Gol Kontroversial dan Hattrick Hurst: 60 Tahun Final Piala Dunia 1966 yang Abadi
Baca dalam 60 detik
- Geoff Hurst menjadi pemain pertama yang mencetak hattrick di final Piala Dunia saat Inggris mengalahkan Jerman Barat 4-2 pada 1966.
- Gol ketiga Inggris masih diperdebatkan hingga kini karena bola mengenai mistar dan tidak jelas melewati garis gawang.
- Pertandingan ini disaksikan 400 juta pemirsa global dan menjadi salah satu final paling ikonik dalam sejarah sepak bola.

Enam puluh tahun lalu, Wembley Stadium menjadi saksi lahirnya salah satu final Piala Dunia paling kontroversial sekaligus legendaris. Inggris, sebagai tuan rumah, mengalahkan Jerman Barat 4-2 setelah melalui perpanjangan waktu yang menegangkan. Kemenangan ini tidak hanya mengantarkan Inggris meraih gelar juara dunia pertama, tetapi juga melahirkan momen yang hingga kini masih diperdebatkan: apakah bola benar-benar melewati garis gawang?
Final 1966 mempertemukan dua tim dengan perjalanan berbeda menuju partai puncak. Inggris, yang dijuluki "wingless wonders" karena tidak menggunakan pemain sayap murni, tampil solid sepanjang turnamen. Gawang Gordon Banks baru kebobolan pada menit ke-82 semifinal melawan Portugal, itupun dari titik penalti. Sementara itu, Jerman Barat mengandalkan pemain muda Franz Beckenbauer yang bersinar sejak laga pertama, termasuk kemenangan 5-0 atas Swiss.
Pertandingan berjalan dramatis sejak awal. Jerman Barat unggul lebih dulu melalui Helmut Haller pada menit ke-12, namun Inggris membalikkan keadaan lewat gol Geoff Hurst dan Martin Peters. Saat pendukung tuan rumah bersiap merayakan kemenangan, Wolfgang Weber menyamakan kedudukan di menit ke-89, memaksa laga berlanjut ke perpanjangan waktu.
Babak tambahan menjadi panggung kontroversi. Pada menit ke-101, tembakan Hurst mengenai mistar gawang dan memantul ke bawah. Wasit Gottfried Dienst berkonsultasi dengan hakim garis asal Uni Soviet, Tofiq Bahramov, yang memutuskan bola telah melewati garis. Keputusan ini memicu protes keras pemain Jerman Barat, namun gol tetap disahkan. Hurst kemudian mencetak gol keempatnya di menit akhir, menyelesaikan hattrick pertama dalam sejarah final Piala Dunia.
Bagi Indonesia, final 1966 mengingatkan pada euforia sepak bola global yang mampu menyatukan jutaan pasang mata. Meski saat itu Indonesia belum memiliki koneksi televisi massal, pertandingan ini menjadi tonggak sejarah bagaimana sepak bola mampu menciptakan narasi heroik dan kontroversi yang bertahan lintas generasi. Momen seperti gol kontroversial Hurst kerap menjadi perbandingan ketika teknologi garis gawang dan VAR belum ada, sebuah pengingat betapa sepak bola modern telah berubah.
Pelatih Inggris Alf Ramsey dengan bangga menyatakan timnya layak juara. "Saya tidak punya rasa takut selama 90 menit. Orang tidak menyadari bahwa pemain Inggris adalah pemain hebat. Butuh tim besar untuk mengalahkan kami, karena kami adalah tim besar," ujarnya usai laga. Di sisi lain, Beckenbauer mengakui Inggris pantas menang meski Jerman Barat memberikan perlawanan sengit. "Kami bukan favorit. Merupakan kebanggaan bisa mencapai final dan mampu membuat Inggris bekerja keras," kata legenda Jerman itu.
Komentator BBC Kenneth Wolstenholme mengabadikan momen gol terakhir Hurst dengan kalimat ikonik: "Some people are on the pitch! They think it's all over... It is now!" Frasa ini kemudian melegenda dan bahkan menjadi judul kuis olahraga televisi Inggris. Pertandingan itu juga mencatatkan rekor penonton televisi global terbesar sejak pemakaman Winston Churchill, dengan estimasi 400 juta pemirsa di seluruh dunia.
Kini, enam dekade berselang, warisan final 1966 tetap hidup. Hattrick Hurst baru disamai oleh Kylian Mbappe di final Qatar 2022. Sementara itu, rekor Helmut Schon sebagai pelatih dengan jumlah laga Piala Dunia terbanyak (25 pertandingan) masih bertahan. Pertanyaan yang tersisa: akankah ada final Piala Dunia lain yang mampu menyamai drama dan kontroversi laga Wembley tersebut?



