FIFA vs UEFA: Pertarungan Sengit di Balik Kekuasaan Sepak Bola Global
Baca dalam 60 detik
- Fenway Sports Group tengah menjajaki investasi minoritas dari konsorsium Amit Bhatia, yang diperkirakan menaikkan valuasi Liverpool hingga lebih dari £4,5 miliar.
- Langkah ini hadir di tengah masa transisi besar di Liverpool: pergantian pelatih, kepergian sejumlah bintang, dan perombakan jajaran direksi sepak bola.
- Jika terealisasi, injeksi modal itu dapat memperkuat daya saing Liverpool di Premier League serta memperluas basis komersial, termasuk di Asia.

Rencana FIFA untuk mendirikan anak perusahaan senilai 20 miliar dolar AS guna mengelola Piala Dunia dan menjual saham minoritas kepada investor eksternal kembali memicu pertanyaan tentang siapa yang sesungguhnya memegang kendali atas sepak bola dunia. Langkah ini menyoroti ketegangan antara FIFA sebagai induk organisasi global dan UEFA, konfederasi Eropa yang menguasai sebagian besar aset komersial olahraga ini.
FIFA, yang didirikan pada 1904 dan bermarkas di Zurich, memiliki 211 asosiasi anggota dengan hak suara setara di Kongres FIFA. Setiap negara, besar atau kecil, memiliki satu suara. Struktur ini membuat koalisi antar kawasan—Afrika, Asia, Amerika, dan Oseania—menjadi kunci dalam pemilihan presiden dan keputusan strategis. Namun, di balik kesetaraan politik tersebut, terdapat kesenjangan ekonomi yang tajam.
UEFA, meski hanya mewakili 55 dari 211 anggota FIFA, menghasilkan pendapatan komersial jauh lebih besar dibanding konfederasi mana pun. Kompetisi seperti Liga Champions, Liga Europa, dan Piala Eropa menghasilkan miliaran euro dari hak siar, sponsor, dan kemitraan. Eropa juga menjadi basis klub-klub terbesar, liga-liga kaya, serta perusahaan media dan sponsor global. Kekuatan finansial ini memberi UEFA pengaruh besar setiap kali FIFA mengusulkan perubahan yang menyentuh kompetisi, kalender internasional, atau struktur komersial.
Hubungan FIFA dan UEFA ibarat dua sisi mata uang: saling membutuhkan namun kerap bersitegang. FIFA membutuhkan partisipasi Eropa untuk memaksimalkan nilai turnamen andalannya, sementara UEFA beroperasi di bawah kerangka regulasi FIFA. Ketegangan ini kerap muncul dalam perdebatan soal format kompetisi, jadwal pertandingan, dan pembagian pendapatan.
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki implikasi langsung. Sebagai anggota AFC, PSSI berada di bawah naungan FIFA dan tunduk pada kalender internasional yang disepakati bersama. Ketika FIFA dan UEFA berselisih soal jadwal, klub-klub Indonesia yang melepas pemain ke tim nasional bisa terkena dampak. Selain itu, dana pengembangan dari program FIFA Forward turut membantu pembinaan sepak bola nasional, sehingga stabilitas organisasi global penting bagi kelangsungan program tersebut.
Menurut analis olahraga, ketidakseimbangan kekuasaan ini kemungkinan akan terus memanas seiring FIFA berupaya meningkatkan pendapatan dari Piala Dunia dan turnamen baru seperti Piala Dunia Antarklub yang diperluas. UEFA, di sisi lain, tidak akan tinggal diam dan dapat menggunakan pengaruh ekonominya untuk mempertahankan status quo. Pertanyaannya, akankah kesetaraan suara di Kongres FIFA mampu mengimbangi dominasi finansial Eropa? Atau justru akan muncul konfederasi tandingan seperti yang sempat digagas dalam wacana European Super League?



