Scottish Premiership Kembali: Drama Kejutan Hearts dan Pertarungan Baru di Puncak
Baca dalam 60 detik
- Scottish Premiership musim baru dimulai dengan Celtic sebagai juara bertahan, namun Hearts yang nyaris mengakhiri dominasi Old Firm kini menghadapi transisi besar setelah kehilangan pelatih dan pemain inti.
- Celtic dan Rangers sibuk berbelanja pemain di bursa transfer, dengan ambisi mempertahankan atau merebut kembali tahta liga di tengah tekanan suporter.
- Kontroversi Video Assistant Referee (VAR) masih membayangi musim kelimanya di Skotlandia, sementara lima pelatih anyar siap mengubah lanskap persaingan.

Scottish Premiership 2024/25 resmi bergulir pada Jumat ini, membawa serta drama musim lalu yang nyaris mengguncang tatanan tradisional persaingan sepak bola Skotlandia. Celtic kembali sebagai juara bertahan, namun kisah di balik gelar mereka—kemenangan dramatis di menit akhir yang menghancurkan mimpi Hearts—menjadi titik awal bagi musim yang penuh intrik dan perubahan besar di banyak klub.
Hearts hanya berjarak sembilan menit dari mengakhiri dominasi Old Firm (Celtic dan Rangers) selama empat dekade. Unggul di kandang Celtic hingga menit ke-87, mereka harus menelan pil pahit setelah striker Daizen Maeda menyamakan kedudukan. Celtic akhirnya menang 3-1 di injury time, meninggalkan pemain Hearts menangis di lapangan. Musim panas ini, tim asuhan Derek McInnes itu kehilangan sang pelatih yang hengkang ke Tynecastle, bersama kapten Lawrence Shankland dan gelandang Cammy Devlin. Penggantinya, Wouter Vrancken, memulai kiprah dengan buruk: kekalahan 6-0 dari Sturm Graz di kualifikasi Liga Champions membuat pendukung setia bertanya-tanya apakah pendekatan analitis klub cukup untuk mengembalikan performa.
Di kubu lawan, Celtic mempertahankan manajer Martin O'Neill di tengah gejolak suporter yang mengkritik kebijakan klub. Dua pemain baru—Camilo Duran dan Kasper Hogh—didatangkan, tetapi kepergian Maeda ke Ipswich Town membuat lini depan perlu diisi ulang. O'Neill dikaitkan dengan beberapa target, seperti pemain sayap Real Oviedo Haissem Hassan dan gelandang Mika Baur. Sementara itu, Rangers yang diasuh Danny Rohl musim lalu nyaris merebut gelar sebelum terpuruk di akhir musim. Kepergian James Tavernier, Jack Butland, dan Oliver Antman membuka jalan bagi perombakan besar: Olwethu Makhanya, Vanja Dragojevic, dan Shankland yang ditunjuk sebagai kapten anyar. Persaingan transfer ini menjadi kunci apakah keseimbangan kekuatan akan bergeser dari Glasgow timur.
Musim kelima penggunaan VAR di Skotlandia masih menyisakan kontroversi. Insiden paling menonjol terjadi pada akhir musim lalu ketika Celtic mendapat penalti kontroversial di kandang Motherwell, memicu kemarahan manajer dan pemain. St Johnstone manager Simo Valakari menyerukan kesabaran, namun sentimen publik tetap terbelah. Di sisi lain, lima pelatih baru memulai masa jabatan permanen mereka: Derek McInnes (Rangers), Wouter Vrancken (Hearts), Alfred Johansson (Motherwell), Martin O'Neill (Celtic), dan Craig McLeish (St Mirren). Motherwell, yang dijuluki 'Barcelona-nya Skotlandia', kehilangan Elliot Watt dan Elijah Just tetapi masih mempertahankan pendekatan sepak bola metodis.
Bagi pencinta sepak bola di Indonesia, Scottish Premiership menawarkan tontonan kompetitif yang unik: persaingan sengit, atmosfer stadion yang fanatik, dan narasi underdog yang jarang terjadi di liga top Eropa. Meski tidak melibatkan pemain diaspora Indonesia, gaya bermain fisik dan cepat khas liga ini kerap menjadi referensi bagi pengembangan sepak bola nasional. Dengan jadwal pertandingan yang padat, penggemar Tanah Air dapat menyaksikan aksi langsung melalui layanan streaming resmi.
Pertanyaan besar yang menggantung: akankah ada tim lain yang mampu mematahkan hegemoni Old Firm? Hearts yang hancur musim lalu kini membangun kembali dari puing-puing, sementara Rangers dan Celtic terus berbenah. Jika Vrancken mampu menyatukan skuad anyar dengan cepat, atau jika McInnes berhasil meramu racikan di Ibrox, persaingan musim ini bisa menjadi yang paling menarik dalam satu dekade terakhir. Ataukah sejarah akan kembali berulang: dominasi duet Glasgow yang sulit tergoyahkan?



