat kelompok swadaya berbasis etnis: CDAC (Tionghoa), Mendaki (Melayu), SINDA (India), dan Eurasian Association. Mereka akan menyalurkan kredit kepada remaja yang sudah menjadi penerima bantuan. Menurut Direktur Eksekutif CDAC, Tan Yap Kin, lebih dari 4.000 remaja binaannya langsung memenuhi syarat. โKredit ini membuka lebih banyak pintu bagi anak-anak untuk mengeksplorasi minat, bukan sekadar kegiatan seremonial,โ ujarnya.
Keunikan Curiosity Credits terletak pada mekanisme agregasi permintaan. SINDA, misalnya, mengakui bahwa sebagai kelompok tunggal, jumlah peserta untuk program seperti kuliner seringkali tidak mencukupi. Dengan menggabungkan permintaan dari seluruh SHG, penyedia jasa bisa mengembangkan program yang lebih variatif. โKami berharap program yang ditawarkan benar-benar berasal dari keinginan anak muda itu sendiri,โ kata Chief Operating Officer SINDA, Ganesh R Kalyanam.
Dari sisi penyedia program, antusiasme terlihat. The Lab, sekolah coding yang pernah bermitra dengan CDAC, siap bergabung. Salah satu pendirinya, Adelene Fong, menekankan bahwa platform coding yang digunakan bersifat open source dan gratis, sehingga anak-anak bisa terus belajar di rumah. โKami ingin memicu rasa ingin tahu mereka, bukan sekadar mengisi waktu,โ katanya. CEO School of Robotics, Stephen Zhuo, menambahkan bahwa anak-anak yang awalnya tidak tertarik coding justru terpikat saat melihat robot buatan mereka sendiri bergerak.
Di luar teknologi, Singapore Sailing Federation juga menyambut baik. CEO Leslie Tan menyebut biaya kursus pengantar pelayaran kerap menjadi penghalang. โIni kesempatan bagi anak-anak yang mungkin tidak pernah membayangkan bisa merasakan laut lepas,โ ujarnya. Beberapa peserta bahkan langsung ingin melanjutkan ke level lebih tinggi setelah mencoba.
Bagi Indonesia, skema ini menawarkan pelajaran berharga. Di tengah upaya pemerintah mendorong pendidikan vokasi dan pengembangan bakat, model agregasi permintaan dan kemitraan dengan kelompok swadaya bisa diadopsi. Namun, tantangan seperti disparitas akses digital dan koordinasi antarpemangku kepentingan perlu diantisipasi. Apakah Indonesia siap meluncurkan skema serupa untuk menjangkau remaja dari keluarga prasejahtera yang potensinya masih terpendam?



