FIFA Digugat Serikat Pemain Australia: Piala Dunia Bukan untuk Dijual
Baca dalam 60 detik
- Serikat pemain Australia menolak rencana FIFA membuka investasi swasta di Piala Dunia, menilai prosesnya tidak transparan dan mengabaikan suara pemain serta suporter.
- FIFA menawarkan dana hingga 10 miliar dolar AS bagi anggota yang menyetujui proposal sebelum 19 September, dengan ancaman pengurangan jika ditolak.
- Kritik dari pemain dan serikat global memperkuat kekhawatiran bahwa komersialisasi berlebihan mengancam tata kelola dan integritas kompetisi sepak bola dunia.

Serikat pemain sepak bola Australia, Professional Footballers Australia (PFA), melontarkan kritik tajam terhadap rencana FIFA yang hendak membuka pintu bagi investor swasta untuk masuk ke dalam penyelenggaraan Piala Dunia dan turnamen-turnamen lainnya. Dalam pernyataan yang dirilis Kamis (30/7), PFA menilai langkah tersebut mengancam jiwa sepak bola karena mengabaikan peran pemain dan penggemar yang menjadi sumber nilai turnamen.
PFA menyebut proposal itu lahir dari proses yang tidak transparan dan minim konsultasi dengan pihak-pihak yang justru menciptakan nilai kompetisi. โTurnamen ini tidak boleh diperjualbelikan,โ tegas pernyataan serikat tersebut. Sikap PFA sejalan dengan peringatan FIFPRO, serikat pemain global, yang sebelumnya menyatakan bahwa rencana ini akan mengubah secara permanen insentif di balik kompetisi tempat para pemain bekerja dan membangun karier.
FIFA berencana membentuk anak usaha senilai 20 miliar dolar AS untuk mengelola Piala Dunia dan event lainnya. Sebagian saham minoritas akan ditawarkan kepada investor swasta untuk menggalang dana hingga 4,2 miliar dolar AS. Sebagai imbalan, FIFA menjanjikan peningkatan signifikan pendanaan bagi asosiasi anggota. Presiden FIFA Gianni Infantino, dalam video yang dirilis Rabu, menyebut proposal ini masih dalam tahap konsultasi dan bukan kewajiban.
Infantino menawarkan masing-masing asosiasi anggota 40 juta dolar AS jika menyetujui proposal sebelum 19 September, sebagai bagian dari paket 10 miliar dolar AS yang akan tersedia mulai 1 Januari 2027. Jika ditolak, paket tersebut akan kembali ke 2,7 miliar dolar AS yang ditawarkan sebelumnya. PFA mengecam tekanan yang diberikan kepada asosiasi anggota, termasuk Football Australia, untuk segera mempertimbangkan proposal yang konsekuensinya sangat besar dan tidak bisa ditarik kembali.
Hingga saat ini, hanya UEFA, badan sepak bola Eropa, yang secara tegas menolak rencana tersebut. Sebagian besar konfederasi regional dan asosiasi nasional mengaku terkejut dengan inisiatif ini. Namun, tidak semua anggota Eropa sepakat; presiden Asosiasi Sepak Bola Ceko melihat potensi dampak positif. Konfederasi Afrika akan mengevaluasi proposal pekan depan, sementara CONMEBOL dan OFC belum memberikan komentar publik.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi pengingat akan pentingnya tata kelola yang bersih dan partisipatif dalam sepak bola. Dengan PSSI yang tengah berbenah di bawah kepemimpinan Erick Thohir, langkah FIFA yang kontroversial ini bisa menjadi preseden bagi bagaimana kompetisi global dikelola. Jika investor swasta masuk, bagaimana nasib suara negara berkembang seperti Indonesia dalam menentukan arah sepak bola dunia? Pertanyaan ini layak menjadi perhatian para pemangku kepentingan sepak bola Tanah Air.
FIFA berencana membawa keputusan ini ke pemungutan suara 211 anggota konsultasinya, lalu ke Dewan FIFA. Dengan tenggat September yang mendekat, tekanan terhadap asosiasi anggota semakin besar. Akankah suara pemain dan penggemar didengar, atau kepentingan komersial akan mendominasi?



