Mizuho Raup Laba Kuartal I Rp39 Triliun, Proyeksi Rekor Tahun Fiskal 2027
Baca dalam 60 detik
- Laba bersih Mizuho Financial Group pada April-Juni 2026 melonjak 45% menjadi 422,9 miliar yen, didorong permintaan kredit dan pendapatan non-bunga.
- Bank terbesar ketiga Jepang itu menaikkan target laba tahunan menjadi 1,4 triliun yen, tertinggi sepanjang sejarah, seiring ekspansi pinjaman korporasi dan kenaikan suku bunga.
- Kinerja ini menjadi indikasi bahwa sektor perbankan Jepang terus menguat pasca-deflasi, dengan implikasi bagi investor global termasuk di Asia Tenggara.

Mizuho Financial Group mencatatkan lonjakan laba bersih kuartal pertama sebesar 45 persen, menandai bahwa permintaan kredit di Jepang tetap kokoh meskipun gejolak energi global dan gangguan rantai pasok akibat konflik Timur Tengah masih berlangsung. Bank terbesar ketiga di Negeri Sakura itu membukukan laba 422,9 miliar yen (sekitar Rp39 triliun) pada periode April hingga Juni 2026, naik dari 290,5 miliar yen pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Kinerja gemilang ini mendorong manajemen Mizuho merevisi naik proyeksi laba tahun fiskal yang berakhir Maret 2027 menjadi 1,4 triliun yen (setara Rp129 triliun). Angka tersebut merupakan rekor tertinggi sepanjang sejarah bank yang berdiri sejak 2002 itu. Kepala Divisi Perencanaan Keuangan Mizuho, Kazuharu Sasaki, mengakui hasil ini sangat kuat mengingat ketidakpastian geopolitik, namun menekankan bahwa perusahaan tidak boleh lengah.
Kebangkitan profitabilitas perbankan Jepang dalam beberapa tahun terakhir tidak lepas dari berakhirnya era deflasi yang berlangsung puluhan tahun. Perusahaan-perusahaan Jepang kini lebih agresif mengambil pinjaman untuk ekspansi bisnis, belanja modal, serta merger dan akuisisi. Bank of Japan (BoJ) yang mulai menaikkan suku bunga untuk merespons inflasi juga memperlebar selisih antara bunga simpanan dan kredit, menguntungkan bank-bank besar.
Selain pendapatan bunga, Mizuho juga diuntungkan oleh kenaikan pendapatan berbasis biaya, terutama dari jasa investment banking. Pendapatan non-bunga tumbuh sekitar 20 persen dibanding kuartal pertama tahun lalu, mencapai 376,8 miliar yen. Hasil ini sejalan dengan tren positif di Wall Street dan Nomura Holdings, yang juga menikmati laba perdagangan saham seiring harga saham yang mencapai rekor tertinggi. Sasaki menambahkan bahwa divisi penjualan dan perdagangan saham, khususnya ekuitas AS, menunjukkan kinerja kuartalan yang sangat kuat dan diperkirakan akan berlanjut jika volatilitas pasar tetap tinggi.
Bagi Indonesia, kinerja Mizuho menjadi sinyal positif bagi sektor perbankan regional. Sebagai salah satu pemain utama di Asia, ekspansi kredit korporasi Jepang dapat mendorong peningkatan investasi langsung Jepang ke Indonesia, yang selama ini menjadi mitra dagang utama. Di sisi lain, kebijakan moneter BoJ yang diperkirakan akan menaikkan suku bunga ke 1,25 persen pada akhir tahun berpotensi mempengaruhi arus modal asing ke pasar emerging, termasuk Indonesia. Analis memperkirakan bahwa kenaikan suku bunga Jepang secara perlahan dapat mengurangi minat investor terhadap aset berisiko tinggi di Asia Tenggara.
Mizuho juga mengumumkan penggandaan program pembelian kembali saham menjadi 200 miliar yen, menunjukkan keyakinan manajemen terhadap prospek keuangan ke depan. Sementara itu, dua pesaing utamanya, Sumitomo Mitsui Financial Group dan Mitsubishi UFJ Financial Group, dijadwalkan merilis laporan keuangan pada akhir pekan ini dan awal pekan depan. Jika tren positif ini berlanjut, sektor perbankan Jepang diprediksi akan mencatatkan tahun fiskal terbaiknya dalam sejarah. Pertanyaannya, mampukah momentum ini bertahan di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih membayangi?



