Bursa Tokyo Ditutup Mixed: Saham Chip Melonjak, Ketegangan Timur Tengah Bayangi
Baca dalam 60 detik
- Indeks Nikkei naik 0,71% berkat lonjakan saham Advantest dan sektor AI, sementara Topix justru melemah 0,54% akibat tekanan saham perbankan.
- Kekhawatiran eskalasi konflik AS-Iran mendorong harga minyak mentah WTI di atas USD 80 per barel, menekan sentimen pasar global.
- Pelaku pasar menanti hasil pertemuan kebijakan Bank of Japan selama dua hari yang dimulai Kamis, dengan nilai tukar yen bertahan di kisaran 163 per dolar AS.

Bursa saham Tokyo ditutup dengan arah beragam pada Kamis (30/7/2026), di tengah dorongan positif dari laporan keuangan gemilang perusahaan semikonduktor dan kecerdasan buatan (AI) yang berhasil mengimbangi kekhawatiran akan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Indeks Nikkei 225 berhasil naik 433,24 poin (0,71%) ke level 61.867,43, sementara indeks Topix yang lebih luas justru terpangkas 21,53 poin (0,54%) menjadi 3.952,50.
Pergerakan berlawanan antara kedua indeks utama ini mencerminkan rotasi sektoral yang tajam. Saham-saham di sektor peralatan listrik dan logam non-besi menjadi pendorong utama kenaikan Nikkei, sedangkan saham perusahaan sekuritas dan perbankan justru menjadi pemberat terbesar Topix. Fenomena ini mengindikasikan bahwa investor tengah beralih dari saham siklikal ke saham teknologi yang dinilai lebih tahan terhadap ketidakpastian global.
Sentimen pasar sempat tertekan di awal perdagangan setelah indeks Wall Street melemah semalam. Penyebabnya adalah pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengancam akan membalas serangan rudal Iran terhadap pasukan AS di Yordania. Ancaman tersebut mendorong harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menembus level USD 80 per barel, memicu kekhawatiran akan inflasi dan gangguan pasokan energi global.
Namun, momentum berbalik setelah rilis laporan keuangan Advantest Corp., produsen peralatan pengujian semikonduktor, yang melampaui ekspektasi pasar. Saham Advantest melonjak 10,8% menjadi 27.935 yen, menyuntikkan optimisme ke sektor AI dan chip secara keseluruhan. Kenaikan ini juga didukung oleh faktor teknis, di mana Nikkei sebelumnya telah kehilangan hampir 3.500 poin dalam dua hari perdagangan sebelumnya, sehingga aksi beli murah turut mendorong rebound.
Di pasar valuta asing, dolar AS diperdagangkan di kisaran 163 yen, menunjukkan sikap wait-and-see pelaku pasar menjelang hasil pertemuan kebijakan moneter Bank of Japan (BOJ) yang dimulai hari ini selama dua hari. Keputusan BOJ akan menjadi katalis penting bagi arah yen dan saham Jepang ke depan, terutama terkait potensi penyesuaian suku bunga.
Koichi Fujishiro, ekonom senior di Dai-ichi Life Research Institute, mengingatkan bahwa rebound ini mungkin belum menandakan berakhirnya aksi jual. "Mungkin masih terlalu dini untuk mengatakan bahwa aksi jual telah selesai," ujarnya, mengindikasikan bahwa volatilitas masih berpotensi berlanjut.
Bagi pelaku pasar Indonesia, pergerakan bursa Tokyo memiliki relevansi tersendiri. Jepang merupakan salah satu mitra dagang utama Indonesia, dan fluktuasi indeks Nikkei serta nilai tukar yen dapat mempengaruhi arus modal asing ke pasar saham dan obligasi domestik. Selain itu, kenaikan harga minyak akibat ketegangan Timur Tengah berpotensi menekan anggaran subsidi energi Indonesia dan memperkuat tekanan inflasi. Pertanyaannya, akankah BOJ mengambil sikap hawkish yang dapat memperkuat yen dan mengubah dinamika investasi di kawasan Asia? Jawabannya akan diketahui dalam beberapa hari ke depan.



