BOJ Siap Beralih ke Mode ‘Pemburu Inflasi’ pada Desember, Suku Bunga Berpotensi Naik Lebih Cepat
Baca dalam 60 detik
- Bank of Japan diperkirakan akan mengubah pendekatan kebijakan moneter dari toleran terhadap inflasi menjadi agresif menekan kenaikan harga mulai Desember mendatang.
- Gelombang inflasi ketiga yang dipicu konflik Timur Tengah, ditambah kenaikan upah dan harga beras, mendorong inflasi inti Jepang mendekati target 2%.
- Jika perundingan upah tahun depan menunjukkan kenaikan signifikan, BOJ akan menaikkan suku bunga setiap kuartal, mempercepat laju dari saat ini yang hanya dua kali setahun.

Bank of Japan (BOJ) diprediksi akan mengubah haluan kebijakan moneter dari sikap toleran terhadap inflasi menjadi lebih agresif dalam menekan laju kenaikan harga, sebuah langkah yang dapat terjadi paling cepat pada Desember tahun ini. Perubahan ini akan membawa implikasi besar pada percepatan kenaikan suku bunga, menurut Tsutomu Watanabe, mantan pejabat bank sentral yang kini menjadi profesor emeritus ekonomi di Universitas Tokyo.
Watanabe mengidentifikasi bahwa Jepang saat ini menghadapi gelombang inflasi ketiga yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah, setelah gelombang pertama akibat perang Ukraina dan gelombang kedua yang didorong oleh kenaikan upah domestik serta melonjaknya harga beras. Meskipun gelombang ketiga diperkirakan lebih moderat—dengan inflasi konsumen inti (tidak termasuk makanan segar dan energi) mencapai puncak sekitar 3% pada Maret tahun depan sebelum kembali ke target 2%—Watanabe menekankan bahwa kekhawatiran sebenarnya terletak pada inflasi inti yang terus meningkat dan kini mendekati 2%.
"Yang menjadi masalah adalah inflasi inti yang jelas-jelas naik dan kini cukup dekat dengan 2%," ujar Watanabe dalam sebuah wawancara, merujuk pada ketatnya pasar tenaga kerja dan kenaikan upah yang mendorong ekspektasi inflasi. Tekanan harga yang semakin kuat ini, menurutnya, memerlukan perubahan pendekatan Gubernur BOJ Kazuo Ueda yang selama ini cenderung lamban dalam menaikkan suku bunga dan toleran terhadap kenaikan harga.
Watanabe memperkirakan bahwa jika BOJ tetap pada jalur lambat saat ini, inflasi inti bisa melonjak hingga 2,2% sekitar Juli tahun depan. "Itu akan menjadi masalah serius dan bisa memaksa BOJ untuk menaikkan suku bunga secara agresif di kemudian hari, sesuatu yang jelas ingin dihindari," katanya. Ia menambahkan bahwa BOJ kemungkinan besar sudah sadar akan perlunya beralih dari pendekatan 'pasif' yang toleran terhadap kenaikan harga menjadi 'aktif' yang fokus pada pengendalian inflasi.
Kunci dari pergeseran ini adalah prospek upah tahun depan. Watanabe menjelaskan bahwa jika hasil perundingan antara serikat pekerja dan kelompok bisnis menunjukkan kenaikan upah yang setara dengan tahun-tahun sebelumnya, BOJ akan segera mengaktifkan mode 'pemburu inflasi' pada Desember. Di bawah rezim baru ini, bank sentral diperkirakan akan menaikkan suku bunga setiap kuartal, lebih cepat dibandingkan laju saat ini yang hanya sekitar dua kali setahun.
Bagi Indonesia, perubahan kebijakan BOJ ini patut dicermati. Jepang merupakan mitra dagang utama dan investor signifikan di Indonesia. Kenaikan suku bunga yang lebih agresif di Jepang berpotensi memicu arus modal keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, serta memperkuat yen yang dapat mempengaruhi daya saing ekspor Indonesia. Selain itu, pengalaman Jepang dalam mengelola inflasi setelah puluhan tahun bergulat dengan deflasi memberikan pelajaran berharga bagi bank sentral di kawasan, termasuk Bank Indonesia, dalam merancang respons kebijakan yang tepat di tengah tekanan harga global.
Watanabe memperingatkan bahwa pertempuran Jepang melawan inflasi bisa lebih menantang dibandingkan negara lain. "Pasar mempertanyakan apakah BOJ benar-benar memiliki tekad dan kemampuan untuk mengendalikan inflasi di sekitar 2%. BOJ perlu mengirimkan pesan yang jelas bahwa mereka akan menetapkan kebijakan moneter di bawah aturan yang berbeda," ujarnya. Ia menutup dengan pernyataan tajam: "BOJ berhasil melepaskan jangkar inflasi dari nol. Namun tantangan untuk menjangkar ulang inflasi ke 2% baru saja dimulai."



